Mata Kenan menatap ke bawah—jalan-jalan kota yang sibuk, orang-orang yang berjalan tanpa tahu betapa berantakan isi kepala seseorang di atas gedung ini.
“Ketemu juga,” terdengar suara dari belakang.
Alex, sahabat sekaligus Sekretaris pribadinya, muncul dengan gaya santainya, seperti biasa. Kemeja rapi, rambut agak acak, dan ekspresi wajah yang seperti bilang, "Gue ngerti, tapi nggak bisa diemin."
“Lu pikir lu di mana? Rumah lu? Serius, Ken.”
Alex mendekat dan menyandarkan diri di tembok pembatas.
“Ini lantai 22, bukan tempat ngambek.”
Kenan mendesah, mematikan rokoknya di besi pembatas. “Gue nggak ngambek. Gue... cape aja.”
Alex menatapnya sebentar. “Bokap lu lagi?”
Kenan Tak menjawab. Tapi tatapan kosongnya sudah cukup jadi jawaban.
Alex diam sebentar, lalu mulai bicara pelan. “Gue ngerti, bro. Cinta lima tahun kandas, terus orang yang lu percaya malah ikut andil di dalamnya. Tapi lu harus jalan terus. Lihat Marsha sekarang... dia baik-baik aja, malah mau lamaran.”
“Dan itu temen gue sendiri,” Kenan menimpali dengan nada dingin.
“Ironis, ya?”
Alex nyengir kecut.
“Makanya gue bilang: jangan terlalu banyak kenal orang. Nanti sakitnya datang dari dua arah.”
Hening sebentar.
Kenan menyandarkan tubuhnya ke dinding, menatap langit.
“Gue belum kelar sama patah hati gue, Lex. Tapi pagi Papa bilang... gue harus nikah.”
Alex membelalakkan mata. “Nikah? Serius?”
“Nama ceweknya Viona. Viona Lambert. Lu kenal?” tanya Kenan malas.
Alex mikir sebentar. “Dia anak pengusaha properti dari keluarga Lambert."
Kenan mengangguk. “Yup. Dan katanya dia ‘anak yang cocok untuk masa depan keluarga Seazon.’ Kata Papa gue, sih.”
Alex menggaruk kepala yang Tak gatal. “Gila... itu bukan pernikahan. Itu merger saham.”
Kenan tertawa kecil, getir. “Gue beneran nggak tahu harus ngapain.”
Alex menatapnya dalam, lalu menepuk bahunya. “Lu coba dulu aja, bro. Siapa tahu dia beneran cocok. Bukan cuma di atas kertas, tapi juga... di hati lu. Ya kan?”
Kenan menoleh.
“Lu romantis banget hari ini. Tumben.”
Alex menyeringai. “Nggak juga. Gue cuma nggak mau lu jadi abu-abu selamanya. Lagian... kalau sampe kak Riko tahu lu ngilang dari lantai 9 dan malah ngerokok di rooftop, gue yang kena semprot duluan.”
Kenan mengeluh pelan.
“Astaga... Kak Riko...”
Alex langsung berdiri tegak, membuka pintu rooftop. “Lu punya waktu lima menit sebelum dia naik ke sini dan ceramahin lu depan seluruh board meeting. Mending kita turun sekarang.”
Kenan menepuk celana, membuang rokok terakhir ke tempat sampah. Mereka berdua mulai meninggal tempat itu, lalu melangkah masuk ke dalam lift.
"Ken...nih..." Alex menyodorkan permen.
"Buat apa sih?."
"Supaya aroma rokok lu ngga nyengat."
Alex lalu membuka bungkusnya tanpa perlu menunggu persetujuan dia memasukkan permen ke dalam mulut Kenan setelahnya dia mengeluarkan botol kecil di saku celana. Menyemprotkan perlahan ke seluruh badan Kenan.
"Apa sih Lex..." Kenan protes berusaha menghindar.
"Kalau ada aroma rokok terus mencium Kak Riko lu mau di investigasi sampe malem?gue lagi selamatin lu ini.." Alex dengan tenang.
"Mending gue di investigasi daripada ketemu Papa." Jawab Kenan santai.
"Udah nurut aja kenapa sih?." Alex melihat lagi tampilan Kenan takut-takut ada yang mencurigakan.
To be Continued.....