Reema Kanaya

1404 Kata
Reema Kanaya merasa oksigen di lantai dua puluh tiga ini perlahan menipis. Ia sudah menyiapkan mental untuk bekerja secara profesional. Tapi ia tidak bersiap untuk dihina secara personal oleh atasan di depan rekan kerja di hari pertamanya bekerja. Tatapan pria itu menyapu kemeja katun Reema yang sudah ia setrika dengan sangat hati-hati subuh tadi. Di mata Reema, itu adalah pakaian terbaik yang ia punya. Di mata Dante, itu mungkin hanya kain murahan yang cocoknya jadi alas kakinya. “Pak, mungkin penampilan saya terlihat kampungan bagi Anda,” suara Reema bergetar, tapi ia menolak untuk membiarkan air matanya jatuh di depan pria yang bahkan tidak tahu nama belakangnya. “Ini hari pertama saya bekerja, jadi—“ “Itu seharusnya cukup jadi alasan tepat untuk kamu tampil memberi kesan yang baik depan atasanmu di hari pertamamu bekerja.” Potong Dante cepat, sambil melonggarkan dasinya. Tidak suka didebat. Reema kembali mengepalkan tangannya, merasakan keringat mulai membasahi tangannya. Dua orang lain di sana pun juga tidak membantunya keluar dari situasi penilaian hina seorang Dante. Sabar Re, sabar! Batin kecilnya menguatkannya. Ia menelan ludah, tapi tetap menjaga kontak mata secukupnya. Tatapannya tak berani terlalu lama, namun tak ingin terlihat ciut juga. Bisa saja bosnya tengah mengujinya. Dante kemudian melanjutkan, nadanya datar namun tajam pada Ibu Lastari yang mendampingi Reema. “Apa tidak ada yang lebih baik darinya?” sambil menunjuk Reema. “Pak, begini... dari wawancara dan seleksi sekretaris Bapak, Reema Kanaya yang paling memenuhi.” “Tampilan begini kamu bilang memenuhi?” Kembali diulang hinaannya, makin menancap tajam berulang dihatinya. “Pak, mungkin penampilan saya terlihat kampungan dan tidak enak dipandang untuk Bapak. Saya minta maaf... Saya akan memperbaikinya, besok.” Reema menemukan keberanian untuk menjawabnya lagi, masih berusaha sopan. "Baru perkenalan sudah meminta maaf saja!” Dante kembali menatapnya, makin dipandangi makin buat Reema gugup, “beritahu dia segalanya, jangan ada kesalahan bodoh seperti sekretaris terakhir...” Ibu Lestari memberi anggukan, tersenyum percaya diri untuk bagian ini, “kesalahan yang sama, tidak akan terulang. Saya sudah memberinya banyak arahan.” Ia sedikit mendekat, jeli menatap setiap jengkal wajah Reema, lalu suara bassnya terdengar lebih jelas, “silakan mengundurkan diri jika kamu tidak yakin...” Reema memberanikan diri untuk mengangkat wajah kemudian membalas tatapan mata sehitam langit malam itu, “saya berada di sini setelah melewati berbagai seleksi yang perusahaan Pak Dante siapkan, saya berusaha keras untuk itu... Menyerah sebelum memulai, sama dengan meragukan kemampuan diri saya sendiri dan orang-orang kepercayaan Pak Dante yang memercayakan pilihannya pada saya antara banyak kandidat lainnya. Kecuali penampilan hari ini, saya minta maaf jika tidak sesuai dengan yang Pak Dante harapkan.” Ekspresi Dante tak terbaca, tetapi satu alisnya naik mungkin terkejut. Reema memberi senyum terbaiknya, kemudian membungkuk “saya akan mengusahakan yang terbaik dari kemampuan saya untuk membantu Pak Dante...” Dante tidak menjawab selain meneruskan langkah, meninggalkan Reema yang menegakkan punggungnya. Bertemu tatap dengan Ibu Lastari yang tersenyum kikuk. “Re, seperti saya bilang tadi... Pak Dante sangat tidak suka kesalahan sekecil apa pun.” “Iya, Bu... Saya akan berusaha bekerja dengan baik.” Lalu Ibu Lastari ragu untuk bilang, tapi ia perlu kembali mengingatkan, “walau saya bilang, cerdas dan cekatan yang utama... tetap sebagai sekretaris Pak Dante, penampilan kamu memang jauh dari standar Pak Dante, Re. Maaf ya, saya bukan bilang jelek atau kampungan, seperti Pak Dante. Tapi, besok usahakan yang lebih modis ya, Re. Masa bos kamunya, gagah-ganteng begitu, kamunya pakai baju biasa saja, Re?” “I-iya, Bu.” Setelah sendiri, ia menarik napas dalam sambil mengelap tangannya yang basah. Untuk makan saja ia sudah mengirit-ngirit, mengusahakan untuk bertahan sampai gajian bulan depan. Ini, dia diminta berpakaian modis, apa Reema punya pakaian seperti itu di lemarinya? Tambah beban pikiran di hari pertamanya. Sementara itu Dante sudah duduk di ruangannya sambil melepaskan kancing jasnya, “kita lihat kepercayaan dirinya itu benar atau hanya omong kosong!” “Pak Dante bilang sesuatu?” tanya Hans, dan Lastari—asisten manajer operasional yang menyusul juga menatapnya karena merasa Dante bergumam sesuatu. Ia menyapu mejanya, kemudian menatap “di mana kopi untuk saya?” “Reema sedang membuatkannya,” beritahu Lastari. Tepat pintu diketuk, tidak lama sekretaris barunya masuk. Membawa langkahnya dengan pasti, ditangannya ia membawa secangkir kopi untuknya. Dante menautkan tangan dan meletakan di bawah dagu, memerhatikan saat Reema mendekat dan meletakan secangkir kopinya. Tangannya tidak ada gemetar sama sekali. Kegugupan tadi sudah hilang. “Silakan, Pak...” Wanita lebih tua di sana, Ibu Lastari menambahkan, “saya pastikan kopinya sesuai untuk Pak Dante. Saya sudah beritahu Reema takaran.” Dante menyesapnya sedikit. Hanya sedetik sebelum cangkir itu menghantam meja dengan bunyi kasar yang memekakkan telinga. “Terlalu asam! Apa kamu bahkan tahu bedanya kopi gayo dan air cucian piring?!” Reema tersentak. Kepanikannya memuncak. Saat ia terburu-buru hendak mengambil kembali cangkir itu, jemarinya yang gemetar tak sengaja menyenggol pinggiran porselen. Cairan hitam pekat itu tumpah, mengalir cepat ke atas celana bahan custom-made milik Dante. “Pak, maaf-maaf saya tidak sengaja!” Reema refleks meraih tisu, membungkuk, dan tangannya bergerak panik menyentuh paha Dante untuk mengeringkan noda itu. Waktu seolah berhenti. Dante mencekal pergelangan tangan Reema dengan kekuatan yang membuat gadis itu mematung. Napas Dante yang hangat namun berbau dingin mint menerpa wajah Reema yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter. “Siapa yang mengizinkan kamu menyentuh saya dengan lancang begini?” bisik Dante, suaranya lebih menakutkan daripada lawan bicara manapun. Reema sampai merasakan mulutnya kering, dan kesulitan menelan ludahnya. Tangan Reema masih dicekal dan ia lepas kasar. Dante mengambil tisu sendiri, membersihkannya, “bodoh, ceroboh!” hinanya kembali. Detik itu Reema merasa bahwa orang-orang salah menilai bosnya. Tampan, gagah dan kaya. Dimatanya, Anvaya Dante Sadajiwa adalah bos yang punya sikap dingin, galak dan dominan tak menoleransi kesalahan sekecil apa pun. “Re—Reema!” Lastari sampai memanggilnya berulang tapi Reema hanya mematung dengan wajah pucat. Dante menoleh, mengernyit mendapati sekretarisnya berdiri dengan mata berkaca-kaca. Apa Reema akan menyerah di hari pertamanya? Yang bahkan belum ada dua puluh empat jam dari ia menyandang status sekretaris Anvaya Dante Sadajiwa. *** Berusaha tetap profesional setelah kejadian pagi tadi, Reema mengikuti langkah bosnya yang baru meninggalkan ruang rapat sore ini. Begitu masuk, ia meletakkan map di mejanya. Dante tidak langsung duduk, melainkan berdiri menghadap jendela besar dengan pemandangan kota Jakarta yang padat. “Kamu bisa cepat mencatat tadi,” katanya tiba-tiba, “saya akan tahu dalam seminggu, apakah kamu hanya cepat... atau benar-benar paham.” Reema menegakkan badan. Ia tahu, ini ujian berikutnya. “Saya akan belajar, Pak. Beberapa istilah dalam meeting tadi memang masih asing ditelinga saya,” jawabnya jujur. Dante menoleh sekilas. Tidak tersenyum. “Di sini kantor, tempat bekerja. Bukan kampus atau sekolah, yang memang tempatnya belajar. Bedakan itu!” Sinisnya, lalu kembali duduk di kursinya dan mulai membuka laptop. Mendapati Reema masih berdiri di tempatnya, tanpa memandang, berkata pelan “ini hal pertama darimu untuk hari ini yang akhirnya tidak mengecewakan saya.” Itu mungkin bukan pujian... tapi bagi Reema, itu cukup satu kemajuan setelah kesalahan demi kesalahan tadi. “Saya bilang begitu, bukan berarti saya langsung puas sama pekerjaanmu. Paham kamu? Hanya satu yang baru benar, lainnya kamu mengacau. Terutama belum bisa membuat takaran kopi gayo favorit saya yang pas!” Sindirnya yang langsung membuat senyum Reema hilang. “Saya akan berusaha lebih baik, Pak.” Reema segera pamit, dan saat ia berbalik, Dante kembali mengangkat pandangan dengan sorot tajam yang mengikuti langkah sekretaris barunya. Rasa-rasanya perempuan polos ini, akan tahan banting menghadapi sikapnya. Berbeda dari sekretaris-sekretaris sebelumnya. Reema baru duduk sesaat, kemudian menarik napas dalam-dalam. “Entah keberuntungan, atau justru kesialan bekerja di sini... Tapi, gaji dan bonusnya sangat lumayan. Duh, kenapa harus Pak Dante sih yang jadi bosku?!” Hari pertama saja sudah terasa sangat berat. Bagaimana hari-hari ke depannya nanti. Dia melipat tangan, menenggelamkan wajah di sana hanya sesaat karena selanjutnya ia mendengar pintu di buka. Pria itu keluar ruangannya dan menemukan Reema masih bertahan menunggunya, “Pak Dante sudah selesai? Pak Dante mau pulang?” Dante hanya melirik sekilas, lalu melempar berkas yang segera Reema tangkap dengan refleks yang tepat. Jantungnya berdetak, banyak sekali tindakan tiba-tiba dari bosnya, "sampaikan itu pada Hans. Nanti dia datang ke sini!" "Saya tunggu Pak Hans, habis itu boleh pulang, Pak?" Dante tetap melangkahkan kaki sambil mengatakan, “terserah kalau kamu mau bermalam di sini.” “Saya kan hanya memastikan, Pak. Nanti salah lagi.” Cicitnya yang tidak berani keras-keras walau Dante masih bisa mendengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN