Malam itu, Elvan duduk sendirian di balkon apartemennya, menatap kota yang gemerlap dengan segelas kopi yang sudah dingin di tangan. Pikirannya kacau. Sudah beberapa hari ini Cindera bersikap dingin, seolah-olah jarak di antara mereka semakin lebar. Senyum hangat yang dulu selalu menyambutnya kini berganti dengan tatapan kosong. Ponselnya berdering—sebuah panggilan dari Dion, sahabat lamanya. “Bro, udah lama banget lo ngilang. Ayo ikut kita ke klub malam, sekadar ngilangin stres!” Elvan menatap layar beberapa detik, ragu. Biasanya dia akan menolak, tapi malam ini hatinya terlalu sesak. “Baiklah, kirim lokasinya.” Tak lama kemudian, Elvan sudah berada di dalam mobil sport-nya menuju pusat hiburan malam kota itu. Musik berdentum, lampu neon berkilau, dan aroma alkohol bercampur parfu

