Ampas Basah dan Aroma Kiamat

1889 Kata
⚠️ PERINGATAN KONTEN KHUSUS DEWASA (18+) Novel ini mengandung konten eksplisit, deskripsi kotor (scatological), bahasa kasar, dan situasi seksual yang menjijikkan. Khusus pembaca 18+. Harap bijaksana. Suasana di dalam toilet Multimedia lantai tiga itu kini bukan lagi sekadar tempat buang hajat, melainkan sebuah laboratorium bencana biologis yang paling mengerikan dalam sejarah SMK Astapura 1. Samuel Wijaya berdiri mematung di tengah ruangan, sementara oksigen di sekitarnya seolah-olah telah bermutasi menjadi gas beracun yang mematikan saraf penciuman. Di depannya, Sari Rahayu berdiri dengan tenang, sosoknya yang mengenakan hijab rapi seolah menjadi kontras yang sangat tidak masuk akal dengan situasi kacau-balau yang baru saja meledak di antara mereka. Sam benar-benar berada di titik nadir. Otaknya yang biasanya hanya berisi tentang skema mesin otomotif dan cara menggoda Seli, kini dipaksa untuk memproses sebuah kenyataan pahit: ia baru saja mengalami "klimaks ganda". Satu tembakan kenikmatan dari si Joni yang baru saja membanjiri tangan Sari, dan satu ledakan kehinaan dari lubang belakangnya yang baru saja melepaskan ampas mencret tepat di dalam celana abu-abu sekolahnya. Bau ampas yang hangat itu mulai merambat naik, bereaksi dengan sisa-sisa aroma amis s****a dan hawa pengap toilet yang jarang dibersihkan. Sam bisa merasakan sesuatu yang kental, lengket, dan panas mulai meresap ke dalam serat kain celananya yang tidak dilindungi oleh celana dalam. Secara logika, tanpa adanya penghalang kain k****t, ampas mencret itu langsung melakukan kontak fisik yang intim dengan kulit p****t dan paha bagian dalamnya, menciptakan sensasi yang bikin Sam ingin mencopot kulitnya sendiri. "Sar... bantuin gua, anjing! Lu liat kan ini celana gua jadi gimana?!" rintih Sam dengan suara serak, hampir menangis karena harga dirinya yang setinggi langit sebagai cowok idola sekolah kini sedang berada di level paling rendah di bawah ubin toilet. Sari, yang sedang sibuk mengelap tangannya yang berlumuran sisa cairan Sam dengan tisu, hanya menoleh sekilas. Wajahnya yang tampak alim itu justru menunjukkan seringai tipis yang sarat akan kepuasan melihat penderitaan Sam. "Bantuin gimana, Sam? Lu pikir gua mau nyentuh ampas mencret lu? Secara logika, itu kotoran lu sendiri, Sam. Lu yang makan gorengan basi, lu yang gak bisa nahan diri pas gua 'pancing', jadi ya itu tanggung jawab sendiri lah Samuel Mencret!" "Tapi gua harus naik panggung wisuda sebentar lagi, Sari d***o! Nama gua Samuel Wijaya, bukan Samuel Mencret!" Sam berteriak tertahan, takut suaranya terdengar sampai ke koridor. "Ya makanya, buruan cuci! Tapi jangan semua, ntar lu dikira abis nyebur got," jawab Sari ketus. Ia kemudian berbalik ke arah cermin, kembali sibuk merapikan hijabnya yang sedikit berantakan akibat "pergulatan" singkat di dalam bilik tadi. Sam tidak punya pilihan. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia melorotkan celana abu-abunya. SREEEET! Begitu kain celana itu jatuh ke lantai toilet yang dingin, pemandangan paling absurd tercipta. Si Joni yang besar, tebal, dan urat-uratnya masih menonjol akibat sisa ereksi brutal tadi, langsung melompat keluar dengan liar. Batang Sam yang masih tegang sempurna itu mengayun-ngayun di antara kedua paha Sam yang kini terlihat gemetar ketakutan. Di bawahnya, di atas kain celana yang melorot, onggokan ampas mencret berwarna cokelat pekat tampak melekat dengan sangat tidak estetis. karena Sam baru saja ejakulasi, si Joni harusnya mulai lemas. Namun, adrenalin karena rasa takut ketahuan Donald tadi dan dikombinasikan dengan kepanikan luar biasa, justru membuat aliran darah Sam tertahan di sana, membuat si Joni tetap berdiri tegak di tengah-tengah tragedi ampas tersebut. "Buseeet... itu Joni lu masih ngajak berantem ya meski lagi kena musibah?" ledek Sari sambil melirik lewat cermin, matanya menyapu tubuh Sam dari atas sampai bawah dengan tatapan yang sulit diartikan. Sam tidak mempedulikan ledekan itu. Ia menyambar botol sabun cair cuci tangan aroma lemon yang ada di pinggir wastafel. Dengan kalap, ia menumpahkan hampir setengah botol cairan sabun itu tepat ke atas noda cokelat di p****t celananya. Ia kemudian menyalakan keran dan mencoba mengucek bagian yang kotor itu. Namun, inilah kesalahan logika fatal yang dilakukan Sam. Karena kain seragam SMK itu terbuat dari bahan polyester tebal yang sulit menyerap air, sabun cair yang bercampur sedikit air itu justru membuat ampas mencretnya meleber ke area yang lebih luas. Bukannya bersih, noda itu kini berubah menjadi cairan cokelat muda yang berbusa, encer, dan basah kuyup sampai ke bagian depan paha celananya. "Anjing! Basah! Basah banget!" Sam makin histeris. Celananya sekarang bukan cuma kotor, tapi sudah seperti habis direndam di dalam ember berisi air kopi lemon. "Pake itu, Sam! Mesin pengering tangan!" Sari menunjuk ke arah alat hand dryer merk murahan yang tertempel di dinding pojok toilet. Sam, dalam kondisi telanjang bulat dari pinggang ke bawah, lari menuju mesin tersebut. Ia harus nungging dengan posisi yang sangat rendah agar corong udara panas mesin itu bisa menjangkau bagian p****t celananya yang sedang ia pegang. Si Joni yang masih tegang ikut terpapar hembusan angin panas, membuatnya berdenyut-denyut karena suhu yang meningkat tiba-tiba. WUUUUUUUSSSSSHHHHHH! Suara mesin menderu kencang. Udara panas mulai menghantam bagian celana yang basah lepek itu. termodinamika, panas yang mengenai cairan organik (ampas mencret) justru akan mempercepat proses penguapan partikel aromatiknya. Hasilnya? Aroma kiamat meledak. Bau mencret yang tadinya hanya tercium di sekitar Sam, kini menguap hebat dan memenuhi seluruh radius ruangan toilet. Bau "mencret panggang" yang bercampur dengan kimia sabun lemon dan sisa-sisa amis s****a menciptakan sebuah simfoni aroma yang begitu busuk hingga membuat mata Sam perih. "HUEEEKKKK! SAMUEL MENCRET! SUMPAH YA LU JOROKNYA GAK ADA OBAT!" Sari yang tadinya santai, kini benar-benar mual. Ia menutup hidungnya dengan ujung hijabnya, wajahnya pucat pasi menghirup uap ampas yang beterbangan. "Itu tainya malah mateng kena panas! Berhenti, Sam! Bau banget b*****t!" "GUA JUGA MAU MUNTAH, SAR! TAPI GIMANA LAGI, t***l LO?!" Sam terus bertahan. Namun, mesin pengering itu hanya mampu memberikan rasa hangat, tidak cukup kuat untuk mengeringkan kain yang sudah terlanjur basah kuyup oleh air sabun. Setelah tiga menit yang terasa seperti neraka, Sam menyadari bahwa celananya tidak akan kering dalam waktu singkat. Kainnya tetap basah lepek, lengket, dan berwarna cokelat mengkilap. Namun, suara pengumuman dari aula di lantai satu sudah mulai memanggil nama-nama siswa. Waktunya habis. Dengan perasaan hancur, Sam terpaksa menarik kembali celana yang masih basah dan hangat itu ke tubuhnya. Begitu kain itu ditarik naik—SREEEET!—Sam merintih pelan. Karena tidak memakai celana dalam, kulit pantatnya yang sensitif langsung bersentuhan dengan sisa-sisa ampas basah dan busa sabun yang belum dibilas bersih. Rasanya sangat menjijikkan, lengket, dan memberikan sensasi dingin yang menggelisahkan di lubang belakangnya. "Siniin parfum lu!" Sam menyambar botol parfum stroberi milik Sari yang ada di wastafel. Tanpa ampun, ia menyemprotkan cairan itu sebanyak mungkin ke arah s**********n dan pantatnya. CROT! CROT! CROT! CROT! Sekarang, kondisi Samuel Wijaya adalah definisi dari bencana berjalan. Ia mengenakan kemeja putih yang rapi di atas, tapi bagian bawahnya adalah celana yang basah lepek melingkar di p****t, berbau perpaduan antara stroberi busuk, lemon kimia, dan kotoran manusia yang dipanaskan. "Dah! Ayo turun, atau nama lu dilewati!" Sari menarik tangan Sam, dan mereka berlari menuruni tangga darurat menuju aula utama. AULA WISUDA - ATMOSFER KEMATIAN Di dalam aula, suasana sedang khidmat. Bapak Kepala Sekolah sudah berdiri di podium, siap menyerahkan map ijazah kepada para lulusan. Donald, Seli, Jessica, dan Aaron sudah duduk rapi di barisan depan. Donald sesekali melirik pintu belakang, mencari keberadaan Sam yang tidak kunjung muncul, sementara tangannya masih memegang plastik gorengan yang aromanya sudah kalah jauh dengan apa yang akan segera datang. Pintu aula terbuka sedikit. Sam masuk dengan gaya jalan yang sangat tidak wajar. Ia berjalan dengan kaki yang sangat terbuka (ngangkang), berusaha agar paha bagian dalamnya yang basah tidak saling bergesekan, sekaligus menjaga agar si Joni—yang entah kenapa masih setengah tegang—tidak terjepit ritsleting celana yang basah. Begitu Sam melangkah melewati barisan kursi kelas sebelah, sebuah fenomena aneh terjadi. Gelombang bau itu merambat lebih cepat daripada langkah Sam. Murid-murid yang dilewatinya serentak menoleh. Ekspresi mereka berubah dari bosan menjadi jijik dalam sekejap. "Woi... bau apaan nih? Kayak ada septitank bocor di bawah lantai?" bisik seorang siswa sambil menutup hidung dengan dasinya. "Gila, baunya kayak tahi yang dikasih parfum cewek. Mau muntah gua!" sahut temannya. Sam terus melangkah maju, wajahnya dibuat setegar mungkin meski keringat dingin membanjiri dahinya. Ia sampai di barisan kursinya dan mencoba duduk di sebelah Seli. Secara logika, kursi aula yang terbuat dari kayu jati keras itu tidak akan menyerap cairan. Begitu p****t Sam yang basah kuyup dan lengket itu nempel di kursi... SPLAAAT... KREEEKKK... Suara kain basah yang terjepit dan bergeser di atas kayu itu terdengar cukup keras di antara keheningan aula. Sisa cairan cokelat di celana Sam tertekan keluar, menciptakan jejak basah berwarna cokelat di atas permukaan kursi kayu. Seli, yang sedang sibuk membetulkan letak toga di kepalanya, mendadak berhenti bergerak. Hidungnya yang sensitif langsung mendeteksi adanya serangan aroma yang tidak lazim. Ia menoleh perlahan ke arah Sam, lalu pandangannya turun ke arah bawah, ke arah s**********n Sam yang terlihat basah lepek dan ada noda melingkar yang mengkilap. "Sam... lu..." Seli menarik napas pendek, dan seketika itu juga matanya membelalak. Bau "mencret panggang stroberi" itu langsung menyerbu indra penciumannya. "SAMUEL! LU JOROK BANGET ANJING! LU BOKER DI CELANA YA?! LIHAT TUH KURSI LO DUDUKI JADI BASAH COKELAT! HUEKKKK!" Teriakan Seli yang melengking itu membuat seluruh barisan depan menoleh serempak. Donald, yang tadinya mau menawarkan bakwan dingin ke Sam, langsung melempar plastiknya ke bawah. "ANJIRRR! Sam! Gila lu! Ini mah bau dajjal!" Donald menutup hidungnya rapat-rapat dengan kerah seragamnya. "Pantesan tadi di toilet bunyinya kayak meriam karbit! Lu mencret beneran ya?! Lihat tuh, kursi lu sampe becek gitu! HUEKKK! Najis gua deket-deket lu!" Jessica yang duduk tepat di depan Sam, langsung berdiri secara refleks. "Sam, sumpah ya! Ini hari kelulusan paling menjijikkan! Lu bawa kotoran ke dalam aula?! Lihat tuh p****t lu basah kuyup, baunya sampe ke sini! Gua nggak mau tahu, gua pindah kursi!" Jessica benar-benar pindah, hampir menabrak guru yang sedang lewat. Aaron, yang biasanya tetap tenang dan cool, hanya bisa menggelengkan kepala sambil menutup hidungnya dengan buku ijazah yang baru di terima. Sam hanya bisa menunduk, wajahnya merah padam menahan malu yang tak terlukiskan. Ia bisa merasakan air sabun yang bercampur ampas itu mulai mengalir turun ke arah lipatan pahanya karena posisi duduknya yang menekan kain celana. Rasanya gatal dan panas. Sementara itu, Sari yang duduk di barisan samping hanya menutup mulutnya dengan tangan, bahunya terguncang karena tertawa tanpa suara. Ia benar-benar menikmati momen kehancuran Samuel Wijaya. Tiba-tiba, suara pembawa acara bergema melalui speaker besar: "Samuel Wijaya, lulusan terbaik jurusan Teknik Otomotif dengan nilai praktek sempurna, harap segera naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan dan ijazah dari Bapak Kepala Sekolah!" Seluruh aula mendadak hening, kecuali suara bisik-bisik jijik yang mulai menjalar dari depan ke belakang. Sam mematung. Ia harus berdiri sekarang. Saat ia berdiri dari kursi kayu itu, terdengar suara SREEEET... karena kain celananya yang basah dan lengket menempel sedikit di permukaan kayu. Begitu ia berdiri, semua orang di belakangnya bisa melihat dengan jelas noda basah cokelat melingkar di pantatnya dan bekas cairan di atas kursi yang ditinggalkannya. "Mampus Nama gua di panggil... harga diri gua... Joni gua... tamat hari ini...Anjing anjing!!!" gumam Sam dengan langkah gemetar. Ia mulai berjalan menuju tangga panggung dengan gaya ngangkang yang sangat mencolok. Setiap langkahnya meninggalkan jejak aroma stroberi busuk yang tertinggal di udara, sementara ratusan murid pasang mata menatapnya dengan kombinasi antara tawa, kasihan, dan jijik yang luar biasa. Di atas panggung, Bapak Kepala Sekolah yang sudah tua dan memiliki penciuman sensitif, mulai mengernyitkan dahi saat Sam mulai menaiki anak tangga pertama. Aroma kiamat itu kini resmi menuju ke arah otoritas tertinggi sekolah. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN