Ancaman Dosa di balik pintu

2584 Kata
⚠️ PERINGATAN KONTEN KHUSUS DEWASA (18+) Novel ini ditujukan khusus bagi pembaca berusia 18 tahun ke atas. Mengandung konten eksplisit, komedi erotis, bahasa kasar, dan deskripsi anatomis yang gamblang. Seluruh tokoh adalah fiksi dan berusia dewasa legal (19 tahun). Harap bijaksana. Matahari di langit Astapura mulai merangkak naik, mengirimkan gelombang panas yang memantul dari aspal sekolah SMK Astapura 1. Udara pagi yang harusnya segar sudah tercemar aroma parfum murahan, asap knalpot, dan bedak tabur yang luntur karena keringat ratusan siswa. Suasana di depan gerbang utama sudah seperti lautan manusia berbaju putih-abu yang histeris. Ada yang sibuk berpelukan sambil menangis bombay, ada yang sudah belepotan pilox warna-warni di punggungnya dengan tulisan "LULUS a***y", dan ada yang sibuk berfoto dengan gaya paling "slay" demi konten sosial media terakhir sebagai pelajar. Namun, di tengah keriuhan itu, Samuel "Sam" Wijaya melangkah masuk dengan koordinasi motorik yang sangat memprihatinkan. Langkahnya benar-benar seperti pinguin yang sedang mengalami wasir stadium akhir dikombinasikan dengan gaya jalan kepiting yang sedang sariawan. Kakinya terbuka lebar, lututnya kaku, dan setiap langkahnya dilakukan dengan penuh kehati-hatian seolah-olah dia sedang menjepit sebutir telur puyuh yang sangat retak di antara selangkangannya. Wajah Sam pucat pasi, lebih pucat dari kerupuk kaleng di warung ibunya. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari pelipis, membasahi kerah seragamnya yang sudah licin disetrika. Fokus utamanya saat ini cuma satu: memastikan "si Joni" yang masih berdiri tegak sempurna, kaku, dan berdenyut-denyut akibat serangan maut tangan Seli di angkot tadi tidak mencuat keluar. Masalahnya, Sam tidak pakai celana dalam. Kain celana abu-abunya yang tipis dan agak kekecilan itu seolah-olah menjadi panggung pertunjukan yang sangat transparan bagi si Joni yang sedang melakukan upacara bendera sendirian. Setiap kali Sam melangkah, gesekan kain kasar itu malah memberikan stimulasi tambahan yang bikin dia mau mati berdiri. "Aduh, Jon... turun napa... malu gue diliatin guru piket," bisik Sam pelan, mulutnya komat-kamit merapalkan doa-doa penenang yang nggak nyambung, mulai dari doa makan sampai doa masuk wc. Di belakangnya, Seli Maharani mengikuti dengan langkah yang sangat kontras. Dia berjalan lincah, pinggulnya yang berisi bergoyang kanan-kiri dengan irama yang bikin cowok-cowok di gerbang menoleh serempak. Seli sesekali membetulkan letak tas mungilnya yang cuma muat buat satu buah hp dan dua buah lipstik, sambil menatap punggung Sam dengan tatapan nakal yang sangat mencurigakan. Ada senyum kemenangan yang tersungging di bibir mungilnya yang dipoles lip tint stroberi. Seli tahu betul betapa hancurnya harga diri dan kondisi biologis Sam saat ini, dan itu membuatnya merasa sangat di atas angin. "Sam, jalannya cepetan dikit napa! Kayak kakek-kakek lu, lama banget!" teriak Seli sambil tertawa kecil, sengaja memprovokasi. Sam tidak menoleh. Dia takut kalau menoleh, keseimbangan selangkangannya bakal goyah. "Diem lu, betina d***o! Ini gara-gara tangan lu yang kayak capit kepiting tadi!" balas Sam dengan suara yang ditahan agar tidak terdengar murid lain. Tiba-tiba, dari arah kerumunan, seorang gadis dengan rambut pirang highlight dan riasan wajah paling mentereng berlari kecil menghampiri mereka. Itu Jessica Aurelia Putri. Seragamnya bener-bener definisi "melawan hukum fisika". Baju putihnya dipress badan sedemikian rupa hingga kancing bagian tengahnya terlihat seperti sedang berjuang hidup-mati menahan beban p******a 34D yang membusung sempurna. Roknya pun tidak kalah pendek, memperlihatkan paha putih yang mulus hasil perawatan mahal. "SAM! SELI! Woi, d***o! Kalian berdua lama amat sih?! Gue udah berlumut nungguin di sini dari tadi!" Jessica langsung berkacak pinggang tepat di depan Sam. Posisi Jessica yang lebih pendek sedikit membuat dadanya yang besar itu berada tepat di bawah dagu Sam. Sam megap-megap. Bau parfum mahal Jessica yang menyengat bercampur dengan wangi stroberi Seli di belakangnya benar-benar seperti serangan gas beracun bagi otaknya yang sudah korslet. Sam refleks ingin menjelaskan kenapa dia jalan ngangkang, tapi otaknya yang d***o malah memilih kata-kata yang salah. "Itu... anu, Jes... tadi di angkot... si Seli... tangannya dia masuk ke—" CUUUUTTTTT! "AAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRGGGHHHH!!! ANJING SAKIT!!!" Sam melolong histeris, suaranya pecah melengking tinggi mengalahkan pengeras suara sekolah yang lagi nyetel lagu Mars SMK. Seli baru saja melayangkan cubitan maut di pinggang kanan Sam. Bukan sembarang cubit, tapi teknik "putar tiga ratus enam puluh derajat" yang mengincar bagian kulit paling tipis. Sam melonjak-lonjak konyol di depan gerbang, tangannya refleks menutupi pinggang yang panas, tapi karena kaget, dia lupa menutupi selangkangannya. Si Joni yang sedang tegang itu bergoyang-goyang konyol di balik celana abu-abunya. "Woi, Sam! Lu kesurupan reog?!" Jessica melotot bingung melihat sahabatnya melonjak-lonjak d***o. Seli langsung memotong dengan cepat sebelum Sam sempat membongkar "pegangan ilegal" di angkot tadi. Dia menengok ke arah Sam dengan wajah "malaikat" tapi aura matanya seperti iblis yang siap mencabut nyawa. "Si Sam ini emang d***o, Jes! Tadi di jalan dia bilang kakinya keram gara-gara motor bapaknya mogok dan dia harus dorong jauh! Iya kan, Sam?" Seli memberikan penekanan pada kata "Iya kan, Sam?" sambil matanya melotot mengancam. Seolah berkata: Kalau lu berani jujur soal di angkot tadi, burung lu gue bikin copot di sini juga! "Eeeh... eeh... iya... aduh... iya, Jes! Aduuuhhh sakit banget begooo seli begoooo!" Sam meringis-ringis sambil mengusap pinggangnya yang merah. "Motor bapak gue... Astrea legendaris itu... kabel businya soak total. Jadi gue harus dorong sampe keringetan gini. Makanya kita telat dan naik angkot Pak Jamal." Jessica menyipitkan mata, menelisik Sam yang masih berdiri dengan posisi kaki yang aneh. "Jadi kalian naik angkot? Sesek-sesekan dong? Ih, pasti bau keringet bapak-bapak pasar ya? Kasihan banget sih Seli-ku sayang harus nempel-nempel sama Sam yang bau oli gini." "Iya bener, Jes... penuh banget tadi, sampe mau napas aja susah. Sam sampe keringetan dingin gitu, mungkin saking penuhnya ya, Sam?" Seli ngeledek sambil nyenggol pundak Sam pake pundaknya sendiri, bikin Sam makin gelisah karena si Joni makin tertekan. "Udah, udah! Ayo masuk aula! Yang lain udah nungguin, ntar ijazah kita diambil tikus!" Jessica narik tangan Seli dan Sam. Mereka bertiga berjalan menuju aula sekolah yang sudah riuh rendah. Begitu masuk ke aula, hawa panas langsung menyergap. Di deretan kursi tengah yang strategis, teman-teman geng mereka ternyata sudah menguasai wilayah. Ada Donald yang sibuk mengipasi wajah gendutnya dengan ijazah palsu buatannya sendiri, Arron yang duduk tenang sambil membaca buku saku, dan Sari yang terlihat sangat kalem dengan hijabnya yang rapi, duduk dengan posisi yang sangat sopan. "Woi, pasukan d***o akhirnya lengkap!" Donald tertawa menggelegar sampai perut buncitnya bergoyang naik turun di balik seragam yang juga kekecilan. "Sam, muka lu kenapa begitu? Kayak abis liat titisan nyi roro kidul di angkot!" "Bukan nyi roro kidul, Don... tapi serangan jantung mendadak," gumam Sam sambil mendudukkan pantatnya dengan sangat perlahan di sebelah Donald. Dia memastikan Joni tidak terjepit di antara paha dan pinggiran kursi kayu yang keras itu. Obrolan geng itu pun pecah seiring dengan musik kelulusan yang berdentum pelan di latar belakang. Donald: "Sam, lu tau gak? Tadi si Jessica baru nyampe udah sombong banget. Katanya semalem dia abis video call panas sama cowok tajir dari kota. Pas ditanya cowoknya pake baju apa, dia malah bilang pake bikini! Hahaha d***o!" Jessica: "Diem lu, lemak berjalan! Itu gue salah ngomong doang karena grogi!" Arron: "Logikanya, kalau dia cowok kota, nggak mungkin pake bikini, Jes. Kecuali dia cowok yang 'salah jalan'." Sam: "Duh, berisik lu pada. Perut gue malah makin mules dengerin kalian debat." Seli: "Mules apa mules, Sam? Tadi di angkot kayaknya lu 'sehat' banget." Seli berbisik tepat di samping telinga Sam, bikin bulu kuduk Sam berdiri tegak. Sari: "Seli, Sam... kalian berdua kenapa sih dari tadi kayak orang gelisah? Muka Seli merah, Sam mukanya pucat. Habis lari maraton ya?" tanya Sari dengan suara lembutnya yang khas, matanya yang besar menatap mereka dengan polos—atau begitulah kelihatannya. Sari Rahayu, si gadis paling "alim" di geng ini, memang selalu jadi penengah. Tapi Sam tahu, Sari itu kalau sudah mulai memperhatikan sesuatu, detailnya tajam banget. Sam makin salah tingkah. "Iya, Sar... gerah banget tadi di luar. Angkotnya penuh sesak." Tiba-tiba, Sari berdiri dari kursinya. "Eh, aku mau ke toilet sebentar ya. Nggak kuat nih, kayaknya tadi kebanyakan minum teh manis pas sarapan. Mau pipis dulu." "Jangan lama-lama, Sar! Bentar lagi kepala sekolah naik panggung buat pidato bosenin!" teriak Donald sambil mulutnya masih sibuk ngunyah permen karet. Sari cuma melambai kecil dan berjalan keluar aula dengan langkah anggun. Setelah Sari pergi, suasana makin nggak karuan karena Jessica mulai pamer soal lipstik barunya yang katanya "anti-luntur walau dipake ciuman sepuluh jam". Sam yang merasa selangkangannya makin nyut-nyutan dan butuh ruang udara segar untuk mendinginkan si Joni, akhirnya menyerah. "Guys... aduh, Belum mulai kan acaranya? Gua laper nih mendadak, mungkin sarapan gua tadi kurang gizi. Gua ke kantin bentar ya, mau cari ganjelan perut," ucap Sam sambil mulai berdiri lagi dengan gaya ngangkang andalannya. Arron menengok jam tangannya. "Ya, masih ada sepuluh menit sebelum protokoler mulai. Buruan, Sam." Donald: "Woi Sam! Titip bakwan sepuluh rebu! Sambelnya yang banyak sampe bikin mencret ya!" Jessica: "Gua titip air mineral yang paling dingin! Gerah banget nih, bedak gue mau lonsor!" Seli: "Aku ikut, Sam! Mau beli es mambo stroberi!" Seli sudah siap-siap mau berdiri lagi, matanya penuh rencana busuk untuk memojokkan Sam di kantin yang sepi. Sam langsung menoleh panik, tangannya menahan bahu Seli supaya tetap duduk. "Gak usah, Sel! Gua cuma bentar kok, bawain pesenan lu nanti! Lu duduk sini aja jagain kursi kita, ntar kursi mahal ini diambil kelas sebelah, mau lu duduk di lantai?!" Seli manyun maksimal, bibirnya maju lima senti. "Iih, pelit banget sih! Yaudah, bawain es mambonya yang paling beku ya! Biar lidah aku mati rasa!" "Iya, bawel!" Sam menarik napas panjang begitu menghirup udara luar yang sedikit lebih lega. Ia melangkah cepat menuju kantin sekolah yang berada di pojok belakang, dekat dengan lapangan basket yang sudah sepi karena semua murid berkumpul di aula. Pikirannya masih kacau, namun perutnya yang berteriak minta diisi memaksa kakinya untuk terus bergerak. ​Sesampainya di kantin, aroma minyak goreng panas dan sambal kacang langsung menyerbu indra penciumannya. Sam menghampiri warung langganannya dengan wajah yang masih agak pucat. ​"Bude, Pakde! Gorengan sepuluh ribu ya, campur aja. Bakwan sama tempenya banyakin! Oh iya, sambelnya yang banyak ya, biar nendang sampe ke ubun-ubun!" teru Sam sambil merogoh saku celananya yang ketat. Setelah memberikan uang, ia bergeser ke warung sebelah, milik Mbak Nur. "Mbak, es mambo stroberi satu ya, buat Seli. Sama air mineral yang paling dingin dua botol!" ​Namun, tepat saat Mbak Nur sedang mengambil plastik dan Pakde sedang meniriskan bakwan yang masih panas mengepul, perut Sam tiba-tiba melilit hebat. Rasanya seperti ada sekumpulan cacing tanah yang sedang melakukan demo anarkis di dalam ususnya. Keringat dingin kembali mengucur, kali ini bukan karena si Joni, tapi karena panggilan alam yang tidak bisa ditoleransi. ​"Aduh! Bude, Pakde! Bentar ya, simpen dulu gorengannya! Saya mules banget nih, mau setor dulu!" teriak Sam panik sambil memegangi perutnya. ​"Loh, Sam! Ini gorengannya udah mau mateng!" seru Pakde. ​"Esnya juga gimana ini, Sam?" Mbak Nur ikut berteriak. ​"Simpen dulu Mbak! Nanti saya ambil lagi, beneran ini darurat nasional!" Sam langsung lari tunggang langgang meninggalkan kantin. ​Awalnya ia ingin menuju toilet murid yang ada di dekat kantin, tapi langkahnya terhenti. Ia tahu betul kalau jam-jam segini, toilet itu pasti penuh dengan geng cowok-cowok nakal yang sedang asyik malak atau merokok sembunyi-sembunyi. Sam tidak mau urusan "buang hajat"-nya terganggu atau malah berujung gelut. Dengan sisa tenaga dan otot s**********n yang menahan beban ganda—antara mules dan Joni yang masih agak tegang—Sam memutuskan lari ke gedung Multimedia di lantai tiga. Gedung itu biasanya dikunci, tapi Sam tahu salah satu toilet di sana sering lupa dikunci oleh penjaga sekolah. ​Sam menaiki anak tangga dengan napas memburu. Koridor lantai dua sangat sunyi, hanya terdengar suara sayup-sayup musik dari aula di kejauhan. Begitu sampai di depan toilet Multimedia, Sam langsung masuk. Ia tidak peduli lagi dengan estetika. Ia menyerbu deretan kamar mandi, mencoba mendorong pintu satu per satu. Kamar satu terkunci, kamar dua rusak, kamar tiga macet. Sampai di kamar nomor empat, Sam menendang pintunya dengan tenaga sisa. ​BRAAAAAK!! ​"ANJING! EH... SA... SARI?!" Sam mematung. Matanya melotot hampir keluar dari kelopaknya. ​Sam kaget setengah mati, tapi Sari jauh lebih kaget. Pemandangan di depannya benar-benar di luar nalar d***o Samuel Wijaya. Sari Rahayu, si gadis paling alim yang tadi pamit mau pipis, ternyata sedang berada di dalam kamar mandi itu dalam kondisi telanjang bulat. Hijabnya, seragamnya, bahkan pakaian dalamnya digantung berantakan di gantungan pintu yang ternyata tidak dikunci dengan benar. ​Sari sedang dalam posisi yang sangat tidak "alim". Tubuhnya yang putih mulus itu terlihat sangat kontras di bawah lampu toilet yang agak remang. Satu tangannya sedang sibuk "mengocok" k*********a sendiri yang sudah tampak sangat basah dan mengkilap terkena cairan alaminya. Tangan satunya lagi sedang asyik memilin-milin p****l teteknya yang berdiri keras menantang. Wajah Sari yang biasanya teduh sekarang memerah padam, napasnya memburu, dan matanya sayu penuh gairah. ​"Sa... Samuel... kamu..." Sari terbata, namun anehnya, ia tidak langsung menutupi tubuhnya. Posisinya tetap terbuka, memperlihatkan aset tersembunyi yang selama ini tertutup kain hijab lebar. ​"Eeeh... Saaaariii... duuuh maaf, maaf! Gue nggak sengaja, Sar! Gu... gu... guaaa cabut sekarang!" Sam berteriak panik, tangannya menutupi mata tapi jari-jarinya sedikit terbuka karena rasa penasaran yang luar biasa. Pemandangan itu lebih dahsyat daripada bayangannya saat di kamar mandi rumah tadi subuh. ​Sam mencoba berbalik dan lari keluar, tapi sebelum ia sempat melangkah, sebuah tangan yang terasa basah dan hangat mencengkeram lengannya dengan kuat. ​"Tunggu, Sam! Jangan pergi!" bisik Sari. Suaranya tidak lagi lembut seperti biasanya, tapi berat dan penuh godaan. ​Sari menarik tangan Sam dengan kekuatan yang tidak terduga, menyeretnya masuk kembali ke dalam kamar mandi yang sempit itu. Sari langsung menutup pintu dan bersandar di sana, mengunci pergerakan Sam. Ia berdiri telanjang bulat, membiarkan Sam melihat setiap jengkal kulitnya yang berkeringat. ​Sam merem-melek, otaknya meledak seketika. "Sar... Sar... pake baju lu, Sar! Malu... parah ini, kalau ketahuan gimana?!" ​Sari tidak menjawab dengan kata-kata. Ia malah menempelkan jari telunjuknya yang masih basah ke bibir Sam, memberikan rasa asin-manis yang aneh ke lidah Sam. "Syuuuut... Sam, berisik. Jangan berisik nanti ada yang dengar. Mending kamu bantu aku..." ​"Haaaa? Apa-apa? Bantu apa, Sar?!" Sam gemetar hebat. Si Joni di balik celananya yang tadi mulai lemas gara-gara mules, sekarang malah meledak lagi, berdiri lebih keras dan lebih sakit dari sebelumnya. ​"Iya, bantu aku... Aku udah basah banget, Sam. Aku nggak tahan..." Sari mulai meraba d**a Sam, tangannya turun perlahan menuju ikat pinggang Sam. ​Sam kaget luar biasa. "Gak... gak... gak bisa, Sar! Ini aduuuh... buseeet Sar... ini sekolah! Gua mau keluar aja!" Sam berusaha berontak, tapi pemandangan t***k Sari yang bergoyang di depan matanya bikin kakinya lemas seperti jeli. ​"Nggak apa-apa, Sam... Aku butuh kamu sekarang. Puasin aku sebelum acara mulai..." Sari berbisik tepat di leher Sam, napasnya yang panas bikin Sam merinding disko. ​Tangan Sari yang lincah tiba-tiba menyentuh benjolan besar di balik celana abu-abu Sam. Ia meremasnya pelan, membuat Sam mendesah frustrasi. "Aaaa... eeh Sar, jangan... jangan di situ..." ​"Nggak apa-apa, Sam... Aku tahu kamu juga mau. Tuh, sampe keras banget begini," Sari tersenyum nakal, tangannya mulai membuka kancing celana Sam dengan cekatan. ​Tiba-tiba... ​"SAAAAAM! SAAAMMM!!! WOOOI SAM!" ​Suara menggelegar Donald terdengar dari koridor luar, tepat di depan pintu toilet Multimedia. Langkah kakinya yang berat terdengar mendekat. ​"SAM! LU KE TOILET SINI KAN?! GORENGAN LU UDAH DINGIN NIH! WOOI SAM!" ​Sam mematung. Sari langsung membekap mulut Sam dengan tangannya. Mata mereka beradu dalam ketakutan yang luar biasa. Donald ada di luar, dan mereka sedang terkunci di dalam kamar mandi dengan kondisi satu telanjang bulat dan satu lagi sedang dibuka celananya. ​"Mampus gue..." bisik Sam dalam hati, sementara "si Joni" malah makin berdenyut kencang karena sensasi adrenalin yang bercampur m***m. bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN