12. Kamu Bukan Yang Pertama, Ayu!

1173 Kata
Ayu memejamkan kedua matanya sejenak, Anggara masih memeluk tubuhnya dari belakang. “Kenapa Mas Gara memperlakukan aku seperti ini? Sebenarnya seperti apa perasaan Mas Gara yang sebenarnya? Apakah dia sungguh menginginkanku? Bagaimana akhir dari hubungan gelap ini.. aku bimbang..” bisik Ayu di dalam hatinya, sesaat kemudian kelopak mata Ayu Kinanti kembali terbuka. Ayu Kinanti belum memutuskan apakah dia akan menginap di kediaman Anggara atau tidak. Hatinya terasa bimbang dan ragu. Hubungan yang disuguhkan Anggara sama sekali tidak memiliki masa depan untuknya. Sentuhan Anggara saat ini tidak membuat hatinya tergerak. Ayu hanya menatap wajah Anggara tanpa menjawab permintaan dari pria itu. Lima detik berikutnya Ayu Kinanti menjauhkan dirinya. “Mas antarkan aku balik, aku lelah.” Ucapnya sambil meletakkan minuman dingin dari dalam genggaman tangannya kembali ke dalam lemari pendingin. Anggara menyadari perubahan sikap Ayu Kinanti, tidak seperti biasanya gadis itu selalu menuruti keinginannya. “Kamu belum jawab soal permintaanku, Yu.” “Itu akan aku pikirkan nanti, Mas. Aku ada janji untuk makan siang sama Ibu di butik. Kasihan nanti Ibu nunggu kelamaan, sudah siang ini.” Ucapnya sambil menatap ke arah jam di pergelangan tangannya. Anggara menarik tangannya dari tubuh Ayu, dia merasa kesal dan kecewa dengan pernyataan Ayu barusan. Anggara memalingkan wajahnya ke arah lain. Ayu segera berjalan mendahului Anggara menuju ke arah pintu keluar dalam kediaman tersebut. Sampai di ruangan utama, Anggara dengan langkah lebar merebut tas selempang milik Ayu dari atas bahu gadis tersebut. Dengan kesal Anggara membawa tas itu masuk ke dalam. Ayu kaget sekali, gadis itu panik lalu bergegas mengejar karena dompetnya ada di dalam tas. “Mas? Mas Gara!” Kejar Ayu sambil berlari kecil menyusul Anggara Lesmana. Ayu sampai di ambang pintu kamar Anggara, dia melihat pria itu sedang berdiri di tengah ruangan memunggunginya. “Mas Gara..” panggilnya. Anggara masih menggenggam tasnya, pria itu tetap berdiri tanpa bergeming. Ayu Kinanti terpaksa masuk ke dalam kamar Anggara. Kamar yang pernah dia gunakan untuk bertukar hasrat dengan Anggara. Kamar yang seharusnya hanya milik Andini Septian! Mendengar derap langkah Ayu mendekatinya, Anggara langsung memutar badan lalu menarik tangan Ayu hingga tubuh Ayu Kinanti terhempas di atas ranjang. Anggara menghimpit tubuh Ayu seraya menahan kedua tangan gadis itu di atas kepala. Tas Ayu dia lemparkan ke sudut kamar, dipagutnya bibir Ayu tanpa persetujuan dari gadis tersebut. Ayu meronta, namun setelah beberapa menit dia pasrah! Menerima rengkuhan dan juga pagutan Anggara. “Kamu plin-plan Yu! Mau coba-coba mempermainkanku?! Jawab Yu?!” Pertanyaan serta tatapan penuh rasa gusar terlukis jelas pada wajah Anggara. Perlahan Anggara melepaskan genggaman tangannya dari kedua lengan Ayu. Anggara duduk di tepi ranjang memunggungi Ayu. “Aku nggak pernah ada niat untuk mempermainkanmu, Mas. Aku tadi cuma pamit, ingin pulang ke rumah karena aku ada janji sama Ibu.” Ucapnya seraya bangkit duduk dari posisi rebah. “Beda Yu, raut wajah kamu itu beda! Sepertinya kamu enggan kalau aku nagih janji kamu tentang perasaanmu padaku di masa lalu. Dasar plin-plan!” Sungut Anggara, jelas sekali kalau pria itu sedang marah padanya. “La terus aku harus gimana supaya Mas mau percaya? Aku minta kita nikah juga nggak mungkin to? Mas kan sudah punya istri.” Anggara langsung menoleh ke arah Ayu begitu Ayu membahas pernikahan dengannya. Entah kenapa Anggara mulai tidak rela kehilangan gadis di sebelahnya itu. Andini istrinya sendiri memang sudah cantik, pintar, dan memiliki semua yang menjadi impian pria. Tapi rasa kecewa saat menyadari kedua anaknya bukan darah dagingnya.. rasa itu membuat Anggara muak dan ingin terus membuat hati Andini terluka! “Misalkan aku serius dan bersedia menikahimu?” Tantang Anggara seraya mengusap lembut pipi Ayu Kinanti. Sungguh pertanyaan yang menyudutkan! Ayu pikir Anggara akan menolak lalu kembali marah seperti beberapa hari lalu. Tapi hari ini berbeda, tatapan serius dari kedua mata Anggara membuat Ayu tidak bisa berkata-kata. “Yu..” bisik Anggara, pria itu menarik tengkuk Ayu Kinanti. Dikecupnya perlahan bibir Ayu, lalu kening Ayu. Ayu yang tidak pernah membina hubungan dengan pria manapun diperlakukan seperti itu. Ayu cemas jika Anggara terlalu memanjakannya maka dia akan lupa siapa dirinya, lupa kalau dia hanya orang ke tiga di dalam rumah tangga Anggara. “Aku cinta sama kamu..” bisik Anggara. “Brakk!” Terdengar pintu di ruangan utama menutup, artinya ada seseorang datang dan masuk ke dalam rumah. “Mas, itu pasti Dita! Aku-aku..” Ayu Kinanti sangat panik dan gugup, dia tidak mau kepergok sedang tinggal di dalam kamar Anggara karena itu adalah kartu mati bagi Ayu Kinanti! “Sssttttt..! Jangan berisik, biar aku yang periksa.” Anggara membekap bibir Ayu lalu mengusap pelan sisi leher Ayu menggunakan punggung jemari tangannya, barulah dia berdiri dan keluar dari dalam kamar tersebut untuk memeriksa. “Assalamu’alaikum!” Teriak Dita dari ruang tengah, gadis itu baru saja pulang dan menuju ke ruang tengah untuk mengambil air dingin dari dalam lemari pendingin. Dita mengeluarkan botol air lalu menarik kursi dan duduk di sana. “Sepi sekali? Mobil Mas Gara ada di depan kenapa orangnya nggak ada? Masa tidur? Jam segini?” gumamnya sambil membuka tutup botol lalu meneguk isinya perlahan. Anggara mengendap-endap dari belakang punggung Dita, “Satu, dua, tiga, duaaar!” Anggara mengagetkan adiknya sambil memegangi kedua bahu Andita. “Nggak kaget! Mas ngapain ngendap-ngendap? Sembunyikan orang di rumah? Kebiasaan! Dasar! Siapa lagi kali ini? Santi bukan?!” tanya Dita dengan suara lantang. “Husss! Kalau ngomong nggak bisa pelan apa?!” Anggara langsung mencubit bibi Dita dengan gemas. Melihat Anggara melotot sambil memberikan isyarat agar Dita diam, Andita tahu wanita yang dibicarakan masih tinggal di dalam rumah tersebut. Andita langsung menganggukkan kepalanya. “Sudah jangan berisik, aku mau ngantar Ayu pulang dulu. Awas kalau kamu teriak-teriak, aku pecat jadi adik!” Anggara sudah menggenggam kunci mobilnya. Pria itu berjalan menuju ke arah kamarnya. “Ayu? Jadi Ayu???!” Tanya Dita sambil memutar posisi duduknya menghadap ke belakang memegangi sandaran kursi menggunakan kedua telapak tangannya. Belum sampai ke dalam langkah Anggara kembali terhenti Anggara menoleh ke arah Dita. “Ah, iya.. malam ini Ayu akan nginap di sini! Kamu nanti pas jam sembilan, out! Ngungsi! Cari alasan saja nemani Firdan atau apa terserah!” Ucap Anggara sambil menunjuk wajah Andita menggunakan kunci mobilnya. Dita hanya bisa melotot kaget. “Wah, Mas! Kelewatan kamu! Nggak takut kepergok sama Mbak Dini? Awas dilaporin lagi ke Bapak mertuamu!” ledek Dita sambil menjulurkan lidahnya. “Awas ngadu!” Anggara kembali melotot pada Andita. Anggara sudah berlalu dari ruang tengah menuju kamarnya, kini tinggal Andita sendirian di ruangan tersebut. Andita memeluk botol air dingin miliknya. “Mas Gara, kurang apa sih Mbak Dini? Sudah cantik, dokter spesialis, kaya raya, seksi, penurut, penyayang, nggak pernah membantah, eh tetap saja ditinggal selingkuh! Bikin aku malas pacaran! Mentang-mentang wajahnya ganteng dan laku keras, mulai deh tanam sana-sini. Harusnya ngambil pelajaran dari yang sudah-sudah, baru sebulan bertengkar rame sama Mbak Dini gara-gara ditagih mahasiswinya. Ike sampe nekat datang ke rumah minta pertanggungjawaban karena bunting! Suka banget bikin Mbak Dini nangis-nangis. Untung Mbak Dini sabar, kalau nggak pasti Mas Gara sudah digugat cerai sama Mbak Dini. Dasar Mas Gara!” Omel Andita panjang lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN