"Kau baik-baik saja?" Bujang mengusap wajah Keke. Istrinya itu masih pucat, sempat mengalami pendarahan, akhirnya dia bisa melewati masa sulit melahirkan putra nya dengan sehat. "Keke baik, walau masih agak pusing. Bayi kita ...." "Dia berada di ruang bayi, dia sangat kecil," ucap Bujang. Teringat olehnya, bagaimana bayi merah itu menangis di ruang bayi, sayangnya dia hanya bisa melihat dari luar setelah perawat menunjukkan nomor box bayinya pada Bujang. "Kelahiran terlalu mendadak." Keke berucap pelan. Dia memperkirakan kelahiran akhir bulan depan, tapi Tuhan berkehendak lain, bayi mereka lahir lebih awal. "Kau sempat pendarahan, Ke." "Ya, Keke tau, Keke masih bisa mendengar percakapan dokter saat melakukan bedah. "Dan ... Liyan, yang mendonorkan darahnya padamu." Keke tertegun, Li