Robot Papa
Aroma kopi hitam dan roti panggang mengisi ruang makan pagi itu. Menu sederhana tersaji rapi: dua potong roti keju, telur rebus, dan semangkuk kecil salad buah. Tapi hanya dua dari tiga penghuni rumah yang benar-benar menikmati sarapan mereka.
Kenan Muchler Seazon duduk terpaku. Cangkir kopinya tak tersentuh, pandangannya kosong menatap permukaan hitam pekat di dalamnya. Pikirannya tertahan pada satu nama—Marsha.
Sudah tiga bulan sejak perpisahan itu, tapi luka yang ditinggalkan belum juga sembuh. Apalagi setelah kabar pertunangan Marsha dengan Bastian—teman satu lingkarannya dulu—beredar cepat. Bukan hanya ditinggalkan, tapi dikhianati. Sakitnya tuh bukan hanya kehilangan... tapi seperti ditikam pelan-pelan oleh orang yang paling kita percaya.
Suara berat David Muchler Seazon, sang Papa, memecah keheningan.
“Udah tiga bulan, Ken. Sampai kapan sih kamu mau terus gini?”
Kenan mendongak perlahan, bibirnya menyunggingkan senyum hambar.
“Kalau maksud Papa ‘gini’ itu duduk tenang sambil sarapan, mungkin sampai kopinya dingin.”
David meletakkan Majalah bisnis yang dia baca, menatap anaknya tajam.
“Kamu akan menikah."
Alis Kenan terangkat.
“Oh ya? Lucu. Aku bahkan nggak diundang pas lamaran."
Ibunya, Selena, menyela pelan.
“Ken... maksud Papa kamu, kamu mau kita Jodohin. Kita udah ngomong sama keluarga Lambert. Anaknya, Viona—gadis baik.”
Kenan menghela napas panjang, lalu tertawa singkat.
“Viona? Aku tahu. Cantik, sukses, hidupnya sempurna kayak drama Korea. Tapi sayangnya, aku belum selesai ngelupain orang yang Papa ‘usir’ dari hidup aku.”
David mendesah.
“Kamu tahu sendiri siapa Marsha. Keluarganya itu musuh bisnis keluarga kita. Masa depan kita semua bisa hancur kalau kamu tetap ngotot sama dia.”
Kenan langsung bangkit dari kursinya, suaranya meninggi.
“Jadi karena dendam Papa, aku yang harus bayar? Marsha ninggalin aku karena Papa!”
Ibunya mencoba menenangkan.
“Kenan, jangan pake suara Keras nak...”
Kenan menunjuk Papanya.
“Papa pikir aku nggak tahu? Ancaman-ancaman Papa ke Marsha... semua larangan untuk dia deket sama aku. Bahkan Papa sempat kirim orang buat ngawasin aku, kan?”
Papanya balas berdiri, suaranya tak kalah keras.
“Papa lakukan itu buat masa depan kamu! Kamu pikir hubungan itu sehat? Kamu pikir hidup bareng anak musuh kita bakalan bahagia?”
“Iya! Karena aku cinta sama dia!” seru Kenan.
“Selama ini, aku berusaha bikin kalian bangga. Tapi ternyata aku cuma alat, ya? pas aku cinta sama orang yang salah di mata kalian, semua jadi dosa?”
David menatap putranya lama.
“Cinta nggak bisa jadi alasan untuk menghancurkan nama baik keluarga.”
“Dan keluarga ini ternyata nggak bisa jadi alasan buat bahagiain anaknya,” balas Kenan, suaranya rendah tapi tegas.
Ibunya berdiri, memeluk Kenan dari samping.
“Coba buka hati dulu, Ken. Kita nggak maksa kamu nikah sekarang. Tapi... seenggaknya kenali dulu Viona.”
Kenan menatap ibunya dalam-dalam.
“Ma, aku nggak butuh orang baru. Aku cuma butuh waktu.”
David kembali duduk, wajahnya mengeras.
“Waktu terus berjalan. Kamu nggak bisa terus stuck di masa lalu. Kalau kamu mau tetap jadi bagian dari masa depan keluarga ini, kamu harus belajar berpikir lebih dewasa.”
Kenan terdiam. Ia mengambil kunci mobil dari meja.
“Kalau jadi dewasa itu artinya nurut tanpa nanya, kayak robot… mungkin aku gagal jadi anak yang Papa mau.”
Ia pergi tanpa menoleh.
Begitu tiba di dalam mobil, Kenan hanya duduk, menunduk. Tangannya menggenggam erat kemudi. Sekilas wajah Marsha muncul di benaknya, lengkap dengan tawa lembut dan suara manja yang kini hanya tinggal kenangan.
Dan kini, seorang wanita asing bernama Viona disodorkan ke hidupnya. Bukan karena cinta. Tapi karena rencana.
“Lucu banget hidup ini,” gumamnya pelan.
“Aku bahkan belum selesai patah hati, udah disuruh jatuh cinta lagi.”
To be Continued.....