Sorak sorai membahana di sepanjang lintasan. Teriakan, siulan, dan tepuk tangan bergema saling bersahutan, memecah sunyi pelabuhan lama yang biasanya muram. Nama Rama diteriakkan berulang kali, seolah malam itu hanya miliknya seorang. “RAMA! RAMA! RAMA!” Bagas melompat paling tinggi, suaranya hampir habis. Dion mengangkat tangan Rama ke udara, memamerkannya sebagai simbol kemenangan. Anak-anak geng motor mereka mengerubungi Rama, menepuk punggungnya, memukul ringan bahunya, dan meneriakkan pujian. “Gila, lo bener-bener monster lintasan, Ram!” “Pembalap paling pemberani yang pernah gue lihat!” “Tanpa lo, kita nggak ada apa-apanya!” Namun di tengah hiruk-pikuk itu, Rama tetap berdiri dengan ekspresi datar. Napasnya memang masih sedikit memburu, keringat mengalir di pelipis, tapi wajahn

