Simfoni di Ambang Batas

1691 Kata
⚠️ PERINGATAN KONTEN KHUSUS DEWASA (18+) Novel ini ditujukan khusus bagi pembaca berusia 18 tahun ke atas. Mengandung konten eksplisit, bahasa kasar, komedi erotis, dan deskripsi anatomis yang gamblang. Harap bijaksana. Dunia Sam serasa runtuh dalam hitungan detik. Di dalam bilik toilet nomor empat yang sempit dan berbau karbol murahan itu, akal sehatnya sedang diuji di ambang batas. Di depannya, Sari Rahayu—gadis yang selama tiga tahun dikenal sebagai ikon kesopanan di sekolah—berdiri tanpa sehelai benang pun. Kulitnya yang kuning langsat tampak kontras dengan dinding ubin toilet yang kusam dan berkerak. Tatapan Sari tidak lagi menunjukkan rasa malu; matanya sayu, penuh kabut gairah yang bisa melelehkan kutub utara. Namun, yang membuat jantung Sam hampir copot bukan hanya pemandangan "surga" di depannya, melainkan suara gedoran brutal dari luar pintu kayu yang rapuh itu. DUG! DUG! DUG! "Sam! Sam! Lu di dalem kan, monyet?!" Suara cempreng Donald menggelegar, memantul di tembok-tembok tinggi laboratorium Multimedia yang sepi di lantai tiga. "Ini gorengan lu, Sam! Masih anget, tapi udah nggak suci lagi gara-gara kena debu koridor! Kata Pakde sama Mbak Nur lu lari ke sini kayak dikejar reog. Di toilet bawah nggak ada, ya pasti lu di sini!" Sam mematung. Keringat dingin sebesar biji kedelai mulai mengucur deras dari pelipisnya, mengalir melewati rahangnya yang kaku karena menahan teriakan. Ia ingin menjawab, tapi tenggorokannya serasa disumbat segumpal kapas kering. Di satu sisi, adrenalinnya memuncak melihat tubuh Sari yang begitu indah. Di sisi lain, perutnya melilit bukan main—efek goncangan saat ia berlari kencang dari kantin tadi benar-benar membuat isi ususnya seperti diaduk blender dalam kecepatan tinggi. Gas di dalam perutnya sudah bergolak, menuntut jalan keluar dengan paksa, sementara di depannya, Sari justru melangkah maju. "S-Sari... pakai baju lo, demi Tuhan!" bisik Sam dengan suara yang gemetar hebat. Ia berusaha memalingkan wajah, tapi matanya seolah memiliki kehendak sendiri untuk terus menatap belahan d**a Sari yang membusung menantang. Sari justru mendekat, mengabaikan perintah Sam. Ia menempelkan telunjuknya yang lentik ke bibir Sam, memberikan gestur agar pemuda itu tetap diam. "Ssshhh... kalau kamu berisik, Donald bakal makin curiga, Sam," bisik Sari tepat di telinga Sam. Hembusan napas hangatnya yang beraroma mint membuat bulu kuduk Sam meremang. "Tapi lo telanjang, bego! Kalau Donald dobrak ini pintu, karir kita tamat sebelum dapet ijazah!" Sam membalas dengan bisikan yang ditekan sedalam mungkin. Suaranya serak, bercampur antara nafsu yang tertahan dan rasa mulas yang kembali menyengat ususnya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. "Woy, Sam! Jawab napa! Lu lagi boker apa lagi pingsan karena nyium bau lu sendiri?!" teriak Donald lagi, kali ini suaranya terdengar sangat dekat, mungkin telinganya sudah menempel di pintu. "Gue tahu lu di dalem! Sepatu lu yang dekil itu kelihatan dari bawah pintu, d***o!" Sam melirik ke bawah pintu. Benar saja, celah di bawah pintu kamar mandi itu cukup lebar untuk memperlihatkan eksistensi sepatunya. Ia terjebak. Ia tidak bisa lari, tidak bisa bersembunyi, dan ada seorang gadis telanjang di dalam bilik yang sama dengannya. "Don! Ini... ini gua lagi dengerin podcast! Podcast horor! Lu pergi gih, jangan ganggu konsentrasi boker gua!" teriak Sam dengan nada yang dibuat-buat galak, sambil tangannya berusaha menepis tangan Sari yang mulai meraba dadanya. Sari justru tertawa tanpa suara. Ia sengaja menggesekkan tubuh polosnya ke seragam abu-abu Sam. "Sam... kamu kok gemeteran gitu? Takut ya kalau ketahuan?" bisik Sari binal. Jemari mungilnya yang hangat merayap turun ke arah ikat pinggang Sam. "Sam? Kok ada suara bisik-bisik?" Donald di luar mulai curiga. "Lu nggak