Riana menatap Danica dengan lirih. Ia tersenyum membayangkan wajah seorang lelaki, ayah dari Daniela. Lelaki yang sangat dikenal baik oleh sang sahabat.
Napas panjangnya terurai, “Aku … mengenai ayah kandung Daniela, aku memang sudah berkali-kali ingin mengatakan mengenai keadaan Daniela.”
“Tapi … aku sungguh takut dia marah dan justru menyakiti kami berdua. Aku … sudahlah, aku tidak ingin mengganggunya, Danica. Dia sudah punya kehidupannya sendiri.”
Wajah Danica berubah serius, “Kalau dia berani menyakitimu dan Daniela, akan aku bawa pasukanku dan mendatanginya. Akan kubawa dia ke kandang cobra di rumah dan pastikan dia menyesali perbuatannya!” desis putri mafia itu tanpa ada gurat canda sedikit pun.
Riana tertegun, napas kian memburu karena tidak tahu bagaimana cara mengatakan pada Danica bahwa semua itu tidak mungkin dilakukan.
Namun, Nona Muda Lycenzo terus mendesak, “Minimal, kamu menghubunginya terlebih dahulu. Aku tahu ini sulit, tapi kamu butuh semua dukungan yang ada. Dia harus bertanggung jawab terhadap darah dagingnya sendiri!”
“Aku tidak peduli dia sudah memiliki kehidupannya sendiri! Aku tidak peduli kalau dia sudah memiliki anak dan istrinya sendiri! Tetap saja dia adalah ayah biologis Daniela, dan dia harus bertanggung jawab, titik!”
Rasa iba serta prihatin telah membuat Danica benar-benar emosi. “Katakan padaku, siapa ayahnya? Aku akan menyeretnya kemari untuk bertanggung jawab! Kalau dia menolak, aku bersumpah akan meledakkan kepalanya!”
Riana kian sulit menelan cairan di dalam mulutnya. Ia menggeleng, menyeka satu butir air mata di pipi dan berkata lirih, “Aku sungguh menghargai kepedulianmu. Tapi, aku sungguh takut mengganggunya.”
“Aku akan berjuang dulu hingga titik darah penghabisan. Jika semua jalan sudah tertutup, baru aku mungkin … hanya mungkin, baru aku mungkin akan menghubunginya.”
Danica menghela panjang dan berat, “Ya, sudahlah, terserah kamu saja. Pokoknya, aku ada di sini untukmu, dan untuk putri baptisku itu. Jangan ragu meminta bantuan padaku, ya?”
Keduanya berpelukan, Riana menangis pelan di pundak sahabatnya tersebut. Seandainya saja dia bisa mengatakan yang sesungguhnya ….
***
Pesawat jet pribadi klan Lycenzo akhirnya menyentuh landasan pacu bandara khusus di New York dengan pendaratan yang sangat mulus, menandai kembalinya Zalma dan Dantheo ke pusat dunia mereka.
Begitu pintu pesawat terbuka, udara New York yang segar menyambut mereka, membawa aroma kebebasan yang sudah dirindukan oleh Zalma selama tiga bulan terakhir saat ia masih di London. Mereka langsung memasuki mobil dan bergerak menuju Lycenzo Mansion.
"Selamat datang kembali di rumah, anak-anakku!" seru Zefanya seraya merentangkan tangannya lebar-lebar. Wajahnya sangat senang dan bahagia melihat putra bungsunya datang bersama istri serta kedua bayi kembar.
Tanpa membuang waktu, Zefanya langsung menghampiri Zalma dan mengambil alih Draco dari gendongannya, sementara Sean dengan bangga menggendong Draven.
Suasana di rumah mewah itu mendadak penuh dengan suara tawa dan kecupan sayang yang mendarat di pipi mungil kedua bayi kembar tersebut.
Sean menimang Draven dengan penuh rasa sayang, menatap garis wajah cucunya yang sangat mirip dengan Dantheo, sementara Zefanya terus menggumamkan pujian tentang betapa tampannya Draco.
“Mereka benar-benar Lycenzo sejati, mereka akan tumbuh menjadi sekuat aku, dan juga sekuat kamu,” senyum Tuan Besar Lycenzo pada putranya.
Dantheo mengangguk, “Aku akan senang sekali jika mereka tumbuh menjadi jagoan dan membawa nama keluarga kita semakin tinggi serta ditakuti musuh.”
Zefanya langsung mengajak Zalma menuju lantai dua dengan langkah yang sangat bersemangat. Di sana, sebuah ruangan luas telah disulap menjadi kamar bayi yang megah, tetapi tetap terasa hangat dengan dekorasi bernuansa awan dan bintang.
Sang mertua juga memperkenalkan tiga wanita berseragam rapi yang berdiri dengan sikap hormat di sudut ruangan.
"Zalma, ini adalah tiga baby sitter terbaik yang sudah Mommy sewa khusus untuk membantu menjaga Draco dan Draven," jelasnya seraya membelai lengan menantu cantik berambut pirang.
"Mereka sudah melalui seleksi yang ketat serta memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam merawat bayi kembar. Mommy ingin kamu benar-benar bisa beristirahat dan memulihkan tenagamu tanpa harus merasa kelelahan mengurus segalanya sendirian."
Ketiga baby sitter itu membungkuk hormat sekaligus menyapa, “Kami siap menjaga kedua Tuan Muda Lycenzo dengan segenap hati, siap menerima perintah dari Nyonya Alma.”
Zalma mengangguk, lalu menatap sekeliling ruangan dengan perasaan haru, merasa sangat dihargai dan disayangi oleh keluarga suaminya. "Terima kasih banyak, Mommy.”
“Aku benar-benar merasa terharu dengan semua perhatian dan persiapan yang sedemikian detail ini. Rasanya seperti saat masih di London bersama Mommy Vivi. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi selain merasa sangat beruntung memiliki mertua seperti Mommy."
Tiba-tiba, Danica muncul dari balik pintu kamarnya dengan gaya enerjik yang khas dan langsung menghambur untuk memeluk kakak iparnya dengan erat.
"Selamat datang kembali ke New York, Kakak Ipar kesayanganku! New York terasa sangat sepi tanpa kehadiranmu! Tidak ada lagi yang memaki Dantheo, berkurang sudah satu hiburanku kalau kamu pergi!” gelaknya berguaru.
Zalma tertawa, menyambut dengan pelukan yang sama hangat. “Aku juga merinduknmu, Danica! Maaf, karena aku tidak datang di pembukaan klub malammu. Aku dengar acaranya luar biasa sukses! Congrats, ya!”
Danica melepaskan pelukannya dan menatap Zalma dengan penuh semangat. "Kamu harus segera datang ke klub malam terbaruku, The Obsidian Throne, jika kamu sudah tidak merasa lelah dan jetlag lagi.”
“Aku akan menyiapkan booth terbaik untukmu agar kamu bisa melihat betapa megahnya tempat itu sekarang.”
Kembaran Dantheo itu terkikik. “Aku juga akan menyiapkan minuman terbaik tanpa alkohol. Kamu sedang menyusui, bukan? Tidak boleh minum alkohol, nanti keponakanku mabuk semua!”
Zalma tertawa mendengar antusiasme adik iparnya tersebut. “Hell, yeah! Aku tidak akan minum alkohol sampai dua tahun ke depan karena aku menyusui mereka!"
“Aku juga sudah tidak sabar untuk melihat klub malam terbaru milikmu itu. Dantheo sudah bercerita banyak tentang kesuksesan pembukaannya, sekarang aku ingin merasakannya sendiri secara langsung."
Mendengar Zalma menyatakan ketidaksabarannya untuk mengunjungi The Obsidian Throne, hati Dantheo yang berdiri di dekat jendela seketika bergemuruh hebat.
Di balik wajahnya yang tenang dan dingin, tersimpan kegelisahan yang sangat dalam karena ia tahu betul ada Riana di sana. Tahu kalau wanita yang bersahabat dengan kembarannya itu sekarang bekerja sebagai manajer di sana.
Pikirannya melayang kembali pada pertemuan mereka saat pembukaan klub, sebuah pertemuan yang memaksanya mengingat kembali malam panas tiga tahun lalu, tepat satu minggu sebelum ia bertemu dengan Zalma.
Saat itu, ia menganggap kegiatannya bersama Riana hanyalah urusan ranjang biasa yang tanpa komitmen, tetapi sekarang keberadaan wanita itu terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Apalagi, setelah Dante melihat Riana bersama seorang anak perempuan yang memiliki wajah sedemikian mirip dengannya. Hati lelaki mana yang tidak berdenyut kencang kalau begini?
Dantheo tetap diam, menahan gemuruh di d**a dengan sangat rapat. Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang tahu mengenai hubungan ranjang rahasianya dengan Riana di masa lalu.
Ia memilih untuk memendam semuanya, berharap bahwa masa lalu tetaplah menjadi masa lalu yang tidak akan pernah menyentuh kebahagiaannya bersama Zalma.
***
Waktu berjalan dengan cepat, dan besok lusa yang direncanakan pun tiba. Sekitar jam sembilan malam, Zalma sudah berdiri di depan cermin besar kamarnya, mengenakan gaun pendek berwarna hitam yang sangat elegan, tetapi tetap menonjolkan kesan seksi pada tubuhnya yang sudah kembali cukup ramping pasca melahirkan.
Ia memoles bibirnya dengan warna merah berani, memberikan kesan wanita berkuasa yang tidak bisa diremehkan. Bersama Dantheo yang tampil sangat maskulin dengan kemeja hitam yang pas di tubuhnya, mereka berangkat menuju The Obsidian Throne.
Di mana bagi Dantheo, keberangkatan ini tidak ubahnya seperti hendak naik ke tiang gantungan. ‘Semoga aku tidak bertemu lagi dengan Riana malam ini. Dan semoga Zalma tidak pernah bertemu dengan baik Riana atau pun Daniela.’
‘Aku yang pengecut ini terlalu takut untuk bertanya pada Riana siapa ayah Daniela yang sebenarnya, terlalu takut jika kebenaran justru menempatkan diriku pada sebuah posisi tersulit yang pernah ada.’
Begitu mereka memasuki area VIP klub malam tersebut, suasana riuh dan musik yang berdentum mantap langsung menyambut mereka. Di dalam booth khusus, Tristan dan Christian sudah duduk bersantai sembari menikmati minuman mereka.
"Selamat datang kembali di New York, Zalma! Kota ini merindukan sentuhan dari sang pemilik Essential Plus," ujar Tristan seraya memberikan pelukan singkat pada adik iparnya.
Christian ikut berdiri dan menjabat tangan Zalma dengan hangat. "Selamat atas kelahiran anak kembar kalian. Aku sudah melihat foto mereka, mereka benar-benar jagoan Lycenzo yang sangat mengesankan."
“Nantinya, anak kembar kalian, Severian, dan Keane akan menjadi kekuatan utama Klan Lycenzo!” tandasnya.
"Terima kasih, Tristan, Christian. Aku senang bisa kembali ke sini dan melihat kalian semua dalam keadaan baik," jawab Zalma seraya duduk di samping Dantheo. “Dan klub malam ini ternyata sungguh mewah, ya! Danica benar-benar sukses!”
Tak lama kemudian, Danica datang menyapa dengan wajah yang berseri-seri, langsung ikut bergabung di dalam booth VIP tersebut. Mereka mulai bersenda gurau, menceritakan berbagai hal yang terjadi selama Zalma berada di London.
Meskipun suasana di sekelilingnya terasa sangat ramai dan menyenangkan, hati Dantheo sama sekali tidak pernah tenang. Sejak awal mereka tiba, matanya terus menyapu pandang ke seluruh penjuru klub, mencari sosok Riana.
Ia terus berharap di dalam hati bahwa malam ini Riana sedang tidak bertugas atau setidaknya tidak akan melintas di area VIP.
Namun, harapan Dantheo harus pupus saat ia melihat sosok wanita berambut cokelat kepirangan melintas tidak jauh dari booth mereka.
Riana ….
Manajer klub malam itu tampak sedang berjalan bersama seorang teknisi, memberikan instruksi tegas sembari menunjuk ke arah instalasi lampu di langit-langit, seolah-olah sedang memerintah untuk membenarkan sesuatu yang tidak berjalan sempurna.
"Riana! Sini sebentar!" panggil Danica dengan suara nyaring, memanggil sang sahabat sekaligus manajer kepercayaannya tersebut untuk bergabung sejenak.
Riana menoleh karena merasa namanya dipanggil. Saat ia memutar tubuhnya, mata secara tidak sengaja beradu pandang dengan Dantheo.
Selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, mereka berdua saling pandang dalam keheningan yang menyesakkan, membawa beban rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun di ruangan itu.
Namun, keduanya sangat cepat mengalihkan pandangan seolah tidak terjadi apa-apa. Terutama Riana, karena segera menyadari keberadaan seorang perempuan pirang bermata biru yang sangat cantik duduk tepat di sebelah Dantheo.
Ia tahu itu adalah Zalma, istri sah pria yang pernah berbagi malam panas dengannya lebih dari satu kali, baik dalam keadaan mabuk maupun sadar sepenuhnya.
“Riana! Cepat kemari! Bergabunglah dengan kami sebentar!” seru Danica lagi.
Tristan ikut menyeru, “Ya! Lupakan sejenak pekerjaan! Kemarilah dan minum bersama kami sebentar!”
Christian menyenggol siku saudaranya sambil terkekeh dan berbisik, "Awas, jangan membayangkannya lagi di atas ranjang! Nanti kamu mabuk dan h***y tidak pada tempatnya!”
Dua pemuda itu tertawa terbahak sementara Dantheo justru merasa detak jantungnya terlalu kencang hingga menyakitkan d**a.
Riana melangkah mendekat dengan ketenangan dan senyum manis, meskipun dadanya terasa sesak melihat Dantheo bersama sang istri yang cantik sekali.
Ia menyapa semua pria yang ada di booth VIP tersebut dengan nada suara sopan, tetap menjaga jarak.
"Selamat malam, semuanya," ucap Riana seraya berdiri dengan tegak di hadapan mereka. “Apa semua yang dipesan sudah keluar?”
Tristan menjawab sambil menatap lekat, “Sudah keluar semua. Bagaimana kabarmu malam ini? Kamu terlihat sangat cantik.”
Riana hanya tersenyum dann tertawa kecil mendengar pujian itu. “Terima kasih, Tristan. Kamu juga terlihat sangat tampan malam ini.”
Danica segera berdiri dengan penuh semangat, ia merangkul bahu Riana dan berniat untuk memperkenalkannya secara resmi kepada ….
"Zalma, perkenalkan, ini adalah Riana Maxwin. Dia adalah sahabat terbaikku, sekaligus manajer utama di The Obsidian Throne dan orang kepercayaanku.”
“Riana, ini adalah Zalma, kakak iparku yang baru saja kembali dari London. Dia adalah istrinya Dantheo."
Lelaki yang disebut namanya menatap lekat pada mantan teman tidurnya, menahan napas saat perkenalan itu mulai terjadi.
Zalma berdiri, menjulurkan tangan, “Hai, aku Zalma, istri Dantheo.”
Lalu, Riana harus memperkenalkan diri sebagai apa? Sebagai teman, sebagai teman ranjang, atau sebagai wanita yang memiliki ….