⚠️ PERINGATAN KONTEN KHUSUS DEWASA (18+)
Novel ini mengandung konten eksplisit, deskripsi anatomis yang gamblang, bahasa kasar, dan komedi d***o tingkat dewa. Khusus pembaca 18+. Harap bijaksana.
Gema Kehinaan di Lantai Tiga
Lorong lantai tiga Gedung Multimedia yang biasanya sunyi dan hanya dihiasi suara dengung pendingin ruangan, kini berubah menjadi sirkuit lari paling memalukan dalam sejarah SMK Astapura 1. Suara telapak kaki Samuel yang basah menghantam lantai tegel terdengar ritmis: plak, plak, plak! Beradu dengan suara teriakan melengking Seli yang sudah kehilangan akal sehatnya.
Sam berlari dengan gaya pinguin cacat. Kedua tangannya memegang erat map ijazah yang sudah agak lembap untuk menutupi bagian pantatnya yang masih terasa perih, sementara di bagian depan, "Si Joni" yang sedang mengalami trauma fisik (lebam ungu akibat tiang podium) dan trauma mental (serangan Sari), berayun-ayun liar layaknya lonceng gereja yang ditarik secara brutal.
"SAMUEL! BERHENTI LU ANJING! LU MAU JADI EKSHIBISIONIS DI SEKOLAH?!" teriak Seli sambil mengayun-ayunkan celana olahraga biru di tangan kanannya.
"GAK MAU! LU m***m, SEL! LU MAU NGELIHAT JONO GUA YANG LAGI SAKIT KAN?! LU MAU PENCET-PENCET LAGI KAYA DI ELF KAN?!" balas Sam sambil menoleh ke belakang, wajahnya pucat pasi bercampur keringat dingin.
Seli tidak peduli. Bayangan Sam bersama Sari di toilet tadi benar-benar membakar otaknya. "LU JANGAN NGALES! GUA TAU LU ABIS NGAPA-NGAPAIN SAMA SARI! HIJABNYA AJA PUTIH TAPI KELAKUANNYA KAYAK JALANG! SINI LU, GUA PAKEIN CELANA SEKARANG!"
Interaksi Geng d***o di Lantai Bawah
Sementara di atas sedang terjadi maraton bugil, di aula lantai bawah, suasana wisuda resmi berakhir. Musik penutup "Kemesraan" sudah selesai, diganti dengan suara geseran kursi dan obrolan murid yang bersiap pulang.
Donald: (Sambil menggendong tasnya yang penuh sisa snack) "Eh, si Seli mana? Tadi katanya mau nyari si Pinguin Mencret, sampe sekarang belum balik. Jangan-jangan mereka lagi bikin acara wisuda sendiri di atas?"
Arron: (Memperbaiki letak kacamata) "Secara logistik, Samuel kemungkinan besar terjebak dalam krisis higienitas. Jika Seli menemukannya, probabilitas terjadinya konflik verbal sangat tinggi mengingat tingkat kestabilan emosi mereka yang setara dengan anak TK."
Jessica: "Bodo amat lah. Gua udah gak kuat sama bau aula ini. Gua mau balik, mau mandi pake deterjen biar kuman-kuman Sam hilang dari badan gua. Sar, lu jadi ke perpus?"
Sari: (Berdiri dengan sangat anggun, membetulkan letak hijab putihnya yang sangat rapi. Wajahnya tampak suci seperti malaikat) "Iya, Jess. Aku duluan ya. Tapi... sepertinya aku mendengar suara teriakan dari gedung sebelah. Apa mungkin Samuel butuh bantuan?"
Di balik wajah tenangnya, Sari sedang berfantasi liar. Dia tahu persis kondisi Sam karena dialah yang menyebabkan "peledakan" pertama di toilet tadi. “Hihihi... Sam, pasti Joni-mu lagi ungu sekarang gara-gara aku remes terus nabrak tiang. Aduh, pengen liat lagi... pasti Seli lagi d***o di sana,” batin Sari sambil tersenyum tipis yang sangat misterius.
Donald: "Udah lah Sar, biarin aja. Paling si Sam lagi berantem sama Seli gara-gara masalah tahi. Yuk cabut!"
Lab Multimedia: Persembunyian yang Sesak
Kembali ke lantai tiga. Sam merasa paru-parunya mau pecah. Mules di perutnya kembali menyerang akibat guncangan saat lari bugil. Tepat di depan pintu Lab Multimedia yang tidak terkunci, Sam langsung menerjang masuk dan membanting pintunya.
BRAKK!
Seli menyusul sedetik kemudian sebelum Sam sempat mengunci pintu. Di dalam ruangan yang gelap dan penuh dengan komputer itu, suasana mendadak mencekam. Bau AC bercampur dengan bau sabun lemon dari tubuh Sam.
"Sam... sini lu... jangan lari lagi..." napas Seli terengah-engah. Seragam putihnya yang ketat kini basah oleh keringat, memperlihatkan lekuk tubuhnya dan bra hitamnya yang semakin jelas menonjol di balik kain tipis itu.
Sam: (Meringkuk di balik meja server, mencoba menutupi badannya dengan ijazah) "Sel... lu d***o ya? Gua telanjang, bego! Lu mau apa sih?! Gua gak ada hubungan apa-apa sama Sari!"
Seli: (Mendekat dengan mata yang masih merah karena emosi dan sedikit nafsu yang ia tahan) "GAK PERCAYA! SARI TUH m***m! Tadi dia bilang burung lu 'menjanjikan'! Berarti dia udah liat punya lu kan?! Kenapa gua yang sahabat lu dari orok gak boleh liat?!"
Sam: "YA KARENA DIA YANG PEGANG DULUAN TADI PAS GUA LAGI MENCRET, BEGO! EH... ANU..." Sam langsung menutup mulutnya. Keceplosan.
Seli membeku. Matanya melotot. "APA?! DIA PEGANG?! SAMUEL!!!! LU BENERAN UDAH DINODAI SAMA HIJABER m***m ITU?!"
Seli langsung menerjang ke arah Sam di balik meja server. Sam mencoba menghindar, tapi karena lantai lab yang licin, Sam terpeleset dan jatuh terlentang di lantai. Ijazahnya terlempar ke samping.
Kini, Samuel Wijaya tergeletak telanjang bulat di lantai Lab Multimedia. Dan tepat di atasnya, Seli berdiri dengan kaki mengangkang. Pandangan Seli langsung jatuh ke bawah, tepat ke arah "Si Joni" yang sedang lebam kemerahan dan ungu, berdenyut pelan karena adrenalin lari maraton tadi.
Seli: (Napasnya memburu, matanya tidak bisa beralih dari batang ungu raksasa itu) "S-Sam... ini... ini beneran gede banget... pantesan si Sari ketagihan..."
Sam: (Malu luar biasa, mencoba menutupi Jononya dengan tangan) "SELI! JANGAN LIATIN TERUS! PAKEIN CELANANYA CEPET!"
Seli: "Bodo amat! Gua mau cek dulu lukanya! Kalo Sari boleh pegang, kenapa gua nggak?!"
Dengan d***o dan emosional, Seli berlutut di antara s**********n Sam. Tangan Seli yang gemetar mulai meraih celana olahraga, tapi matanya tetap terkunci pada Joni yang malang itu.
"S-Sel... lu mau ngapain? Lu jangan kaya Sari... Sel, jangan dipencet..." rintih Sam panik.
Seli: "Diem lu! Gua cuma mau bantu! Sini, angkat kaki lu!"
Di tengah suasana yang sangat kacau dan panas itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di koridor luar. Suara sepatu yang berat.
Tuk... Tuk... Tuk...
"Siapa di dalam? Kok pintunya terbuka?" suara itu adalah suara Pak Bambang, guru kedisiplinan yang paling galak.
Seketika Sam dan Seli membeku. Posisi mereka sangat tidak lazim: Sam telanjang bulat telentang di lantai, dan Seli sedang berlutut di antara paha Sam sambil memegang celana olahraga. Jika Pak Bambang masuk, karir mereka sebagai lulusan SMK resmi tamat dengan predikat "m***m di Lab Multimedia".
Sam: (Berbisik histeris) "Sel! Mati kita! Pak Bambang!"
Seli: (Panik setengah mati) "Masuk ke bawah meja server! CEPET!"
Seli menyeret Sam yang licin karena keringat ke bawah meja server yang sempit. Di bawah sana, mereka berhimpitan. d**a Seli yang besar menekan d**a Sam, dan Joni Sam yang ungu itu kini terjepit di antara paha Seli yang hangat.
"Sam... jangan napas... jangan kentut lagi..." bisik Seli tepat di telinga Sam.
Sam hanya bisa pasrah, merasakan sensasi kulit Seli yang basah keringat menempel di tubuh bugilnya, sementara di luar, bayangan Pak Bambang mulai masuk ke dalam ruangan.
Bersambung...