⚠️ PERINGATAN KONTEN KHUSUS DEWASA (18+)
Novel ini mengandung konten eksplisit, deskripsi anatomis yang gamblang, bahasa kasar, dan komedi d***o tingkat dewa. Khusus pembaca 18+. Harap bijaksana.
Aula SMK Astapura 1 masih terperangkap dalam "zona radiasi" aroma Samuel Wijaya. Meskipun jendela-jendela tinggi sudah dibuka maksimal oleh petugas kebersihan yang mengenakan masker kain berlapis-lapis, sisa-sisa molekul "mencret panggang stroberi" itu seolah memiliki intelejensi sendiri, bersembunyi di balik lipatan gorden beludru merah yang berdebu.
Acara wisuda dipaksakan terus berjalan demi formalitas. Di atas panggung, grup vokal siswi kelas XI sedang menyanyikan lagu "Kemesraan" milik Iwan Fals. Suara mereka tidak syahdu, melainkan sengau dan gemetar karena setiap kali mereka menarik napas untuk nada tinggi, yang masuk ke paru-paru mereka adalah partikel sisa "kiamat" Samuel.
Pak Hartono, Kepala Sekolah yang hidungnya sudah memerah karena iritasi gas metana, berdiri di podium dengan sapu tangan yang terus menempel di lubang hidungnya.
"Demikianlah... (uhuk)... suara emas dari adik-adik kelas kalian," ucap Pak Hartono lewat mik yang suaranya masih menyisakan dengung kentut Sam tadi. "Sekarang, kita masuk ke acara hiburan. Lomba Stand-Up Comedy antar jurusan! Tema hari ini adalah... Perpisahan."
Seorang murid Teknik Las naik ke panggung. Dia mencoba melawak, "Kalian tahu apa yang lebih perih dari perpisahan? Yaitu berpisah dengan oksigen segar karena ada yang boker di celana saat wisuda!"
Seketika, seluruh aula meledak dalam tawa yang menghina. Guru-guru di barisan depan hanya bisa menunduk malu, sementara para wali murid sibuk mengipasi wajah mereka dengan undangan wisuda.
Interaksi Geng d***o di Barisan Depan
Di barisan kursi yang kini sudah mulai renggang karena banyak orang menyingkir, Donald, Arron, Jessica, dan Sari masih bertahan.
Donald: (Sambil mengunyah kerupuk yang dicuri dari kotak nasi guru) "Gila, si Sam beneran jadi legenda urban. Besok pasti ada tulisan di mading: 'Hantu Mencret Multimedia'. Lu liat nggak tadi si Joni-nya nabrak tiang? BRAK! Gue rasa itu burung langsung amnesia, lupa caranya berdiri."
Arron: (Memperbaiki letak kacamatanya dengan gaya intelek d***o) "Secara biomekanika, tumbukan antara Jono Samuel dan tiang kayu itu menghasilkan gaya impuls yang cukup untuk merusak jaringan saraf sensitif. Jika tidak segera dikompres, kemungkinan besar Sam akan mengalami disfungsi ereksi permanen atau minimal... bengkok ke kiri."
Jessica: "Ih, Arron! Lu bahasnya teknis banget sih, jijik tahu! Gua tuh masih kepikiran noda cokelat di pantatnya. Tadi Kak Diana lari ke belakang panggung sambil nangis, terus denger-denger dia langsung buang almamaternya ke tempat sampah organik. Katanya trauma sentuhan."
Sari: (Duduk dengan hijab putihnya yang tersampir sangat rapi, wajahnya tampak sangat saleha, namun matanya berkilat nakal) "Jangan berlebihan, Jess. Sam itu cuma sedang... bereksperimen dengan aroma. Lagipula, tadi aku lihat 'asetnya' pas nabrak tiang itu... ukurannya sangat menjanjikan untuk regenerasi bangsa. Hanya butuh sedikit... pijatan lembut."
Seli: (Wajahnya gelisah, tidak tenang) "Kalian kok malah asik ngetawain sih? Dia itu sahabat kita! Itu pasti sakit banget, d***o! Bayangin kalo burung lu yang kena tiang, Don!"
Donald: "Ya makanya gua nggak boker di celana pas wisuda, Sel! Hahaha!"
Acara terus berlanjut. Ada lomba tari piring yang hampir gagal karena piringnya licin terkena uap lembap di aula, lalu ada sesi pemberian penghargaan bagi murid teladan (yang untungnya bukan Sam). Hingga akhirnya, musik instrumen sedih diputar, menandakan acara resmi berakhir dan para murid dipersilakan pulang.
Perpisahan dan Pencarian Sang Pinguin
"Yuk cabut! Bau ini sudah meresap ke pori-pori baju gua. Gua butuh mandi kembang tujuh rupa," ajak Donald sambil berdiri.
Jessica: "Ayo! Sar, lu ikut makan bakso depan sekolah nggak?"
Sari: (Tersenyum santun khas anak rohis) "Duluan saja, teman-teman. Aku harus ke perpustakaan dulu, ada buku agama yang harus kukembalikan. Mari, Assalamu'alaikum."
Sari berjalan menjauh dengan langkah anggun, tapi di balik hijabnya, dia sedang berpikir: “Sam pasti masih di Multimedia. Aku harus cek apa dia butuh bantuan... atau butuh belaian.”
Seli: "Kalian duluan aja. Tas Sam masih di gua. Ijazahnya juga lecek gara-gara dia tadi d***o. Gua mau cari dia bentar."
Seli memulai pencariannya. Dia memutar otak, mencari di setiap sudut sekolah yang mungkin dijadikan tempat persembunyian manusia paling malu sedunia itu. Dia mengecek gudang olahraga—kosong. Dia mengecek bawah tangga—cuma ada kucing. Satu jam berlalu, Seli sudah mandi keringat. Seragam putihnya yang agak ketat mulai menempel di punggung, memperlihatkan garis bra hitamnya yang kontras.
Tujuan terakhir: Gedung Multimedia Lantai 3. Tempat segala kekacauan bermula.
Seli melangkah di koridor yang sunyi. Begitu mendekati toilet, indra penciumannya menangkap bau sabun lemon yang sangat pekat—tanda seseorang baru saja melakukan pembersihan massal.
Penampakan di Ruang Kaca
Seli memberanikan diri masuk. "Sam? Lu di dalem? Jangan mati dulu, lu belum bayar utang gorengan gua!"
Tidak ada jawaban, hanya suara gemericik air. Seli masuk lebih dalam ke arah area wastafel yang dibatasi dinding kaca transparan. Dan di sanalah dia... Samuel Wijaya dalam kondisi telanjang bulat.
Celana abu-abunya tergantung di pipa air, basah kuyup karena habis dicuci sekuat tenaga. Sam sedang berdiri di depan cermin besar, mengamati tubuhnya. Karena merasa lantai 3 sudah sepi, dia cuek saja. Di balik pantulan kaca itu, "Si Joni" sedang bergelayutan bebas. Batangnya menjuntai gagah namun terlihat agak lebam kemerahan di bagian kepala akibat benturan tiang sakti tadi.
"S-SAMUEL...!!!" pekik Seli, suaranya melengking tinggi, memantul di keramik toilet yang licin.
Sam yang sedang asyik bilas muka langsung melonjak kaget. Kakinya terpeleset air sabun, membuatnya melakukan gerakan akrobatik d***o sebelum akhirnya ia berputar 180 derajat menghadap Seli. Kini, posisi mereka benar-benar berhadapan. Seli di ambang pintu, Sam di depan wastafel, dengan Joni yang bergoyang-goyang bebas karena gerakan kaget Sam.
"ANJING! SELI?! NGAPAIN LU DI SINI, BEGOOOOO!!!" teriak Sam dengan suara melengking.
Karena panik, Sam tidak mencari kain atau handuk. Ia malah menyambar map ijazah SMK-nya yang tergeletak di meja wastafel. Tapi karena otaknya sudah d***o permanen, ia bukannya menutupi selangkangannya, malah menutupi wajahnya dengan map ijazah itu.
"WOI! BALIK BADAN LU, BETINA d***o! JANGAN LIAT-LIAT ASET NEGARA!" teriak Sam dari balik map ijazah, sementara di bawah sana, Joni-nya masih melambai-lambai dengan bebas ke arah Seli.
Seli: (Mata melotot, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus, tapi ia tidak sanggup memalingkan wajah) "G-GILA LU YA! LU MAU PAMER?! ITU... ITU... KOK GEDE BANGET SIH, SAM?! DAN... DAN KOK WARNANYA AGAK UNGU GITU?! KAYA TERONG DICET!"
Sam: "YA KAN TADI NABRAK TIANG, t***l! ADUH, GUA MALU BANGET ANJING! TUTUP MATA LU!"
Sam baru sadar posisinya salah. Ia segera menurunkan map ijazah ke bawah untuk menutupi selangkangannya, tapi map itu terlalu kecil untuk menutupi paha dan asetnya yang membengkak. Akhirnya Sam memutuskan untuk jongkok di lantai, mencoba menyembunyikan diri di balik wastafel.
Seli masih berdiri di sana, dadanya naik turun dengan cepat. Nafasnya memburu. Pemandangan batang raksasa yang sedikit lebam itu terus terbayang di kornea matanya. "Gua bawa celana olahraga cadangan nih... tadi gua pinjem di gudang buat lu. Mau gua bantuin pakein gak?"
Sam melongo. "Hah? Lu mau pakein gua celana dalam kondisi gua telanjang begini? Lu beneran d***o apa emang ketularan mesumnya si Sari, Sel?!"
Seketika wajah Seli berubah. Senyum mesumnya hilang, diganti kerutan dahi yang tajam. Dia berhenti melangkah. Otaknya yang d***o mendadak bekerja cepat.
"Hah?! SARI?!" Seli berteriak. "LU BARUSAN BILANG APA?! MESUMNYA SAMA KAYA SARI?!"
Seli memutar otaknya. Dia ingat Sari yang tadi alim banget tapi matanya nakal. Dia ingat Sam yang boker di celana setelah dari toilet bareng Sari.
"JANGAN-JANGAN... LU ABIS NGAPAIN SAMA SARI, SAMUEL WIJAYA!!!!!! LU ABIS MACEM MACEM YA SAMA DIA DI SINI TADI?!"
Sam: (Panik, mencoba ngeles sambil jongkok)"Eeh... anu... kok Sari... duuh bukan Sari, Sel! Heheh... Lu... lu jangan ngaco! Sari kan anak baik-baik, anak rohis! Mana mungkin dia main gila di wc, hehe... Anu, maksud gua... lu itu... lu itu mesumnya kayak... kayak artis Jepang itu! Siapa namanya... Maria Ozawa! Nah iya, mesumnya sama!"
Seli: "GUA GAK KENAL MARIA OZAWA DAN GUA GAK PEDULI BODO AMAT SAM! LU JANGAN COBA-COBA NGALES!"
Seli makin d***o. Emosinya campur aduk antara cemburu, jijik, dan nafsu tersembunyi. "MAU A, B, C, D... SINI GUA PAKAIIN CELANA! JANGAN BANYAK BACOT LU!"
Seli melangkah maju dengan celana olahraga di tangannya. Sam punya firasat buruk. Dia takut Seli bakal "memencet" Jononya lagi seperti di dalam elf tadi pagi, atau lebih parah lagi, Seli bakal menertawakan lebamnya.
Sam: "GAK! JANGAN DEKET-DEKET! GUA BISA PAKE SENDIRI! LU KELUAR!"
Seli: "SINI LU! BURUNG LU UDAH UNGU BEGITU MASIH BELAGU!"
Seli mencoba menerjang Sam. Sam yang ketakutan langsung berdiri dan lari ngangkang menghindari Seli. Dia keluar dari area wastafel, lari ke lorong lantai 3 dalam kondisi telanjang bulat, dengan Jono yang berayun-ayun liar ke kiri dan ke kanan seperti lonceng gereja.
Seli: (Mengejar di belakang sambil mengayunkan celana olahraga) "TUNGGU SAMUEL WIJAYA!!!!!! WOOOY SAM!!!! TUNGGU INI CELANANYA!!!!! JANGAN PAMER JONOLU DI LORONG, t***l!!!!"
Sam terus berlari. Lorong lantai 3 Multimedia menjadi saksi bisu Samuel Wijaya, lulusan terbaik, lari maraton tanpa sehelai benang pun, dikejar oleh sahabat perempuannya yang membawa celana olahraga sambil teriak-teriak d***o.
"ANJING! MULES GUA BALIK LAGI! JANGAN KEJAR GUA, SELI m***m!!!!" teriak Sam sambil terus memegangi ijazahnya yang lecek, menutupi pantatnya yang masih trauma.
Bersambung...