Saat suasana makan malam itu sedang begitu hangat dan romantis, seorang wanita berpenampilan elegan mendekati meja mereka. Wanita itu tinggi, rambutnya pirang kecokelatan bergelombang jatuh sampai punggung, gaun hitam berpotongan mewah dan parfum mahal yang menusuk halus mengikuti tiap langkahnya. “Elvan?” suara itu terdengar lembut namun penuh percaya diri. Elvan yang sedang menggenggam tangan Cindera langsung menoleh. Seketika ekspresinya berubah—tidak kaget, tapi jelas tidak nyaman. Wanita itu tersenyum manis. “Aku nggak salah lihat kan? Kamu Elvan Wiratama?” Cindera cepat-cepat menarik tangannya dari genggaman Elvan, menunduk sopan meski dadanya tiba-tiba menghangat karena gugup. Elvan berdiri perlahan, wajahnya kembali datar dan dingin. “Alexa,” ucapnya singkat. Wanita itu ter

