Anggara tiba di dalam kamarnya, dia melihat Ayu sedang berdiri di belakang pintu. Gadis itu menatap wajah Anggara dengan cemas, Ayu sudah menenteng tas selempang pada bahu kanannya.
“Gimana, Mas? Siapa tadi? Dita, bukan?” Tanyanya bertubi-tubi.
“Iya, tadi Dita. Ayo aku antar ke butik,” ucapnya seraya menarik tangan Ayu Kinanti keluar dari dalam kamarnya.
“Ke rumah saja, Mas. Nggak enak kalau nanti Ibuk melihat. Masa aku diantar sama Mas Gara terus?”
“Kenapa memangnya kalau aku yang ngantar kamu ke mana-mana? Kamu lupa? Bapak sama Ibu kamu sudah nitip kamu sama aku, Yu?”
Ayu terdiam, gadis itu meremas jemari tangan Anggara yang kini menggenggam telapak tangannya.
“Bagaimana jika aku terlanjur bergantung padamu? Bagaimana kalau aku tidak bisa mengendalikan perasaanku lagi? Aku takut-aku takut jatuh cinta terlalu dalam padamu, Mas.” Ayu berucap dalam hati sambil menatap wajah Anggara di sebelahnya, tanpa sadar kedua bola matanya ikut berkaca-kaca. Ayu ingin menangis, gadis itu merasa takut kehilangan sekaligus takut merusak keutuhan rumah tangga Anggara.
Anggara membawa langkah kaki Ayu menuju ke arah pintu belakang lalu masuk koridor samping, jalan tersebut menghubungkan sampai ke arah garasi juga halaman depan. Jalan sempurna untuk menghindari orang di dalam kediamannya.
Sampai di samping mobilnya, Anggara segera membukakan pintu untuk Ayu Kinanti. Dan saat menoleh ke arah Ayu, dia melihat air mata Ayu Kinanti titik pada kedua pipinya.
“Yu? Ayo naik! Kenapa malah nangis?”
Ayu tidak menyahut, tapi mendadak malah menghambur memeluk pinggang Anggara Lesmana dengan pelukan erat.
“Yu?” Anggara menepuk punggung gadis tersebut. “Kenapa? Heh?” Anggara melepas pelukan Ayu dari pinggangnya. Ayu nampak kecewa karena Anggara menarik lepas paksa kedua lengannya dari pinggang atletisnya. “Sudah ayo masuk! Nggak usah pasang wajah ngambek begitu, kita bicara di dalam mobil saja. Kalau di sini nanti dilihatin sama tetangga. Kamu mau kalau kita kepergok di sini? Apalagi kamu nangis-nangis begini?” Tanyanya seraya mendorong Ayu Kinanti agar lekas-lekas masuk ke dalam mobilnya.
“Iya-iya, Ayu masuk,” dengan bibir cemberut Ayu Kinanti masuk ke dalam mobil.
Mobil Anggara mulai bergerak pelan meninggalkan halaman kediamannya. Pria itu menoleh ke arah Ayu Kinanti, pikirnya ada yang ingin Ayu sampaikan padanya karena tadi sempat menangis sambil memeluk erat pinggangnya.
“Nggak jadi ngomong? Tadi nangis kenapa?” Tanya Anggara padanya.
“Nggak jadi, Mas.”
“Kenapa? Takut nggak aku kasih? Tentang nikah, tunggu kamu lulus kuliah dulu.”
Ayu menelan ludahnya, gadis itu beringsut dari tempat duduknya. Jantungnya berdebar-debar, Ayu menoleh ke arah Anggara menatap wajah pria itu sekilas seraya merapikan helaian rambutnya sendiri ke belakang daun telinga.
Anggara yakin, itu yang Ayu inginkan darinya! Dan dia sudah mendapatkan hati Ayu Kinanti. Saat hati Ayu Kinanti sudah berada di dalam genggaman tangannya, Anggara tidak akan pernah melepaskannya lagi! Tidak akan pernah!
Anggara mengantarkan Ayu Kinanti ke butik milik Mariam.
“Bu, itu sepertinya Non Ayu.” Ucap pelayan butik pada Mariam.
Mariam mengangkat wajahnya, wanita itu menatap ke arah kaca bening di dinding butik miliknya. Ternyata benar, yang dilihat oleh karyawannya memang Ayu Kinanti. Mariam melihat Anggara dengan baju rapi memakai kacamata hitam sedang membukakan pintu mobil untuk putri semata wayangnya. Anggara tersenyum manis sekali seraya memegangi kedua sisi pinggang Ayu saat gadis itu sedang melangkah turun dari dalam mobil. Ayu sendiri juga memegangi kedua bahu Anggara.
Mariam menatap pemandangan dari pasangan muda-mudi tersebut. Dari cara Anggara memperlakukan Ayu Kinanti, dan dari tatapan manja Ayu terhadap Anggara. Sampai-sampai Anggara masih memegangi lengan Ayu saat gadis itu berjalan menuju ke dalam butik.
Mariam langsung keluar dari meja kasir lalu menghampiri mereka berdua.
“Loh-loh ada apa ini? Tumben Nak Gara mampir ke sini? Bagaimana tadi, lancar pendaftarannya?” Tanya Mariam sambil mengukir senyum. Tatapan mata Mariam tertuju pada tangan Ayu Kinanti yang kini masih memegangi lengan Anggara dengan begitu erat.
“Alhamdulillah lancar, Bu.” Ucap Anggara sambil mengukir senyum pada bibirnya, Anggara melepaskan kacamatanya lalu menggantungnya pada saku kanannya. Anggara menyadari kalau sejak tadi Mariam melotot ke arah Ayu karena putrinya sedang menggenggam lengannya. “Ini tadi, Ayu terkilir Bu. Jadi rada sulit berjalan.” Jelasnya sambil melepaskan genggaman Ayu dari lengannya.
“Ibuuukk!” Ayu langsung menghambur memeluk Mariam lalu mencium pipi ibunya. Mariam bisa mencium aroma parfum pria pada tubuh putri semata wayangnya.
“Kamu ini, manja sekali! Kasian Nak Gara, kalau kamu manja begini! Bikin dia repot terus!” Omel Mariam pada Ayu.
“Hehehe.” Ayu menoleh ke arah Anggara seraya mengedipkan sebelah matanya.
Anggara terpana mendapatkan isyarat tersebut dari gadis yang diinginkannya. Anggara membalas tatapan mata Ayu dengan tatapan penuh hasrat. “Sialan, manis sekali kamu Yu! Bikin aku terus teringat sama kamu. Semua tentangmu, Yu! Semuanya yang ada pada dirimu begitu membuatku menginginkannya!” Umpat Anggara dalam hati.
“Nak Gara?” Tegur Mariam padanya. “Aku sama Ayu mau makan siang bersama, Nak Gara gabung sekalian ya?” Tawar Mariam dengan sedikit memaksa.
“Buk, Mas Gara itu sibuk, mau ngisi kuliah siang ini..”
“Iya, boleh Bu.” Potong Anggara dengan sengaja untuk mengganggu Ayu Kinanti.
Spontan Ayu Kinanti langsung mengedipkan kelopak matanya lebih cepat ke arah Anggara.
“Ayo-ayo masuk,” ajak Mariam padanya. Saat Anggara berada di belakang punggung Mariam, Ayu Kinanti langsung melotot sambil memuntir pinggangnya.
“Akh, sakit!” pekik Anggara dengan suara keras, sepertinya pria itu sengaja memekik padahal cubitan Ayu tidak terlalu keras.
“Mas Gara!” bentak Ayu dengan suara pelan, gadis itu memukul lengan atas Anggara dengan gemas.
“Nggak apa-apa biar akrab sama calon Ibu Mertua.” Bisiknya pada Ayu Kinanti. Anggara hampir menggamit kembali pinggang Ayu Kinanti, dia lupa kalau sedang berada di butik Mariam, lupa dengan statusnya suami Andini Septian! Lupa kalau dia bukan pria lajang!
“Awas, Ibuku dengar, Mati kamu!” Canda Ayu seraya mengukir senyum manis pada bibirnya.
Anggara memperlambat langkah kakinya, di sengaja membiarkan Ayu Kinanti berjalan lebih dulu menyusul Mariam. Anggara menatap postur tubuh Ayu Kinanti dari belakang. Dilihat dari sisi manapun tubuh tinggi, ramping milik Ayu Kinanti tetap membuat dirinya lebih berhasrat dibandingkan melihat tubuh Andini yang memiliki postur tubuh agak lebih pendek jika dibandingkan dengan Ayu Kinanti. Selain sikap ramah kedua orang tua Ayu yang mempercayakan putri mereka padanya, Anggara merasa nyaman tinggal di antara kedua orang tua Ayu dibandingkan tinggal di antara mertuanya sendiri!
Mariam ternyata sudah menyiapkan semuanya, awalnya Anggara pikir Ayu berbohong dan hanya mencari-cari alasan agar tidak tinggal lebih lama bersama dirinya di rumah namun ternyata Ayu Kinanti tidak berbohong tentang janji makan siang tersebut. Anggara merasa lega sekali.
“Nak Gara, ayo silakan duduk!” Mariam mengukir senyum sambil mempersilakannya.
Ayu sudah lebih dulu duduk di sana sambil menumpukan kaki satu pada kaki lainnya, gadis itu menepuk kursi yang ada di sebelahnya sambil melambaikan tangannya. Tidak hanya senyum manis, tapi juga kedipan sebelah mata Ayu Kinanti membuat Anggara tergila-gila.
Lagi-lagi Anggara diperlihatkan dengan paras yang begitu cantik dan seksi dari sosok Ayu Kinanti. Anggara duduk tepat di sebelah Ayu Kinanti. Pria itu mengambil gelas air di sana lalu meneguknya perlahan.
“Jika saja kamu masih lajang Nak Gara, Ibu pengen punya menantu seperti kamu!” Kelakar Mariam.
“Uhuk! Uhuk! Ibu bisa saja,” spontan Anggara langsung tersedak.
Sementara Ayu hanya bisa menundukkan wajahnya, pura-pura tidak mendengar ucapan ibunya.
“Tuh lihat, Ayu! Kayaknya putri ibu ngefans sama Pak Dosen! Hehehe!” Kekeh Mariam.
“Ibu ini, sudah ah! Jangan bahas soal nikah, Ayu masih pengen kuliah.” Ayu mencoba mengalihkan pembicaraan Mariam.
“Loh, kenapa? Memangnya kamu nggak mau, punya suami Dosen, ganteng, dan gagah seperti Nak Gara?”
“Mau, Buk!” Jawab Ayu cepat lalu meringis sambil menatap Anggara di sebelahnya.
“Uhuk! Uhuk!” Anggara kembali tersedak.
“Sudah, nikmati makan siangnya. Maafkan Ibu sudah kelewatan bercandanya, habisnya Ibu itu senang melihat kalian berdua. Ibu ini hanya bisa berandai-andai, mungkin saja Nak Gara punya teman di kampus. Sama-sama dosen, dan masih lajang, nanti ibu..”
“Uhuk! Uhuk!” Kali ini Anggara batuk lebih keras dari sebelumnya. Anggara sengaja memotong ucapan Mariam agar tidak membicarakan tentang perjodohan Ayu Kinanti dengan laki-laki lain.
Ayu sampai menepuk punggung Anggara. “Mas, sudah. Nggak usah diambil hati ucapan Ibu. Ibu juga nggak serius kok.” Seru Ayu dengan suara pelan. Ayu bisa melihat tatapan gelisah dari kedua mata Anggara, jelas sekali pria itu tidak mau kalau sampai Ayu dijodohkan dengan laki-laki lain. Tidak hanya tatapan gelisah tapi juga remasan jemari Anggara pada paha Ayu Kinanti di bawah meja! “Nggak akan Mas, Mas nggak udah cemas.” Bisik Ayu padanya.
Anggara tidak segera melepaskan tangannya dari paha Ayu, pria itu tetap menatap wajah Ayu dengan tatapan kesal dan marah.