Prolog

248 Kata
"Dia anakmu, Mas." "Tes DNA." Pegangan Hanin di lengan Januar terlepas. Jadi, memang itu jawabannya. Hanin menunduk, tersenyum getir. Percaya tidak percaya, tetapi ekspektasinya bahkan sesuai dengan kenyataan. Januar hendak melangkah lagi. "Kalau hasilnya nanti membuktikan Nael memang anak Mas ... Mas bisa berhenti jadi ayah untuk Reynan?" Ucapan itu menghentikannya, Januar menoleh. "Cukup satu anak aja yang merasa Mas ayahnya. Cukup Nael ... jangan dahulukan lagi anak lain." Januar tidak menjawab. Tatapannya justru bergeser ke belakang Hanin. Hanin ikut menoleh. Nael berdiri di ambang pintu. Entah sejak kapan anak itu ada di sana. Tatapannya lurus ke arah sang papa. Saat Hanin kembali menatap ke depan, Januar sudah melangkah pergi. Suara ketukan sepatunya terdengar semakin menjauh. Hanin mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras. Kali ini dia tidak membiarkannya. Hanin menyusul hingga ke teras, lalu kembali mencekal lengan suaminya. Januar berhenti. "Nggak apa-apa kalau Mas cuma mengabaikan aku, tapi Mas malah melakukannya juga ke Nael." Januar melirik arloji di pergelangan tangannya. "Ada penerbangan satu jam lagi." Cekalan Hanin menguat. Bisa Januar rasakan. Yang lalu Januar pun mencekal pergelangan tangan Hanin, memaksa lepas. Hanin terhenyak, dia terdorong setengah langkah ke belakang. Dengan dadaa bergemuruh kencang, tatapan yang nanar, Hanin melepas sandal rumahan, lalu dia lempar dan tepat mengenai punggung tegap Januar. Namun, lelaki itu tidak berhenti. Sementara sopir di sana sudah membukakan pintu mobil. Januar .... "Tujuanku menerima pernikahan ini adalah Nael! Bertemu ayahnya, mendapatkan kasih sayang ayahnya secara langsung. Tapi kalau seperti ini ... buat apa kita menikah, Mas?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN