Ch.02 Anak Tiga Juta Dollar

2129 Kata
Yan’s Mansion pagi ini diwarnai dengan keceriaan keluarga kecil yang sedang mendulang kebahagiaan. Di tengah ruangan bayi, di atas sebuah karpet bulu yang sangat tebal dan empuk, Dantheo sedang berlutut sembari memperhatikan dua jagoan kecilnya yang sedang asyik menendang-nendang udara dengan kaki mungil mereka. Draco dan Draven, bayi kembar yang baru saja menginjak usia tiga bulan itu tampak sangat menggemaskan dalam balutan pakaian bayi bermotif naga dan ular cobra yang imut, perlambang kedua keluarga mereka. Zalma berasal dari keluarga dan organisasi hitam yang menggunakan naga sebagai lambang, sementara keluarga Dantheo menggunakan lambang cobra sebagai simbol kejayaan. “Yes, Double D, your Daddy is here,” angguk Dante tersenyum dan terkekeh gemas, memanggil dua anak kembarnya dengan sebutan Double D. Draco sesekali mengeluarkan suara celoteh kecil yang tidak jelas, sementara Draven hanya menatap Daddy-nya dengan bola mata yang bulat dan jernih, seolah sedang berusaha memahami sosok pria gagah yang ada di hadapannya. “Mungkin mereka berpikir kenapa pria ini terlihat tampan menawan?" goda sang istri sambil tertawa manja. Zalma duduk di atas sofa, tepat di belakang suaminya, memerhatikan pemandangan di depan dengan perasaan tennag dan bahagia dalam sanubarinya. Melihat Dantheo yang biasanya sangat dingin dan berbahaya di dunia bisnis maupun dunia bawah tanah kini berubah menjadi sosok yang begitu hangat dan penuh kasih di antara anak-anak mereka … pemandangan itu selalu berhasil membuat hati Zalma luluh. Tuan Muda Lycenzo yang keberadaannya masih begitu digilai oleh banyak wanita di New York memang nampak sangat memesona pagi itu. Ia hanya mengenakan kaus santai yang melekat pas di tubuh maskulinnya, memamerkan d**a bidang tempat Zalma paling merasa nyaman. "Mereka tumbuh sangat cepat, bukan?" ujar Zalma seraya melangkah turun dari sofa dan ikut duduk di samping, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami. "Rasanya baru kemarin aku berjuang ketakutan di meja operasi untuk mengeluarkan mereka ke dunia ini, dan sekarang mereka sudah mulai bisa mengenali wajah kita dengan sangat baik." Dantheo menoleh, mengecup pelipis istrinya dengan penuh perasaan sembari tangannya yang lain tetap menggoda perut Draco hingga bayi itu terkekeh tanpa suara. "Indeed, Princess. Kamu benar sekali, waktu sungguh cepat berjalan.” “Mereka memiliki kekuatan klan Yan dan keteguhan klan Lycenzo di dalam darah mereka. Aku bisa melihat bahwa mereka akan menjadi pria-pria yang sangat luar biasa di masa depan nanti.” Ia kembali mengecup kening sang istri seraya berbisik, “Aku berjanji akan memberikan seluruh dunia ini di bawah telapak kaki mereka, dengan kamu sebagai ratu di dunia kami.” Zalma menghela napas panjang, bersiap untuk mengatakan sebuah keputusan yang sudah ia pikirkan matang-matama sejak semalam. "Hubby, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu mengenai rencana kita ke depannya." “Rencana apa?” sahut Dantheo sambil menggendong Draven dan menggoda dengan menggigit lembut pipi sang putra. "Aku merasa sudah cukup berada di London selama tiga bulan terakhir ini bersama Mommy Vivi dan seluruh keluargaku yang lain," ucap Zalma dengan nada yakin. Bibir merah muda alaminya tersenyum. "Meskipun berada di sini sangat menyenangkan dan penuh kehangatan dari mereka, aku tahu tempatku yang sebenarnya adalah di sampingmu.” “Aku mau kembali ke New York saja bersamamu setelah ini. Aku ingin mendampingi suamiku secara langsung dan mulai kembali mengurus Essential Plus sedikit demi sedikit,” tandas Alma menyebut nama perusahaannya. Dantheo menoleh, “Kamu mau kembali bekerja secepat itu?” Kepala berambut pirang tersebut mengangguk. “Aku sudah meninggalkan tanggung jawab di perusahaanku selama empat bulan terakhir karena cuti melahirkan, dan aku tidak ingin membiarkan timku bekerja sendirian terlalu lama tanpa arahanku." Sang suami tertawa kecil, “Well, itu perusahaanmu. Ya, memang kamu CEO-nya, tapi tetap saja, itu perusahaan milikmu sendiri. Kamu bisa datang dan pergi sesukamu, Princess.” Alma ikut tertawa dan berkata, “Aku tahu bahwa aku bebas keluar masuk sesukaku. Tapi, Essential Plus seperti bagian hidupku di mana aku merasa memiliki makna di sana. Jadi, aku ingin mulai mendatanginya lagi sedikit demi sedikit.” “Aku tidak akan meninggalkan anak-anak terlalu lama jika itu yang kamu khawatirkan. Aku akan tetap menomorsatukan mereka. Aku hanya ingin beraktivitas sedikit-sedikit saja dan tidak terus menerus di rumah seperti sekarang.” Ia memeluk leher kokoh sang suami, lalu mencium mesra pipi berjambang tipis. “Dan yang penting, aku ada di satu ranjang terus menerus denganmu, Hubby. Karena bercinta denganmu adalah apa yang membuatku merasa lebih hidup.” Mendengar keinginan istrinya, Dantheo tidak bisa menyembunyikan binar kebahagiaan yang muncul di mata cokelatnya. Ia segera menarik Zalma ke dalam dekapan hangatnya, memberikan pelukan yang hangat. "Princess, kamu tidak tahu betapa bahagianya aku mendengar kamu berkata seperti itu. Berada di New York sendirian tanpa kamu dan anak-anak adalah siksaan yang sangat berat bagiku selama ini.” Tatapnya kian sendu, lalu berucap sambil mengecup kening sang istri. “Aku sangat mendukung keputusanmu. Aku setuju kita kembali ke New York secepatnya." Aku akan segera menghubungi Mommy Zefanya sore ini juga. Aku akan meminta beliau mempersiapkan segalanya di New York untuk kembalinya kamu dan dua anak kembar kita.” "Terima kasih, Hubby. Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu dalam segala hal," balas Zalma seraya memberikan ciuman singkat di bibir suaminya, sebelum kembali beralih bermain dengan anak-anak mereka yang mulai terlihat mengantuk. *** Namun, di belahan bumi yang lain, di tengah hiruk pikuk kota New York yang tidak pernah tidur, suasana yang tidak sebahagia Zalma dan Dantheo sedang terjadi di dalam sebuah kamar rawat inap pasien anak di sebuah rumah sakit swasta terkemuka. Suasana yang Dantheo sama sekali tidak tahu …. Riana duduk di samping ranjang kecil tempat Daniela sedang terbaring lemah dengan berbagai alat pemantau medis menempel di tubuh mungilnya. Ruangan itu terasa sangat sunyi, hanya dipecahkan oleh suara bip dari monitor jantung yang berdetak dengan ritme yang teratur, tetapi tidak pernah bisa membuat hati seorang ibu tenang walau seteratur apa pun bunyi alat-alat pantauan tersebut. Pintu kamar terbuka pelan, dan masuklah seorang pria paruh baya mengenakan jas putih rapi. Dokter Julian namanya, seorang kepala departemen onkologi anak di rumah sakit tersebut. “Selamat sore, Nyonya Riana,” sapa sang dokter sambil melangkah mendekat dengan raut wajah yang menunjukkan empati mendalam. Ia membawa sebuah map besar berisi hasil laboratorium dan berbagai hasil pindai terbaru milik Daniela. Ia menghela panjang dan lanjut berkata sambil menatap pasiennya yang sedang tertidur lelap. “Apa hari ini Daniela mengeluh sakit lagi di perutnya?” "Selamat pagi, Dokter Julian," jawab Riana dengan suara yang sedikit parau karena kurang tidur, lalu menggeleng. "Sejak pagi dia belum mengeluh sakit perut.” “Tapi … bagaimana kondisi Daniela sesungguhnya? Saya benar-benar ingin mendengar penjelasan sedetail mungkin mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada putriku." Dokter Julian menghela napas yang terasa berat, lalu meletakkan map tersebut di atas meja kecil di samping ranjang. "Saya akan menjelaskan secara mendetail, sesuai keinginan Nyonya. Mari, kita duduk sebentar di sofa sana.” Keduanya duduk berhadapan, saling menatap dengan kesedihan di mata masing-masing. Bagi sang dokter, memberi kabar seperti ini tidak pernah mudah. Bagi Riana, setiap kata yang sebentar lagi keluar akan menyayat kewarasannya detik demi detik. “Berdasarkan hasil biopsi dan pemindaian terakhir, Daniela menderita Neuroblastoma stadium lanjut. Ini adalah jenis kanker saraf yang menyerang sel-sel primitif pada janin.” “Dan dalam kasus Daniela, posisinya berada di kelenjar adrenal tepat di atas ginjalnya. Itulah sebabnya dia merasakan nyeri perut yang hebat kemarin dan mengalami demam yang naik turun tidak kunjung reda karena tubuhnya sedang berusaha melawan tumor tersebut." Benar, ‘kan? Setiap kata bagai kilat yang menyambar, bagai pisau yang menguliti batinnya sebagai seorang ibu. Riana meremas jemarinya sendiri, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di sudut pelupuk. "Lalu, apa yang akan tim medis lakukan untuk menyembuhkannya, Dokter?” “Saya akan melakukan apa pun asalkan dia bisa kembali sehat dan ceria seperti dulu lagi. Dia … Daniela adalah semangat hidup saya,” isaknya tertahan, "Rencana penyembuhan Daniela akan dilakukan dalam beberapa tahap yang intensif, Nyonya Maxwin," papar Dokter Julian seraya menunjuk beberapa grafik di dalam laporannya. "Tahap pertama adalah kemoterapi induksi untuk mengecilkan massa tumor tersebut. Setelah tumornya mengecil hingga ukuran tertentu, kita harus segera melakukan tindakan operasi bedah pediatrik untuk mengangkat massa itu secara total.” “Namun, tantangannya tidak berhenti di sana. Kita juga harus melakukan transplantasi sel induk dan terapi radiasi untuk memastikan tidak ada sel kanker yang tersisa di dalam aliran darahnya.” Ia tersenyum kian lirih, menatap kian sendu. “Ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin satu hingga dua tahun untuk proses pemulihan total." Riana mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut dokter tersebut dengan jantung yang semakin sulit berdenyut. Pertanyaan yang paling ia takuti akhirnya harus ia lontarkan demi kepastian masa depan pengobatan Daniela. "Dokter ... mengenai masalah biaya. Kemarin dokter jaga di IGD sempat mengatakan bahwa biayanya bisa mencapai jutaan dollar. Apakah itu benar? Apakah biayanya memang sebesar itu?" Dokter Julian mengangguk pelan, memberikan konfirmasi yang sangat menyakitkan bagi Riana. "Iya, Nyonya. Perkiraan itu benar adanya.” “Mengingat teknologi medis yang kita gunakan, biaya obat-obatan kemoterapi generasi terbaru, biaya ruang operasi, hingga perawatan intensif jangka panjang, biayanya memang sangat besar dan bisa mencapai angka jutaan dollar.” Helaan panjang dan beratnya memperlihatkan dia tidak nyaman berbicara masalah dana. Ia segera berkata, “Untuk masalah teknis pendanaan dan skema pembayaran, Nyonya bisa membicarakannya lebih lanjut dengan pihak administrasi rumah sakit.” Riana merasa dunianya seolah sedang berputar terlalu cepat. Setelah Dokter Julian meninggalkan ruangan, ia segera mengambil ponselnya dengan tangan yang gemetar. Hal pertama yang dilakukan setelah yakin butuh biaya menggila selama satu atau dua tahun ke depan, maka ia menghubungi pihak asuransi kesehatan yang selama ini digunakan, berharap ada titik terang di tengah kegelapan ini. ‘Aku tidak mungkin langsung menghubungi dia, bukan? Aku harus berusaha sendiri dulu,’ lirihnya menghapus air mata yang menetes begitu saja di pipi. Sekian menit kemudian, Riana sudah terlibat dalam percakapan panjang, menjelaskan dengan detail diagnosa Daniela kepada agen asuransi di seberang telepon. "Kami memahami kondisi putri Anda, Nyonya Maxwin," ujar agen asuransi tersebut dengan nada bicara yang terdengar sangat prihatin. "Namun, perlu kami informasikan bahwa polis asuransi yang Anda miliki saat ini memiliki batasan tertentu untuk kasus onkologi kompleks.” “Biasanya, kami tidak bisa me-cover biaya pengobatan secara 100%, terutama untuk prosedur transplantasi dan obat-obatan eksperimental. Kami akan segera mengirimi Anda draft rincian mengenai apa saja yang bisa kami cover dan bagian mana saja yang harus menjadi tanggung jawab pribadi Anda." Lemas sudah rasanya Riana mendengar tidak semua bisa ditanggung oleh asuransi. Tabungannya sudah menipis saat ini, membuatnya harus bekerja di sebuah klub malam sebagai seorang manajer. Dan meski gajinya di sana cukup besar, tetapi masih jauh dari kata jutaan dollar, terlalu jauh. Sekitar enam jam kemudian, sebuah email masuk ke dalam ponsel Riana. Dengan jantung yang terasa seolah ingin melompat keluar dari d**a, tangannya membuka dokumen draft dari pihak asuransi dan membandingkannya secara manual dengan draft estimasi biaya yang baru saja ia terima dari bagian administrasi rumah sakit. Jemari lentik bergerak gelisah di atas layar ponsel, menghitung selisih angka demi angka yang tertera di sana. Kian lama wajahnya kian pucat, kian lama tubuhnya kian lemas. “My God … sebanyak ini?” Mata Riana sontak tergenangi bulir bening saat melihat hasil akhir dari perhitungan tersebut. Total selisih biaya yang harus ia persiapkan sendiri dari kantong pribadinya untuk pengobatan Daniela ke depannya bisa mencapai angka yang sangat mengerikan … tiga juta dollar. Angka itu seolah-olah menjadi vonis mati bagi harapannya. Tabungan yang ia miliki saat ini, sisa-sisa kejayaannya sebagai foto model, tidak akan pernah cukup untuk menutupi bahkan sepertiga dari total biaya tersebut. Menjual apartemen pun tidak akan cukup, paling hanya beberapa ratus ribu dollar saja dapatnya. Riana langsung menangis sesenggukan, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan agar suaranya tidak membangunkan Daniela yang sedang tertidur pulas. Bahunya tersengal hebat karena rasa putus asa serta kebingungan mendalam. Ia menurunkan tangan dari depan wajah yang basah, lalu memandangi paras cantik polos menggemaskan milik Daniela yang nampak sangat tenang dalam tidurnya, tanpa mengetahui bahwa nyawanya sedang bergantung pada selembar kertas berisi angka-angka yang tidak masuk akal. Riana mulai membayangkan skenario terburuk, membayangkan betapa hancurnya hidup jika ia harus kehilangan putri kecilnya hanya karena ia tidak memiliki uang untuk membayar semua pengobatan mutakhir tersebut. "Mommy tidak bisa membiarkanmu pergi, Daniela ... Mommy tidak akan membiarkanmu mati begitu saja," bisik Riana di tengah isak tangisnya yang menyayat hati. "Mommy akan melakukan apa pun. Mommy akan merendahkan diri serendah mungkin di hadapan siapa pun, asalkan kamu mendapat dana tersebut dan … tetap hidup." Di tengah badai emosi yang berkecamuk, pikiran Riana kembali tertuju pada sosok pria yang memiliki segala sumber daya untuk menyelesaikan masalah ini dalam sekejap mata. Pria yang memegang kekuasaan di New York dan memiliki kekayaan yang tidak akan pernah habis hingga tujuh turunan. Denga tangan bergetar, ia membuka aplikasi kontak di ponselnya, jemari bergerak perlahan menyusuri daftar nama hingga ia berhenti pada sebuah nama yang selama ini ia hindari untuk hubungi …. Dantheo Lycenzo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN