Rafa 37

3188 Kata

Dua hari berlalu sejak dokter menyatakan Kaima koma, namun waktu terasa seperti berhenti bagi Rafa. Tidak ada perubahan. Tidak ada gerakan kecil. Tidak ada respons. Kaima masih terbaring di ranjang rumah sakit dengan mata tertutup rapat, tubuhnya diam seolah sedang tertidur sangat dalam—tidur yang terlalu lama hingga mulai menakutkan. Mesin monitor di samping tempat tidur berbunyi stabil, ritmenya menjadi satu-satunya tanda bahwa Kaima masih bertahan. Setiap bunyi bip… bip… bip… terdengar seperti pengingat bahwa hidupnya kini bergantung pada angka-angka digital yang terus bergerak. Rafa duduk di kursi yang sama sejak hari pertama. Bahkan perawat mulai hafal posisi duduknya, cara ia menggenggam tangan Kaima tanpa pernah benar-benar melepaskan. Rambutnya mulai berantakan, matanya memerah kar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN