Pertama kali Jessica melihat Kenan Seazon, ia langsung tahu satu hal, pria itu tidak sedang berada di fase terbaik hidupnya.
Dari cara Kenan duduk di ruang meeting, setengah bersandar di kursi dengan dasi yang tampak acak-acakan, matanya lebih sering menatap layar ponsel daripada presentasi yang sedang berlangsung, hingga tatapan kosong yang nyaris konstan—semua memberi sinyal. Jessica bisa menebak.
Entah Kenan baru saja patah hati, atau gagal besar dalam urusan yang bisnis
Dan ternyata, jawabannya Pertama.
Jessica tidak perlu bertanya. Tidak butuh klarifikasi. Ia tahu dunia ini tidak pernah kekurangan pria yang mencoba menyembunyikan rasa sakit dengan sikap dingin dan cuek. Kenan salah satunya.
Ia memilih diam. Bukan karena tidak mengerti, tetapi karena ingin melihat… sejauh mana pria itu bisa berpura-pura kuat.
Ketika Ariko menyebutkan bahwa ia dan Kenan akan bekerja bersama di proyek Seazon Food, Jessica tersenyum tipis. Di dalam hatinya, ia menahan tawa kecil.
“Jadi ini Kenan… Pria yang bahkan tidak mau liat aku lebih dari tiga detik?”
Lucu. Sangat lucu.
Namun saat Kenan mengantarnya dari ruang meeting menuju lift, Jessica mulai melihat sisi lain dari pria itu. Suaranya berubah saat bicara soal pekerjaan. Nada yang biasanya datar dan dingin, kini tegas, sistematis, dan penuh logika. Ia menjelaskan alur konsep brand dengan struktur yang rapi dan efisien padahal tadi di ruang meeting jelas Kenan tak fokus dengan pembahasan.
Bahkan Tia, manager Jessica yang biasanya skeptis dan kritis, mengangguk beberapa kali, menandakan rasa hormat dan pengakuan atas profesionalisme Kenan.
Jessica hanya menatap, memperhatikan setiap kata, tanpa menyela. Namun dalam hatinya, penilaian itu terus berjalan,
“Dia bukan bodoh. Dia hanya… keras kepala. Dan jelas, dia belum selesai dengan urusannya sendiri.”
Sejak masuk ke ruangan itu, Kenan belum pernah bicara langsung padanya lebih dari dua kalimat. Tidak ada basa-basi, tidak ada tatapan penasaran, bahkan tidak ada rasa ingin mengenal.
Lucunya… itu justru membuat Jessica tertarik.
Ia sudah lelah dengan pria-pria yang selalu mengejar, yang menilai segala sesuatu dari penampilan luar, yang berharap perhatian dan pujian selalu diterima. Kenan, sebaliknya, terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, terlalu fokus pada dunia internalnya sendiri, hingga tidak sempat peduli padanya.
Dan di situlah ketertarikan itu muncul — dari ketidakpedulian yang jujur, yang tidak dibuat-buat, yang tidak mencoba memikat atau memanipulasi.
Perjalanan ke mobil terasa hening, Jessica menatap ke arah jendela, melihat jalanan kota yang sibuk, mencoba menenangkan pikirannya. Namun tiba-tiba ia berbicara, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Tia.
“Lucu ya… Pak Kenan itu,” ucapnya, matanya masih menatap luar.
Tia menoleh, sedikit bingung. “Apanya yang lucu? Justru keliatan jutek banget, Ka…”
Jessica tersenyum tipis, tapi ada nada kecut di bibirnya.
“Baru kali ini gue nemu cowok yang kalau ketemu gue, bukannya minta foto atau basa-basi, malah nyuekin.”
Tia terkikik kecil.
“Keliatan kaku banget. Kayaknya dia nggak pernah nonton TV deh, Ka…”
Jessica hanya tersenyum tipis, tidak menanggapi lebih jauh. Tapi dalam hati, ia menahan gelak kecil. Ia menyadari, sesuatu tentang Kenan… sesuatu yang berbeda dari pria lain—mengganggu sekaligus menarik.
Cowok ini… membuat penasaran. Membuat kesel. Tapi entah kenapa… dia ingin lihat lebih jauh.
Dan di situlah, tepat saat mereka memasuki mobil, ketertarikan pertama itu benar-benar lahir—dari sikap yang tampak dingin, dari tatapan yang tidak pernah mencari perhatian, dan dari ketidakpedulian yang jujur. Sesuatu yang jarang ia temui… sesuatu yang membuat hatinya sedikit berdebar, meski ia tidak ingin mengakuinya.
Mobil melaju, lampu kota berkelap-kelip di kaca jendela, dan Jessica tersenyum sendiri, sadar bahwa malam ini, Kenan Muchler Seazon bukan sekadar bos atau partner profesional baginya… tapi teka-teki yang sulit dipecahkan, dan ia ingin mencoba mengerti.
To be continued....