Ch.03 Menguras Tabungan

1766 Kata
Udara pagi di London yang berkabut menjadi saksi bisu persiapan kepulangan keluarga kecil yang sangat berpengaruh ini menuju Amerika. Di depan lobi utama Yan’s mansin yang megah, deretan bodyguard sudah bersiap mengawal dua putra dan putri mafia yang paling ditakuti sekaligus paling banyak musuh itu menuju bandara. Dantheo berdiri dengan gagah mengenakan mantel wol panjang berwarna gelap, tangannya dengan sangat hati-hati menggendong Draco yang sedang tertidur lelap dalam balutan selimut tebal. Di sampingnya, Zalma mendekap Draven yang sesekali menggeliat pelan di dalam pelukannya. Sesekali ia ciumi kening putranya yang sedang tertidur lalap. Keluarga besar Yan sudah berkumpul di teras untuk melepas keberangkatan mereka, menciptakan suasana haru yang kental. Vivi Yan memeluk putrinya, kemudian mengecup kening cucu yang sedang tertidur lelap. Tatapnya sudah menunjukkan kerinduan meski sang pemilik rambut pirang belum berangkat. "Dengarkan Mommy baik-baik, Zalma. Sekarang statusmu bukan lagi sekadar putri klan Yan atau istri seorang Lycenzo, kamu sudah menjadi seorang ibu bagi dua nyawa kecil ini," ucap Vivi dengan nada suara lembut. "Menjadi ibu berarti kamu harus memiliki kesabaran yang jauh lebih luas daripada sebelumnya. Apa pun yang terjadi nanti, kamu harus selalu mengutamakan anak-anak dan keutuhan keluargamu di atas segalanya, di atas egomu, dan di atas amarahmu.” “Jika suatu saat ada masalah yang datang menghampiri rumah tanggamu, jangan pernah membiarkan pikiranmu langsung melompat pada kata perpisahan. Karena kamu tidak hidup sendiri lagi, kamu sudah memiliki dua malaikat kecil yang harus dipikirkan dalam mengambil semua tindakan.” Zalma mengangguk pelan, ia merasakan butiran air mata mulai menggenang di pelupuk matanya mendengar nasihat tulus tersebut. "Aku mengerti, Mommy. Aku berjanji akan menjadi ibu yang baik dan menjaga kebahagiaan Draco serta Draven dengan seluruh hidupku." Nyonya Besar Yan kemudian beralih menatap menantunya, tersenyum dan memberi nasihat yang sama. "Dantheo, kamu adalah nakhoda bagi keluarga kecil ini.” “Sebagai seorang ayah, kamu akan dituntut untuk menjadi jauh lebih bijak dalam mengambil setiap keputusan dan dalam membangun fondasi rumah tanggamu.” “Dunia di luar sana sangat kejam, dan tantangan akan selalu ada. Namun, jika masalah datang mengetuk pintumu, segera cari solusi terbaik dengan kepala dingin.” Ia mengulang apa yang dikatakan pada putrinya barusan. “Dan ingat, ya. Jangan pernah sekali-kali menjadikan kata pisah sebagai solusi instan untuk setiap pertikaian.” “Anak muda jaman sekarang terlalu mudah mengatakan kata pisah seakan mereka tidak memiliki keluarga dan hati lain untuk dijaga. Ingatlah, bahwa ada dua jagoan kecil yang sangat membutuhkan sosok Daddy dan Mommy yang kokoh sebagai pelindung mereka." "Aku akan selalu mengingat pesan Mommy barusan, terima kasih atas perhatiannya," jawab Dantheo dengan suara baritonnya yang mendayu, menganggukkan kepala sebagai penghormatan pada sang mertua. "Aku akan menjaga Zalma dan anak-anakku lebih dari aku menjaga nyawaku sendiri. Terima kasih atas semua dukungan kalian selama kami berada di sini." Setelah sesi berpelukan erat yang dipenuhi dengan doa-doa keberkatan dari seluruh keluarga, Zalma dan Dantheo akhirnya melangkah masuk ke dalam kendaraan mewah yang sudah menunggu. "Aku benar-benar tidak sabar untuk kembali ke New York, Hubby," ujar Zalma seraya menggenggam tangan suaminya dengan erat. "Rasanya seperti memulai babak baru yang sangat nyata dalam hidup berdua denganmu. Menjalani hari-hari di rumah kita, melihat anak-anak tumbuh di sana, dan mulai kembali mengelola perusahaanku. Aku merasa hidupku akan kembali lengkap setelah kita mendarat nanti." Dantheo mengecup punggung tangan istrinya dengan penuh kasih. "New York sudah menunggu ratunya kembali, Princess. Semuanya akan jauh lebih baik karena kita menjalaninya bersama-sama sebagai satu keluarga yang utuh." Mobil pun melaju kencang meninggalkan Yan’s Mansion menuju bandara khusus di London, tempat jet pribadi klan Lycenzo sudah menunggu untuk membawa mereka melintasi samudera menuju rumah mereka yang sebenarnya. *** Sementara itu, di belahan dunia yang berbeda, suasana yang sangat sedih sedang menyelimuti sebuah ruangan administrasi di rumah sakit khusus kanker anak di New York. Riana duduk dengan wajah kusut. Matanya sembap karena tangis yang tidak kunjung berhenti sejak pagi tadi. Di depannya, tersaji beberapa lembar kertas persetujuan medis yang harus segera ia tandatangani agar pengobatan awal untuk Daniela bisa segera dilakukan tanpa penundaan lebih lama lagi. "Nyonya Maxwin, ini adalah rencana perawatan tahap pertama untuk Daniela," jelas staf medis yang bertugas dengan nada bicara yang datar namun sopan. "Karena kondisi neuroblastoma ini sudah menunjukkan aktivitas yang agresif di area adrenal, tahap pertama yang akan kita lakukan adalah induksi kemoterapi.” Riana terdiam, membayangkan tubuh semungil itu sudah harus menjalani kemoterapi, dimasukkan cairan sedemikian keras … bisakah hatinya tidak remuk? Sepertinya tidak bisa. “Ini akan dilakukan dalam beberapa siklus yang sangat intensif selama beberapa minggu ke depan. Estimasi biaya untuk tahap awal ini, termasuk biaya rawat inap di ruang isolasi khusus, obat-obatan kemoterapi dosis tinggi, dan berbagai tes laboratorium harian, mencapai angka tiga ratus lima puluh ribu dollar." Riana merasa dadanya sesak melihat angka tersebut, tetapi tanpa ragu, meski sesesak apa pun, ia segera mengambil pena dan menandatangani kertas-kertas tersebut tanpa ragu sedikit pun. Nyawa Daniela tidak bisa diukur dengan angka apa pun di dunia ini. Begitu kertas berpindah tangan kembali ke staf rumah sakit, Riana langsung membuka aplikasi mobile banking di ponselnya dengan jemari yang gemetar. Ia melakukan transfer deposit pertama ke rekening rumah sakit sesuai permintaan bagian administrasi. Hatinya menjerit perih saat melihat deretan angka di saldo tabungannya menyusut secara drastis dalam sekejap mata, meninggalkan jumlah yang semakin kritis untuk kelanjutan hidupnya ke depan. Setelah menyelesaikan urusan administrasi yang menyiksa itu, Riana kembali ke kamar perawatan Daniela. “Sudah selesai?” tanya wanita renta berambut putih, dialah Nyonya Natalie Maxwin, ibu Riana. “Uangmu cukup?” Senyum kecut terpulas di bibir mantan foto model tersebut. “Untuk saat ini masih cukup, Mom. Untuk selanjutnya, entahlah. Aku sudah berpikir untuk menjual apartemen kita dan pindah ke yang lebih kecil, lebih murah.” Nyonya Natalie menatap lirih, “Semoga Tuhan mempermudah semua untuk kita. Mommy tidak tega melihat Daniela terus kesakitan.” Riana hanya mengangguk dan mengecup kening putrinya. Bocah itu menatap ibunya sambil tersenyum polos. Saat melihat sang bunda meneteskan air mata, ia berbisik, “Mommy jangan menangis.” Lalu, jemari Daniela membelai pipi basah sang bunda dan mencubitnya gemas sambil berkata lagi, “Mommy jangan menangis.” Riana tertawa lirih, tahu ini adalah kebiasaan yang sering dia lakukan saat putrinya menangis. Dia akan mencubit gemas pipi tembem dan nyempluk itu, lalu berkata, “Daniela jangan menangis.” Nyonya Natalie mengusap punggung putrinya, seakan menguatkan. Kemudian, ia mencium kening cucu cantik dan pamit, “Mommy pulang dulu, ya? Ayahmu kasihan terlalu lama sendiri di rumah.” “Ya, Mom, pulanglah. Aku akan menjaga Daniela. Aku sudah minta cuti beberapa hari pada Danica.” Suasana kembali hening di kamar. Daniela menonton kartun di tablet pintar sementara Riana memandangi ponsel, menghitung aset yang dia punya mulai dari apartemen hingga perhiasan dan kendaraan. Berpikir untuk menjual semuanya, tetapi masih jauh dari kata tiga juta dollar yang dibutuhkan selama dua tahun ke depan. “Apa aku pinjam Danica, ya? Uang tiga juta dollar seharusnya kecil baginya. Dia punya puluhan kali lipat dari itu,” pikirnya. Namun, kemudian ia menggeleng. Kemarin saja dia tidak jadi menelepon Dantheo dan berbicara apa yang harus dibicarakan. Mana mungkin dia justru membebani kembarannya yang merupakan kembaran Dantheo tersebut dengan keadaan Daniela. Sekian waktu kemudian, suara pintu diketuk terdengar. “Ya, masuk!” Pintu kamar terbuka perlahan, dan masuklah sosok yang sangat ia kenal. Danica Lycenzo melangkah masuk dengan raut wajah dipenuhi kesedihan sangat mendalam. Kembaran Dantheo itu langsung memel sahabatnya, lalu menghampiri ranjang tempat Daniela terbaring lemah, terhubung dengan selang infus yang nampak terlalu besar untuk tangan mungilnya. "Ya Tuhan, Daniela Sayang ... kuatlah ya, " gumam Danica seraya membungkuk untuk mencium kening dan kedua pipi balita itu dengan penuh kasih sayang. Melihat anak baptisnya berada dalam kondisi sedemikian sakit membuatnya ingin menangis. Danica kemudian mengeluarkan sebuah boneka beruang berbulu sangat lembut berwarna merah muda dari balik punggungnya. "Lihat apa yang dibawa Aunty Danica untukmu, Sayang? Ini adalah Teddy yang akan menjagamu selama kamu beristirahat di sini. Dia akan menemanimu agar kamu tidak merasa sendirian." Mata Daniela yang sayu mendadak berbinar sedikit saat melihat boneka cantik untuknya. Ia memeluk beruang merah muda itu dengan sisa-siku tenaganya dan menggumamkan terima kasih yang sangat lirih. “Thank you, Aunty Danica.” Adik kembar Dantheo itu lalu mengelus rambut cokelat Daniela dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk. Ia berbisik lirih, “Daniela adalah anak yang hebat dan kuat. Kamu pasti bisa sembuh. Kita akan bermain setelah kamu sembuh, ya?” Riana menyaksikan semua itu dengan berkali-kali mengembus napas panjang bersama hidung yang sudah basah. Ia berucap sambil menahan tangis yang hampir pecah. “Terima kasih, Danica. Kamu sungguh sahabat terbaikku.” Nona Muda Lycenzo duduk di kursi besi, berdampingan dengan ibu satu anak tersebut. Matanya menatap lirih, lalu berkata,"Riana, katakan padaku yang sejujurnya," bisik Danica seraya menggenggam jemari sahabatnya dengan sangat erat, mencoba memberikan kekuatan. "Bagaimana sebenarnya keadaan Daniela? Apa yang dikatakan dokter tentang penyakitnya? Separah apa dia? Tapi … harapan hidup masih besar, ‘kan?” Riana menatap Danica dengan mata yang berkaca-kaca, bibirnya bergetar hebat saat ia berusaha mengeluarkan suara. "Ini ... ini sangat berat.” “Dokter mendiagnosa Daniela menderita neuroblastoma stadium lanjut. Ada tumor yang tumbuh di perutnya, dan dia harus menjalani kemoterapi intensif mulai malam ini.” Pundaknya mulai berguncang halus, air mata akhirnya turun juga. “Aku ... aku sangat takut, Danica. Aku takut tidak bisa menyelamatkannya. Aku takut malaikat kecilku ini akan pergi dan menjadi malaikat yang sesungguhnya.” Danica menatap Riana dengan pandangan prihatin, ia merasakan kepedihan yang dirasakan sahabatnya seolah adalah penderitaannya sendiri. Ia mempererat genggaman tangannya, mencoba menyalurkan rasa hangat persahabatan di tengah dinginnya ruangan rumah sakit tersebut. "Riana, dengarkan aku baik-baik," ucap Danica dengan nada lirih. “Aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu, atau membuatmu tidak nyaman dengan berbagai pertanyaan ini.” Lalu, ia mengembus napas panjang dan mulai berkata, "Tidakkah menurutmu sekarang adalah saat yang paling tepat untuk memberitahu keadaan Daniela yang sebenarnya pada ayah kandungnya?” “Aku yakin Daniela adalah pejuang yang hebat, tapi saat ini dia membutuhkan semua dukungan yang bisa didapatkan di dunia ini, baik dukungan medis, dukungan finansial, maupun dukungan emosional dari kedua orang tua kandungnya.” Jemari Danica kian menggenggam erat. “Kamu tidak seharusnya memikul beban seberat ini sendirian. Daniela berhak mendapatkan bantuan dari ayahnya, dan pria itu berhak tahu bahwa putrinya sedang berjuang antara hidup dan mati." Riana terdiam membeku mendengar saran sahabatnya barusan, ia menatap wajah Daniela yang sedang memeluk boneka pemberian Danica dengan tatapan yang kosong. Pikirannya kembali melayang pada sosok pria yang sekarang sedang berada dalam penerbangan menuju New York bersama istri sah dan kedua anak kembarnya. Sebuah dilema besar mulai mencabik-cabik nuraninya, antara menjaga janji masa lalu atau menyelamatkan nyawa darah dagingnya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN