bc

Kontrak Gairah Dengan Kakak Mantan

book_age18+
221
IKUTI
2.1K
BACA
revenge
contract marriage
one-night stand
arrogant
stepfather
bxg
kicking
city
friends with benefits
addiction
assistant
substitute
like
intro-logo
Uraian

“Aku hanya ingin belajar bagaimana menjadi wanita yang diinginkan tunanganku … tapi malam itu justru membuatku terjebak dengan pria yang seharusnya tidak pernah kusentuh.”______Leah tidak pernah berpikir bahwa kunjungannya ke sebuah klub seks rahasia akan mengubah seluruh hidupnya. Datang demi mempertahankan hubungan dengan pria yang ia cintai selama bertahun-tahun, Leah justru dipermainkan takdir hingga bertemu Adam—CEO dingin penuh rahasia yang perlahan membuat dunianya berantakan.Adam sendiri telah lama kehilangan gairahnya akibat trauma masa lalu. Tidak ada wanita yang mampu membuatnya merasakan apa pun … sampai Leah tanpa sengaja menyentuhnya malam itu.Sejak pertemuan tersebut, Adam tidak lagi bisa menjauh dari Leah. Terlebih ketika ia mengetahui bahwa wanita itu adalah tunangan adiknya sendiri.Terjebak dalam pertunangan palsu, rahasia kelam, dan hubungan berbahaya yang semakin sulit dikendalikan, apakah Leah dan Adam mampu melawan perasaan yang tumbuh di antara mereka?

chap-preview
Pratinjau gratis
1 . Reaksi Kejantananku
“Sentuh di sini, Tuan. Rasakan bagaimana detak jantungku mulai memburu karena sapuan tanganmu!” Suara Sera sengaja dibuat seserak mungkin demi membangkitkan sesuatu di dalam tubuh Adam. Bibirnya bertengger manis di atas daun telinga Adam yang kini sedang merebah. Gaun tidur satin hitamnya sengaja dibiarkan melorot di satu bahu, mengekspos kulit leher dan dadanya yang halus. Sementara jarinya yang lentik mulai menari di atas tubuh pria itu dengan ritme yang sangat lembut. Beberapa tetes minyak esensial basah membantu jari Sera bergerak. Mulai dari rahang, lalu turun ke d**a bidang Adam dengan ritme yang makin diperlambat. Membelai, mengusap, bahkan kadang menyentuh dengan sedikit penekanan. Semua sesuai dengan instruksi Roy–asisten pribadi Adam–demi mengembalikan sisi liar pria itu. “Jangan pikirkan apa pun, Tuan. Rasakan dan nikmati saja,” bisiknya lagi. Kali ini, wanita itu menurunkan tubuhnya tepat di atas tubuh Adam, hingga deru napasnya yang hangat menerpa permukaan tubuh pria itu. Sera adalah wanita cantik kesekian yang mencoba untuk membuat Adam kembali normal. Dia rupawan, seksi, dan punya jam terbang tinggi membuat lawan jenisnya tak bisa menahan diri. Tatapannya sayu, penuh dengan undangan maut. Sementara jarinya adalah senjata mematikan. Jemari itu kini telah melesak masuk ke dalam celana pendek Adam demi menyetuh pusat terapi malam ini. Satu detik, dua detik, sampai semenit kemudian tidak ada yang terjadi. Napas Sera tertahan ketika menanti keajaiban yang tak kunjung datang. Jemarinya terus mencoba, memberikan stimulasi terbaik yang ia kuasai, tapi target di bawah sana tetap bergeming. Sangat dingin dan seperti tak bernyawa. “b*****t!” Adam mengumpat kesal. Ia hendak beranjak usia menyentak jemari Sera pada tubuhnya. “Jangan panik dulu, Tuan. Fokus saja dulu pada sensasinya,” ucap Sera. “Sensasi sialan!” Pria itu berdiri tegak dengan tangan bersedekap. Napasnya memburu karena harga dirinya sebagai seorang pria rasanya seperti diinjak-injak hingga ke dasar bumi. “Ini sudah hampir satu jam kita melakukan ini. Sia-sia, pergilah!” titahnya. Sera mencoba membenarkan posisi pakaiannya, berusaha tetap tenang walau napasnya ikut memburu. Lalu, menimpali ucapan Adam barusan. "Tubuh Anda mengalami blocking emosional, Tuan. Kalau Anda terus emosi seperti ini, pembuluh darah Anda tidak akan pernah–” “Diamlah dan pergi! Aku ingin sendiri,” sahut Adam kemudian. “Tapi, Tuan. Saya–” “Aku bilang pergi. Minta uangmu pada Roy dan jangan sampai kamu membocorkan semuanya pada orang lain,” kata Adam. Pria itu meraih jubah mandinya, memakai kain itu, lalu menalinya asal. Tatapannya jatuh pada deretan gedung pencakar langit yang terlihat jelas dari ruangan itu. Sementara Sera mulai memperbaiki pakaiannya. Mengenakan baju yang layak, lalu menyahut tas mahalnya. Wanita itu memilih buru-buru keluar dan menemui Roy yang ada di koridor. “Sorry, Roy,” katanya ketika ia berhenti tepat di samping pria itu. Roy mengangguk lemah, lantas menyerahkan amplop cokelat sebagai bayaran kerjanya malam ini. Namun, seperti yang sudah-sudah, milik Adam sama sekali tidak mau bereaksi. Pria itu kemudian masuk ke kamar Adam dengan menunduk. Menunggu instruksi selanjutnya dari sang tuan yang masih berdiri di depan jendela. Namun, setelah beberapa lama, Adam tak juga bersuara. Jadi, Roy maju selangkah dan mulai angkat bicara. “Tuan. Saya bisa–” “Nggak perlu. Aku sudah lelah, Roy.” Adam menoleh, lalu mengendurkan bahunya sebelum kembali membuka suara. “Aku punya klub seks yang laris setiap malam, tapi aku bahkan tidak bisa menyembuhkan diriku sendiri,” katanya. “Tuan masih punya banyak waktu untuk mencoba. Sebaiknya sekarang Tuan pulang dan istirahat. Saya yang akan urus klub malam ini,” sahut Roy. Adam mengangguk lemah. Ia lantas mengganti jubah mandinya dengan kemeja dan bersiap untuk pulang. Sementara itu di depan klub seks milik Adam yang berkedok sebuah spa bernama The Velvet Sanctuary, dua orang wanita baru saja turun dari taksi. Keduanya berdiri bersisihan sembari membaca nama besar dengan nuansa lampu hangat yang indah. “Ness, yakin kita mau masuk ke sini?” tanya Leah ragu. “Yakinlah, Le. Kan, kita udah sampai. Ayo masuk!” Nessi mendorong tubuh sahabatnya itu sampai berada tepat di depan pintu kaca. Lalu masuk. Pintu kaca buram itu tertutup dengan denting lonceng yang sangat halus. Memutus hawa dingin jalanan kota dengan kehangatan ruangan itu. Leah meremas tali tas selempangnya begitu erat demi menenangkan dirinya. Matanya bergerak gelisah. Ia menatap interior tempat itu yang didominasi warna merah marun dan emas, memancarkan kesan mewah sekaligus intim yang berbahaya. "Ini gila, Nes, aku pulang aja, ya? Plis," bisik Leah, setengah menyeret langkahnya di belakang Nessi. "Spa biasa enggak akan bisa nyembuhin hubungan kamu yang udah sedingin es kutub, Leah. Kamu sendiri yang kemarin curhat kalau hubungan kamu sama Juan itu hambar banget. Jangankan di ranjang, trik ciuman yang bener aja kamu enggak tahu, kan? Kamu butuh belajar, Le. Kalian sebentar lagi tunangan, loh,” sahut Nessi tanpa menoleh. Dia tetap melangkah maju dengan percaya diri di atas heels merahnya. Leah terdiam. Ia menunduk dalam usai mendengar ucapan sang sahabat. Benar, ia merasa hubungannya dengan calon tunangannya, Juan, sangat tidak berwarna. Jangankan ciuman, berpegangan tangan saja mereka tidak pernah. Bagaimana nanti jika mereka menikah? Leah tahu, pengalaman pacarannya hanya bersama Juan. Selebihnya, ia hanya sibuk kerja dan kerja. Dan sekarang, ia sudah berada di tempat yang tepat. Setidaknya, di klub ini ia bisa tahu bagaimana mengawali sebuah hubungan intim bersama pasangan. Namun, tetap saja. Ini sedikit tabu bagi seorang Leah. “Kita pulang aja, ya, Nes,” kata Leah kemudian. “Nggak, Le. Kamu harus belajar.” "Tapi enggak di klub seks eksklusif kayak gini juga, Nessi!" Leah mendesis panik, wajahnya sudah merona merah antara malu dan takut. Leah tak sempat berbalik untuk kabur. Mereka sudah berdiri di depan meja resepsionis dengan marmer hitam. Seorang pria tegap berpakaian setelan jas rapi menyambut mereka dengan senyum formal. "Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu? Apakah sudah membuat janji temu?" tanya resepsionis itu. Matanya menilai penampilan kedua wanita di depannya dengan tatapan profesional yang tajam. Tempat ini bukan untuk sembaramg orang. Apalagi seperti mereka. Nessi maju satu langkah. Lalu menumpukan kedua tangannya di meja dengan santai. "Seorang teman memberikan aku alamat ini. Dia bilang, aku bisa menemukan ketenangan di balik tirai hitam,” kata Nessi agak ragu. Resepsionis itu terdiam sesaat. Senyum formalnya berubah menjadi lebih dalam usai mendengar jawaban Nessi. "Ah. Ketenangan di balik tirai hitam. Dan siapa nama kenalan Anda, jika saya boleh tahu?" tanyanya lagi. Nessi sedikit condong ke depan, lalu membisikkan kode rahasia yang sudah dihafalkannya sejak siang, “Aphrodite’s Whisper.” Mendengar kata kunci itu, sang resepsionis langsung mengangguk patuh. Dia kemudian mempersilakan Nessi dan Leah berjalan di depan, lalu ia dengan cekatan menunjukkan arah. Ketiganya naik ke lift, lalu pria itu menekan angka 9. Setelah pintu lift terbuka, Nessi dan Leah terkejut. Tempat itu menampilkan lorong remang-remang dengan pencahayaan merah yang sensual. "Silakan masuk. Selamat datang di Velvet Sanctuary. Nikmati proses belajar Anda malam ini," ucap resepsionis itu sambil mempersilakan mereka masuk dengan gestur hormat. Nessi tersenyum puas, lalu mencengkeram pergelangan tangan Leah yang sudah membeku di tempat. "Ayo, Leah. Saatnya mengubah hubungan hambarmu jadi sesuatu yang panas," bisik Nessi sambil menarik sahabatnya paksa masuk ke dalam lorong. Di balik pintu tersembunyi itu, atmosfer berubah total. Ruangan tersebut dipenuhi bilik-bilik. Musik bertempo lambat tapi menggetarkan d**a, berbaur dengan suara bisikan dan desahan samar yang membuat bulu kuduk Leah meremang. "Aku enggak mau, Nessi! Pokoknya enggak!" ucap Leah. Ia menahan langkahnya sekuat tenaga, menggelengkan kepala saat seorang petugas pria dengan topeng perak mendekati mereka. Nessi menghela napas. Ia menatap sahabatnya dengan gemas sekaligus maklum. "Oke, oke. Dasar penakut. Biar aku yang maju duluan. Kamu duduk aja di pojok bilik dan tonton gimana caranya memegang kendali, paham?" titahnya. Nessi kemudian berbalik menatap petugas bertopeng itu dengan senyum menantang. "Aku mau mencoba sesi stimulasi dengan salah satu partner pria terbaik kalian. Dan temanku ini hanya akan menonton,” jelasnya. Petugas itu mengangguk takzim. Di dalam bilik yang remang, seorang pria bertubuh atletis tanpa atasan sudah menunggu. Nessi tanpa ragu melangkah masuk, membiarkan dirinya ditarik ke dalam dekapan pria itu. Leah terpaksa ikut masuk dan duduk di sudut sofa dengan tubuh gemetar. Di depannya, stimulasi dimulai tanpa membuang waktu. Pria itu menangkup rahang Nessi, mempermainkan bibir wanita itu dengan ciuman yang dalam dan penuh tuntutan. Tangan kekar sang partner merayap turun ke pinggang Nessi, meremasnya sensual. Sementara Nessi mulai mendesah pelan, menikmati setiap sentuhan yang membakar gairah. Melihat adegan intim yang begitu intens di depan matanya, jantung Leah bergemuruh. Rasa pusing dan mual karena panik mendadak menyerangnya. Dia tidak sanggup lagi. Ini terlalu liar untuknya. Tanpa mempedulikan Nessi yang sedang terbuai, Leah bangkit berdiri dari sofa dan langsung berlari keluar menuju lorong yang remang-remang. Leah berjalan tergesa-gesa tanpa melihat jalan. Sampai akhirnya ia menabrak seseorang. "Ah!" Leah memekik kecil saat tubuhnya menghantam sesuatu yang keras. Keseimbangannya goyah, dan tubuhnya limbung ke belakang, siap terjerembab ke lantai marmer. Namun, sebuah tangan kekar dengan cekatan menyambar pinggangnya. Lalu menarik tubuh Leah kembali ke depan dalam satu sentakan protektif. d**a Leah langsung membentur d**a bidang seorang pria. Untuk beberapa detik yang krusial, waktu seolah berhenti. Leah mendongak dengan napas terengah-engah, matanya yang bulat dan ketakutan menatap langsung ke dalam manik mata Adam yang tajam dan dingin. Sejenak, ia tertegun. Wajah pria itu mirip sekali dengan Juan. Leah masih belum bergerak. Jarak wajah mereka sangat dekat, menyisakan ruang bagi embusan napas yang saling berkejaran. Leah yang polos dan gemetar terlihat begitu rapuh di bawah cengkeraman tangan Adam. Dan saat itulah, keajaiban yang mustahil terjadi. Di balik celana kain yang dikenakan Adam, sesuatu yang mati total dan tak berdaya setelah distimulasi oleh wanita tercantik sekalipun, tiba-tiba berkedut hebat. Aliran darah berdesir panas, membanjiri pusat kejantanannya dalam hitungan detik hingga mengeras dengan sempurna. Sesuatu di bawah sana menegang, langsung menekan paha Leah yang berada sangat rapat dalam dekapannya. Namun, belum sempat Adam mencerna semuanya, Leah tersadar dan langsung lari usai melepas dekapan pria itu. Adam tertegun. Matanya melebar, menatap Leah dengan pandangan tidak percaya sekaligus syok yang luar biasa. Tubuhnya memberikan reaksi yang begitu liar dan instan hanya karena sentuhan dari wanita asing yang menabraknya ini. Pria itu mendongak, lalu menggeram kasar. “Sialan! Kenapa ini bereaksi?” bisiknya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
740.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.7M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
973.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
355.9K
bc

Not just, the Beta

read
346.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook