Rafa 31

4146 Kata

Pelukan itu berlangsung lama. Bukan sekadar pelukan biasa, bukan sekadar ungkapan rindu yang tertunda dua hari—tapi seperti dua orang yang sama-sama ingin memastikan bahwa momen ini nyata. Bahwa apa yang baru saja diucapkan bukan sekadar emosi sesaat, bukan juga keputusan yang lahir dari ketakutan semata. Kaima masih berada dalam pelukan Rafa, tangisnya perlahan mereda. Nafasnya mulai teratur, meski sesekali masih terselip isakan kecil. Sementara Rafa tidak bergerak. Tangannya tetap melingkar di tubuh Kaima, seolah itu satu-satunya cara untuk menenangkan dirinya sendiri. Karena jujur saja— ia juga bergetar. Bukan ragu. Tapi perasaan yang terlalu besar untuk ditahan sendiri. Perlahan, Rafa mengusap rambut Kaima, menenangkan. “Kai…” panggilnya pelan. “Iya…” jawab Kaima lirih, masih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN