Malam semakin larut. Jarum jam perlahan merangkak melewati angka dua belas, namun Rama belum juga pulang. Di kamarnya, Sinta duduk di tepi ranjang, memeluk bantal erat-erat. Lampu kamar sengaja ia biarkan menyala, seolah berharap cahaya itu bisa mengusir rasa cemas yang terus menggerogoti dadanya. Ponsel di tangannya sudah berkali-kali menyala dan mati, membuka layar, mengecek jam, lalu menatap kontak nama Rama yang tak kunjung ia hubungi. Ia takut. Takut mengganggu. Takut terdengar menuntut. Takut justru membuat Rama tertekan. Namun rasa khawatir jauh lebih besar. “Kenapa belum pulang juga…” gumam Sinta lirih. Ia bangkit, melangkah ke jendela. Jalanan di bawah terlihat lengang, hanya sesekali dilewati kendaraan. Setiap suara motor yang melintas membuat jantungnya berdegup lebih cepa

