1 | Bukan Prioritas

847 Kata
Enam bulan sebelumnya .... Dalam pernikahan ini, Hanin tahu hati Januar tidak untuknya. Sehingga segala sesuatu menyangkut dirinya, bahkan anak yang Hanin lahirkan tak pernah jadi prioritas lelaki itu. Ini sudah panggilan ketujuh dari Hanin tetap tidak diangkat suaminya, sementara tubuh Nael semakin panas. "Mama ...." Hanin menoleh. "Iya, Sayang?" "Dingin ...." Hanin menarik selimut, membungkus tubuh putranya lebih rapat, padahal Nael berkeringat. Kompresan pun sudah Hanin tempelkan di kening sang anak, obat sudah dia berikan, tetapi apa tidak bekerja? Kembali Hanin meraih ponsel. Menekan nama yang sama. Januar—suaminya. Nada sambung kembali terdengar. Namun, tetap tidak diangkat. Sedang apa, sih, lelaki itu?! "Ma ...." Oke, sudah cukup. Ini sudah hampir tiga jam demam anaknya tidak turun. Yang saat Hanin mencoba mengukur ulang suhu Nael, angka 39,2 seketika membuat napas Hanin tertahan. Oh Tuhan ... naik lagi! Hanin menyerah. Lekas bangkit. Langkahnya cepat ke lemari, lalu mengganti pakaian Nael, kemudian menggendongnya menuruni satu per satu anak tangga. Nael mulai merengekkan tangis. Cepat, Hanin. Langkahnya terburu, melaju seekspres yang Hanin mampu. "Mbok!" "Mbok!!!" Suara Hanin melengking di keheningan, detik selanjutnya terdengar langkah tergopoh dari belakang. "Iya, Bu—" "Nael sakit," sela Hanin. "Tolong cepat bukakan pintu garasi." Si mbok langsung berlari kecil mendahului langkah sang majikan. Hanin ambil kunci mobil di loker tembok, menekan tombol kunci, lalu si mbok bukakan pintu mobilnya, dan segera Hanin masukkan Nael ke sana. "Nael mau papa, Ma ...." Pergerakan Hanin yang sedang mendudukkan anak itu di jok terhenti sejenak. Dan sekuat-kuatnya Hanin berusaha terlihat tenang, dia ulaskan senyuman. "Udah Mama telepon, nanti papa nyusul." Padahal dirinya sendiri tidak tahu sedang apa lelaki itu, ada di mana, dan kapan pulangnya. Sebab sejak tadi Januar tidak bisa dihubungi. Dan ini pukul sembilan malam. Tanpa ba-bi-bu lagi, Hanin gegas menempati bagian kemudi. Bahkan tas yang bertengger di pundak kirinya pun sampai tak sempat Hanin letakkan. Nael meracau. "Usap-usap sama papa, Mama ...." Rahang Hanin mengeras di tiap kali Nael sebutkan sosok papanya. Bahkan di rumah besar itu tak disediakan sopir untuknya, hanya seorang ART setengah baya. Semakin ke sini ketentuan keterikatan yang Januar buat mulai terasa mengganggu. "Mau papa, Ma ...." Tangan Hanin yang memegang setir serasa kebas. "Papa ...." Sementara mata Hanin yang menatap jalanan mulai berembun, refleks Hanin usap. Genangannya membuat penglihatan jadi buram. Dan Nael terus saja memanggil-manggil papa. Hingga sesampainya di rumah sakit, Hanin langsung membawa bocah empat tahunannya ini masuk, dia gendong dengan setengah berlari. Tak lama, datang tim medis. "Dok, tolong, Dok." Suara Hanin bahkan bergetar ketika dia jelaskan kondisi putranya, dengan mata menahan tangis. Di mana kini serangkaian pemeriksaan mulai dilakukan. "Ini infeksi," ucap dokter. Tubuh Hanin menegang. "Tapi tidak berbahaya jika segera ditangani," sambung beliau. Namun, Hanin tetap tidak bisa tenang. Jari-jemari sampai terasa dingin. Kemudian Hanin memeluk putra kecilnya kala tangan Nael ditusuk jarum infus, Hanin tenangkan tangisan anak itu. "Sakiiit!" "Mama sakiiit!" "Papaaa!" Rasanya air mata Hanin juga ingin ikut luruh, tetapi tak Hanin biarkan benteng pertahanannya runtuh. "Mamaaa!" "Iya, Sayang ... Mama di sini." Hari itu. Pukul sebelas malam barulah Nael tenang. Terlelap di ranjang kamar inap. Hanin baru bisa melepas usapannya dari kepala Nael. Lalu terdengar bunyi getar dari ponselnya. Gegas Hanin meraih benda itu. Dilihatnya nama Januar muncul di layar. Hanin menatapnya beberapa saat sebelum mengangkat sembari menjauh dari ranjang rawat. "Halo, Mas." "Kenapa?" Suara lelaki itu terdengar datar di seberang. Hanin memejamkan mata sejenak. "Nael masuk rumah sakit." Vokal Hanin bahkan begitu lirih. Lalu terdengar suara kursi bergeser dari sana. "Nael sakit?" "Hm. Demam tinggi." "Sejak kapan?" "Sore. Aku udah nelepon Mas berkali-kali." Januar tak langsung menjawab. "Ada urusan mendesak di kantor." Hanin memeluk diri dengan lengan kiri, sementara tangan kanannya menempelkan ponsel ke telinga. "Rapat sama orang luar?" "Kurang lebih begitu." Hanin mengangguk pelan meski lelaki itu tidak bisa melihatnya. "Oke." "Mas ke sana sekarang." Hanin ingin sekali bilang 'tidak perlu', tetapi sosok Nael yang terbaring di ranjang membuatnya tak kuasa mengatakan itu. "Rumah sakit mana dan sertakan letak ruangannya di pesan," imbuh Januar sebelum sambungan nirkabel itu berakhir. Hanin lekas kirimkan detail ruangan dan rumah sakitnya. Demi Nael. Yang sejak tadi memanggil-manggil papa. Hanin kembali duduk di kursi samping ranjang. Menatap lama wajah putranya. Kadang Hanin berpikir, Nael terlalu lembut untuk dunianya yang keras ini. Lantas, apa Hanin telah salah mengambil keputusan untuk si kecil? Di satu sisi, bocah itu tidak pernah mengeluh, rewel juga jarang. Nael anak yang saaangat pengertian hingga dadaa Hanin terasa begitu sakit. Bahkan tidak pernah bertanya kenapa ayahnya lebih sering sibuk dibanding berada di rumah. Lalu kini ponsel Hanin tiba-tiba getar lagi, muncul bertubi notif pesan masuk. Hanin langsung membukanya. Dari sang sobat. Hanin baca satu-satu. Syakila: Han. Makasih, ya. Kening Hanin berkerut. Syakila: Untung ada Januar tadi. Jemari Hanin membeku. Syakila: Anakku demam tinggi banget, Han. Syakila: Aku panik karena Mas Tio lagi ke luar kota. Sejenak Hanin henti membaca. Syakila: Syukurnya Januar langsung nyusul setelah aku telepon. Langsung nyusul? Gemuruh di dadaa Hanin mengencang, sementara panggilan darinya kepada lelaki itu justru banyak yang terabaikan. Dan sekalinya diangkat, Januar bilang apa? "Ada urusan mendesak di kantor." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN