Pagi itu datang dengan cara yang tidak biasa. Cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai, menyelinap lembut ke dalam kamar. Biasanya, suasana seperti itu selalu berhasil membuat Kaima tersenyum—bangun dalam keadaan tenang, melihat Rafa masih di sampingnya, merasakan hangatnya rumah yang kini benar-benar ia miliki. Namun pagi itu… berbeda. Kaima membuka mata perlahan. Untuk beberapa detik pertama, semuanya terasa normal. Ia mengedipkan mata, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya. Nafasnya pelan, tubuhnya masih setengah terlelap. Ia bahkan sempat melirik ke samping—Rafa masih tidur, wajahnya terlihat tenang, satu tangannya masih berada di atas selimut, dekat dengan Kaima. Senyum kecil sempat muncul di wajahnya. Namun hanya sebentar. Karena detik berikutnya— sesuatu terasa

