Malam itu terus berjalan… perlahan, tanpa tergesa. Keheningan yang menyelimuti kamar justru terasa hangat, bukan canggung. Lampu redup menciptakan bayangan lembut di dinding, sementara di luar jendela, suara malam terdengar samar—seolah dunia di luar tetap berjalan, namun tidak lagi terlalu penting bagi keduanya. Kaima masih bersandar di bahu Rafa. Posisinya berubah sedikit, lebih nyaman. Nafasnya sudah lebih teratur, tidak lagi secepat tadi. Tangannya yang sejak tadi digenggam Rafa, kini justru menggenggam balik lebih erat. Seolah takut— kalau ini dilepas, semua akan kembali seperti dulu. “Rafa…” panggilnya pelan. “Iya…” jawab Rafa, suaranya tenang. “Kamu nggak capek?” Rafa tersenyum kecil. “Capek sih… tapi nggak kerasa.” Kaima mendongak sedikit, menatapnya. “Kenapa?” Rafa me