lagi telponan sama Mbak Nur minta tambahin sambel kan? Atau... lu lagi bawa koleksi video 'anu' ke dalem? Wah, parah lu! Bagi link-nya dong!" "Nggak ada cewek, anjir! Itu suara iklan di podcast! Udah sana pergi, d***o! Lu mau gua lempar pake gayung?!" seru Sam, suaranya naik satu oktav karena panik. Sari melihat kepanikan Sam sebagai peluang. Dengan satu gerakan mantap, ia menarik ritsleting celana Sam. SREEET! Begitu kain itu terbuka, "si Joni" yang sudah menahan beban penderitaan sejak di angkot tadi langsung melompat keluar dengan gagah berani. Batangnya yang besar, tebal, dan berdenyut kencang karena ereksi maksimal terpampang nyata di depan mata Sari. Sam merasa udara di sekitarnya mendadak habis. "Waah, Sam... ternyata benar-benar besar... hihihi," bisik Sari pelan, nyaris seperti desisan ular yang sedang mengincar mangsa. Matanya menatap Joni dengan binar kagum yang luar biasa, seolah-olah ia sedang melihat sebuah mahakarya. "Punya kamu bagus banget, Sam..." "S-Sari... apa-apaan sih lo anjir! Ngaceng k****l gua, bego! Jangan sekarang!" desis Sam panik setengah mati. Ia mencoba menarik celananya kembali, tapi tenaganya seolah menguap saat Sari dengan cekatan memegangi tengkuknya. Tanpa peringatan, Sari menarik wajah Sam dan membenamkannya tepat di antara kedua payudaranya yang kenyal dan panas. PLUP! "Mmmmmppphhh!!!" Sam meronta, suaranya teredam sempurna oleh daging empuk Sari. Sam megap-megap, hidungnya terhimpit belahan d**a yang harum sabun bayi dan keringat tipis, sementara mulutnya secara tak sengaja mengecap p****g Sari yang sedang mengeras. Aroma tubuh gadis itu mulai merusak sirkuit logika di otak Sam. Di luar, Donald makin curiga. "Sam? Lu lagi ngapain sih di dalem? Kok suaranya kayak orang lagi disumpal kaos kaki? Lu nggak lagi dimakan genderuwo penghuni toilet ini, kan?" Sari melepaskan dekapan dadanya sedikit agar Sam bisa bernapas, tapi tangannya yang lain mulai menggenggam batang Joni dan melakukan gerakan naik-turun dengan ritme yang lambat namun penuh tekanan yang pas. Sam merasa jiwanya hampir melayang keluar dari ubun-ubun. "I-iya! Iya, Don! Gua masih mules... mmmppphhh!" Sam berteriak ke arah pintu sambil berusaha mengatur napas di sela-sela d**a Sari. "Lu... lu duluan aja ke aula! Gua lagi kritis nih! Nggak kuat gua, perut gua mau meledak!" "Kritis gimana? Lu boker apa lagi proses melahirkan?!" Donald tertawa mengejek, suaranya makin dekat. DUG! DUG! DUG! "Gue nggak mau tahu, gue nungguin di sini sampe lu keluar! Buruan, Pak Kepsek udah mau pidato!" Sam makin gelisah. Rasa nikmat dari kocokan tangan Sari yang mulai licin karena cairan alami mulai bercampur dengan tekanan luar biasa dari lubang belakangnya yang sudah berada di ujung tanduk. Sam memegang pundak Sari, tubuhnya gemetar hebat antara menahan gairah dan menahan ampas yang ingin menyeruak keluar. "Sar... udah Sar... bahaya... aduuh..." bisik Sam parau, matanya mulai memutih. BROOOOOTTTT!!! Sebuah ledakan gas yang sangat nyaring, panjang, dan bergetar hebat menggema di ruangan sempit itu. Getarannya terasa hingga ke ubin toilet. Sari tersentak kaget sampai matanya melotot, tangannya sempat berhenti bergerak karena saking kencangnya getaran dari arah b****g Sam. Sam melepaskan wajahnya dari d**a Sari dengan napas terengah-engah, lalu berteriak sekuat tenaga ke arah pintu dengan nada frustrasi. "TUH DENGER KAN?! GUA LAGI BOKER, DON! PUAS LU?! GEDE BANGET KAN SUARANYA?!" Donald di luar sempat terdiam tiga detik. Hening yang mencekam sebelum akhirnya tawa Donald meledak sehebat-hebatnya. "ANJIRRR! Nyaring banget itu kentut! Bool lu udah kayak pipa knalpot racing yang dimasukin blower, Sam! Hahahahaha! Gila, geter sampe ke lantai ini! Pantesan lu sembunyi di Multimedia, mau konser lubang p****t ya?!" Donald menyeka air matanya yang keluar karena saking lucunya suara itu. "Ya udah, Sam! Cepetan boker lu! Acara wisuda mau mulai! Gua duluan ke aula, jangan lama-lama lu, ntar bau mencret lu ketinggalan di rapot! Hahaha, buset... nyaring bener!" Langkah kaki Donald terdengar menjauh, bergema di koridor sepi sambil sesekali masih terdengar tawa terpingkal-pingkalnya. Begitu suasana di luar tenang, Sari kembali fokus. Ia menatap Sam dengan tatapan yang jauh lebih lapar. "Sam... kontolmu keras sekali. Ini di luar ekspektasiku..." bisik Sari lagi. Ia seolah tidak peduli dengan aroma gas "berbahaya" yang baru saja dilepaskan Sam. Tangannya mulai mengocok kembali, kali ini jauh lebih cepat. "Aku suka punya kamu..." "Sar... Sar... aaah... udah bahaya! Jangan sekarang, aduuh..." Sam merintih. Otaknya sudah tidak bisa membedakan mana sinyal ingin buang air besar dan mana sinyal ingin ejakulasi. Semuanya bercampur aduk menjadi satu sensasi yang mengerikan sekaligus surgawi. Sari menggoda dengan senyuman binal, jempolnya mengelus ujung Joni yang sudah basah oleh cairan bening. "Keluarkan, Sam... aku mau merasakan tangan ini hangat karena spermamu... aku mau merasakannya sekarang..." "AAAAAAAHHHHH SAAAARIIIII! ADUUUUH! MAU KELUAR!!!" CROOTTTTT! BROOOOTTTT! Tragedi paling konyol dalam sejarah sekolah itu akhirnya meletus. Cairan putih kental Sam memuncrat hebat, membasahi tangan Sari hingga ke pergelangan tangannya. Namun, di saat yang bersamaan, karena guncangan kenikmatan puncak yang terlalu ekstrem membuat seluruh otot tubuhnya lemas, pertahanan lubang belakang Sam jebol total. Sam benar-benar "kecepirit"—mengeluarkan ampas mencret di celana abu-abunya sendiri. Sam langsung lunglai, wajahnya pucat pasi seputih kapas. Ia melihat ke bawah dengan tatapan kosong, meratapi harga dirinya yang baru saja terbang bersama bau tak sedap. Tangannya Sari penuh dengan cairan spermanya yang masih hangat, tapi di bagian belakang celana Sam, terdapat noda cokelat basah yang merembes lebar. "Anjir... jahat lu...!! Sari... lu liat kan..." Sam megap-megap, hampir menangis karena malu yang luar biasa. "Gua beneran crot di tangan lu... tapi gua juga kecepirit... gara-gara lu nih, Sari d***o!" Sam yang panik bercampur kesal langsung membuka kunci pintu bilik dengan terburu-buru. Ia memegang bahu Sari dan mendorong gadis itu keluar dari bilik nomor empat karena ia butuh ruang untuk membersihkan kekacauan itu. "Sar, keluar lu! Keluar! Parah lo ah, liat nih celana gua!" bentak Sam sambil mendorong Sari keluar ke arah wastafel. Sari terdorong keluar ke area wastafel dalam keadaan telanjang bulat. Bukannya malu atau takut ada guru yang lewat, ia malah tertawa cekikikan melihat kepanikan Sam yang tampak sangat menderita. Sari mengangkat tangannya yang berlumuran s****a putih kental, lalu menjilatnya perlahan dengan lidah mungilnya sambil menatap Sam lewat cermin. "Mmm... enak, Sam... gurih," ucap Sari dengan nada mengejek. "Hahahahaha! Jorok kamu ih, kecepirit! Makanya pelan-pelan!" "SARI! Diem lu! Malu-maluin aja!" Sam melotot, panik setengah mati kalau ada orang lain yang masuk ke toilet. "Mana bajuku, Sam?! Sini!" seru Sari sambil berusaha menahan tawa, berdiri tanpa sehelai benang pun di depan cermin wastafel. Sam menyambar tumpukan pakaian Sari yang digantung di gantungan pintu bilik nomor empat, lalu melemparkannya lewat celah atas pintu. "Nih ambil! Gua mau boker beneran! Mules! Gara-gara lu nih, klimaksnya barengan sama ampas!" gerutu Sam kesal. Sam menutup pintu bilik nomor empat kembali dengan bantingan keras—BRAKK!—dan menguncinya rapat-rapat. Ia terduduk di atas kloset, meratapi nasib hari kelulusannya yang diawali dengan nikmat dan diakhiri dengan noda cokelat di p****t. Sementara itu, di balik pintu, sayup-sayup masih terdengar suara Sari yang tertawa-tawa kecil sambil mengenakan kembali seragamnya yang ketat. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN