⚠️ PERINGATAN KONTEN KHUSUS DEWASA (18+)
Novel ini mengandung konten eksplisit, deskripsi kotor (scatological), bahasa kasar, dan komedi erotis yang menjijikkan. Khusus pembaca 18+. Harap bijaksana.
Aula SMK Astapura 1 yang biasanya digunakan untuk upacara membosankan kini berubah menjadi arena gladiator aromatik. Oksigen di dalam ruangan itu seolah-olah telah bermutasi menjadi partikel beracun hasil penguapan ampas mencret Samuel Wijaya yang dipanaskan mesin pengering tangan. Bau "mencret panggang stroberi" itu kini mencapai puncak fermentasinya, menciptakan radius kematian yang membuat lalat pun enggan mendekat.
Di tengah keheningan yang mencekam sekaligus menjijikkan itu, suara pembawa acara melalui speaker bertenaga tinggi menggelegar kembali, "Sekali lagi dipanggil, lulusan terbaik jurusan Teknik Otomotif, Samuel Wijaya! Mohon segera naik ke atas podium untuk menerima penghargaan dari Bapak Kepala Sekolah!"
Samuel "Sam" Wijaya masih terpaku di kursi kayunya. Wajahnya yang semula merah padam kini berubah menjadi abu-abu monyet yang sedang sembelit. Ia tidak berani beranjak sesenti pun. Setiap kali ia mencoba mengangkat pantatnya sedikit saja, ia bisa merasakan kain celana abu-abunya yang basah lepek—campuran air sabun lemon, s****a kental, dan ampas mencret—menempel erat seperti lem Korea di kulit paha dan pantatnya. Rasanya dingin, lengket, dan memberikan sensasi geli yang mengerikan di lubang belakangnya.
"Woi, Sam! Tuli lu ya?! Nama lu dipanggil tuh, buruan naik! Lu mau bikin Pak Hartono nunggu sampe jenggotan?!" Donald berteriak sambil menutup hidungnya dengan plastik gorengan yang sudah kosong. "Tapi sumpah ya, Sam, lu naik panggungnya jangan lewat depan gua! Bau lu udah kayak bangkai babi. lu kecepirit seliter ya, Sam! Hahaha!"
Sam hanya bisa gelisah, salah tingkah, dan panik setengah mati. Tangannya gemetar memegang pinggiran kursi kayu yang malang itu. Ia melirik ke arah murid-murid lain. Sebagian besar masih fokus ke arah podium menunggu prosesi, namun sebagian besar lagi—terutama yang duduk di belakang Sam—sudah mulai menertawakannya dengan brutal.
"Hahahaha! Liat tuh si Sam! Mukanya kayak lagi nahan beban hidup 500 kilogram!" teriak seorang murid dari barisan belakang.
"Bukan beban hidup, d***o! Itu beban di celana! Liat tuh, pantatnya basah mengkilap gitu! Kayak ada cokelat lumer yang bocor! Hahaha, Sam Mencret! Sam Mencret!" sahut murid lain yang disambut tawa pecah seisi aula bagian belakang.
Sam merasa ingin menghilang dari muka bumi. Ia menoleh ke arah teman-temannya dengan tatapan penuh dendam sekaligus putus asa.
"Gua... gua lagi kena musibah, Don! Lu diem napa!" rintih Sam dengan suara yang ditahan agar tidak terdengar guru. Ia menatap Sari dengan tatapan membunuh, namun Sari justru duduk dengan tenang, menutupi mulutnya dengan ujung hijab, sementara bahunya terguncang hebat karena tertawa tanpa suara.
"Malu gua, Sam! Beneran malu! Ini hari kelulusan paling bersejarah sekaligus paling bau sepanjang sejarah sekolah!" Seli menutup mukanya dengan map ijazah, tubuhnya menjauh dari Sam sejauh mungkin. "Itu noda di celana lu keliatan jelas banget pas lu gerak sedikit tadi! Ya Tuhan, bau tainya menusuk sampe ke ginjal gua!"
Arron, yang selalu mencoba tetap logis, hanya bisa memperbaiki letak kacamatanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menutup hidung rapat-rapat. "Secara termodinamika, panas yang lu bawa dari toilet tadi mempercepat penyebaran molekul bau di ruangan yang minim ventilasi ini, Sam. Lu sekarang adalah senjata biologis paling mematikan di Astapura."
Jessica, yang sudah mengamankan posisi lima kursi di depan Sam, hanya melirik sekilas dari kejauhan dengan wajah penuh rasa jijik. "Gua nggak kenal dia! Seli, kalau lu masih deket sama dia, mending lu jangan main ke rumah gua selama sebulan! Baunya permanen itu mah!"
Sari Rahayu, sang arsitek di balik kekacauan ini, berbicara di dalam hati dengan gairah yang masih tersisa. “Hihihi... dasar Sam d***o. Nembaknya barengan sama ampas, tapi yang kental putih tadi beneran gurih... mmm... mungkin milik Sam bakal lebih enak kalau beneran masuk ke lubangku... lubangku yang udah becek gara-gara remesan Jono-nya tadi... hihihi,” ucap Sari dalam hati sambil sesekali menjilat bibirnya sendiri di balik hijab.
"Sam! Buru naik! Pak Hartono udah liatin lu tuh!" Seli kembali mendesak dengan nada panik karena semua mata mulai tertuju pada barisan mereka.
Tepat saat Sam hampir menangis karena tidak tahu harus bagaimana, sebuah sosok anggun namun penuh kewibawaan menghampirinya. Diana, sang Ketua OSIS yang dikenal sebagai gadis paling bersih dan perfeksionis se-antero SMK, berdiri tepat di samping Sam. Namun, seketika langkah Diana terhenti. Hidungnya yang mancung mengkerut hebat.
"S-Samuel?! Kamu kenapa tidak naik ke atas?! Pak Kepala Sekolah sudah memanggilmu tiga kali!" Diana membentak, namun suaranya langsung berubah sengau karena ia refleks menutup hidungnya dengan punggung tangan. "A-astaga... bau apa ini?! Sam, kamu habis nyemplung ke septic tank?!"
Sam menatap Diana dengan d***o dan pasrah. "Diana... gua... gua sakit perut parah tadi, terus... ada kecelakaan teknis..."
Diana melihat ke bagian belakang celana Sam. Matanya hampir melompat keluar melihat noda cokelat basah, mengkilap, dan berbusa yang melingkar tepat di p****t sang juara kelas. Sebagai Ketua OSIS, ia tidak mau acara wisuda agung ini hancur hanya karena noda kotoran manusia.
"Samuel, kamu ini d***o atau gimana?! Kamu mau naik ke podium dengan p****t penuh kotoran begitu?!" Diana mendesis kesal, air mata mulai menggenang di matanya karena bau yang terlalu menyengat. "Nih! Pakai ini! Lilitin di pinggangmu buat nutupi noda memuakkan itu! Cepat!"
Diana melepas sweater rajut biru tua miliknya yang tadi tersampir rapi di bahu. Ia menyodorkan sweater itu dengan ujung dua jari seolah-olah sweater itu adalah limbah nuklir berbahaya.
Sam menerima sweater itu dengan haru sekaligus d***o. "Na... lu baik banget... lu penyelamat harga diri gua..."
"Sudah jangan banyak bacot! Cepat pakai! Dan ingat ya, setelah acara ini selesai, sweater itu harus kamu cuci pake pemutih sepuluh botol, atau mending kamu bakar aja sekalian! Saya sudah tidak sudi menyentuhnya lagi! Sekarang naik! Cepat!" Diana memekik pelan dengan wajah pucat pasi.
Sam dengan gerakan kalap melilitkan sweater biru Diana di pinggangnya. Ia mengikat lengannya kencang di depan s**********n agar menutupi bagian pantatnya yang masih terasa hangat karena rembesan ampas. Dengan napas yang memburu dan jantung yang berdetak lebih kencang dari knalpot motor, Sam mulai melangkah menuju podium.
Langkah kaki Sam sangat legendaris. Ia berjalan dengan kaki yang dibuka sangat lebar (ngangkang total) agar gesekan antara paha dalamnya yang basah tidak semakin menyiksa, sekaligus menjaga agar "si Joni" yang masih sensitif tidak terjepit sweater.
"Hahahaha! Liat tuh jalannya si Sam! Kayak pinguin kena wasir!"
"Sam! Sweater baru ya?! Warna biru cokelat?!"
"Woi Sam, lu kenapa?! Sakit pinggang apa sakit p****t?!" teriak murid-murid di sepanjang jalan menuju panggung.
Sam sampai di atas podium dengan keringat dingin sebesar biji jagung. Di sana, Pak Hartono, Kepala Sekolah yang sudah berumur 60 tahun dengan kacamata tebal, menyambutnya dengan senyum lebar.
"Selamat ya, Samuel. Lulusan terbaik Teknik Otomotif," ucap Pak Hartono ramah. Namun, begitu Sam mendekat untuk bersalaman dan menerima map ijazah, senyum Pak Hartono mendadak membeku. Kumis tebal Pak Hartono bergerak-gerak seperti sedang mencium aroma kiamat.
"Huuu... (Pak Hartono menghirup udara)... Samuel... Selamat ya... Tapi, aduh... bau apa ini? Kok... kok sangat menusuk hidung ya?" Pak Hartono mulai batuk-batuk kecil.
Sam menyengir konyol, mukanya sudah matang seperti kepiting rebus. "Hehe... anu Pak... ini... ini parfum terbaru tren anak muda sekarang, Pak Kepala Sekolah... Aroma 'Natural Wood' bercampur 'Fermented Fruit'... hehehe..."
Pak Hartono mengernyitkan dahi sambil menutup hidung dengan sapu tangan. "Aroma kayu apa?! Ini mah bau jengkol basi bercampur kotoran kucing! Kamu makan jengkol ya tadi pagi?"
"Eh... engga Pak... anu anu... aduh..."
Tiba-tiba, sebuah bencana susulan terjadi. Perut Sam yang masih bergolak hebat akibat sisa-sisa gorengan kantin dan serangan Sari tadi tidak bisa diajak kompromi.
BROOOOTTTTTTTTT!!!!
Sebuah kentut yang sangat nyaring, panjang, dan bergetar hebat keluar dari lubang belakang Sam. Getarannya sampai membuat sweater Diana yang melilit di pinggangnya bergoyang kecil. Suara itu menggema melalui mikrofon yang kebetulan berdiri tepat di depan Sam. Seluruh aula langsung hening tiga detik sebelum akhirnya meledak dalam tawa yang paling kencang sepanjang sejarah SMK Astapura 1.
"Astagfirullah! Samuel! Kamu benar-benar makan jengkol ya?! Bau sekali ini! Parah kamu, sudah ijazahnya bawa sana, cepat turun! Bapak tidak kuat!" Pak Hartono hampir pingsan di tempat, matanya sampai memerah menahan bau gas metana murni dari perut Sam.
"Eh iya Pak... maaf Pak... Sam permisi dulu makasih Pak!" Sam meraih map ijazah itu secepat kilat.
Sam mencoba berbalik dengan cepat karena rasa malu yang sudah mencapai ubun-ubun. Namun, karena kondisi kakinya yang masih ngangkang dan sweater Diana yang melilit tebal, keseimbangan Sam terganggu. Ditambah lagi, matanya sedikit berkunang-kunang karena menahan mules yang kembali menyerang.
Saat ia berputar dengan gaya "drifting" d***o, ia tidak menyadari ada tiang kayu papan pengumuman yang berdiri tegak di samping panggung.
BRAAAAAAAKKKKKKK!!!!
Bagian s**********n Sam—tepatnya "si Joni" yang posisinya sedang tegang-tegang sensitif di balik kain basah—menabrak tiang kayu itu dengan telak.
"ANJING!!!!" teriak Sam dalam hati, suaranya tidak keluar karena ia langsung meringkuk di lantai panggung sambil memegangi selangkangannya. Matanya melotot, napasnya tercekat, dan sweater-nya sempat tersingkap memperlihatkan sedikit bagian paha yang basah cokelat.
Murid-murid di bawah panggung tertawa sampai ada yang terjatuh dari kursi.
"HAHAHAHAHA! JONONYA SAM KEGETOK TIANG!"
"MAMPUS LU SAM! TAI LU JANGAN SAMPE TUMPAH DI PANGGUNG!"
"SI JONI LAGI UPACARA MALAH NABRAK TIANG! g****k!"
Sam merintih kesakitan, harga dirinya sudah hancur berkeping-keping menjadi butiran debu. Ia melirik ke arah Sari di kejauhan. Sari masih duduk di kursinya, tertawa terpingkal-pingkal sambil menutupi mulutnya dengan hijab, seolah sangat menikmati penderitaan yang ia ciptakan sendiri.
“Bangsat... malu banget gua... Sari awas lu ya... gua bales nanti lu!” umpat Sam dalam hati sambil menahan nyeri yang luar biasa di "burung" kesayangannya.
Sam memaksakan diri untuk berdiri kembali meski selangkangannya terasa seperti dihantam palu godam. Ia tidak peduli lagi dengan seremoni atau salam-salaman dengan guru lain.
"Pak... Bu... Sam pamit dulu! Gak kuat mau ke wc! Panggilan alam mendesak!" teriak Sam dengan sisa-sisa tenaganya.
Sam langsung lari keluar dari atas panggung, meloncati anak tangga dengan gaya pinguin tercepat di dunia. Ia berlari keluar aula melewati kerumunan murid yang masih menyorakinya.
"SAAAAAAM!!! MAU KE MANA LU?!" Seli berteriak dari kejauhan, mencoba mengejar tapi terhenti karena bau yang ditinggalkan Sam masih menggantung di udara.
"Udah biarin aja Sel! Biarin dia menuntaskan takdirnya di jamban! Kasian itu udah di ujung tanduk!" Donald menahan tangan Seli sambil tertawa ngakak sampai perut buncitnya bergoyang-goyang.
"Tapi Don... Sam kayaknya sakit itu... tapi beneran bau tai... Malu gue temenan sama dia tapi kasihan juga!" Seli bimbang, wajahnya menunjukkan perpaduan antara empati dan rasa mual.
Di kursinya, Sari menatap punggung Sam yang menjauh dengan tatapan yang sangat nakal. “Kita tunggu tanggal mainnya, Sam... Jono-mu yang kuat nahan tiang tadi pasti enak banget kalau masuk ke lubangku... hihihihi,” gumamnya pelan di balik senyum iblisnya.
Sam terus berlari keluar gedung sekolah. Angin sejuk Astapura sama sekali tidak membantu mendinginkan perutnya yang kembali melilit hebat. Ia berlari secepat kilat menuju gedung Multimedia, menuju toilet nomor empat yang bersejarah itu.
"Anjing... anjing mules... Babi lu Sari! Babi!" teriak Sam sepanjang koridor.
Sam membanting pintu toilet Multimedia yang sepi. Ia masuk ke dalam bilik nomor empat, tempat segala kekacauan ini bermula. Ia melepas sweater Diana dengan sangat hati-hati agar tidak kena noda, lalu segera jongkok di atas kloset.
CROT! BROOOT!
melanjutkan "boker" yang tertunda akhirnya meledak dengan dahsyat. Sam terduduk lemas di dalam bilik, memegangi kepalanya yang pusing. Hari kelulusannya yang harusnya indah kini resmi menjadi aib sejarah yang akan dibicarakan selama tujuh turunan di SMK Astapura 1. Sebuah wisuda yang diwarnai dengan aroma tai, s****a, dan tragedi Jono menabrak tiang.
Bersambung...