“Bu, saya mau pamit dulu. Masih harus ngajar di kampus.” Ucapnya pada Mariam, sambil berdiri dari kursinya lalu membungkuk hormat padanya. “Loh, kok buru-buru, Nak?” Mariam ikut berdiri dari kursinya. “Mas Gara kan harus ngajar, Buk.” Sela Ayu, Ayu Kinanti ikut membantu Anggara untuk segera meninggalkan butik milik ibunya karena dia tahu kalau Anggara sama sekali tidak nyaman dengan pembicaraan Mariam tentang perjodohan antara Ayu dengan laki-laki lain. Ayu mengantarkan Anggara sampai di beranda butik, gadis itu melambaikan tangan kanannya. Ke arah Anggara yang kini berlalu bersama mobilnya. Anggara melaju bersama mobilnya menuju ke kampus tempat ia mengajar, dalam perjalanan menuju ke kampus dia terus teringat dengan ucapan Mariam tentang perjodohan Ayu dengan pria lain. “Sialan!

