Kaima tidak jadi menekan nama Rafa. Jarinya yang sempat menggantung di atas layar perlahan turun, lalu ponsel itu ia letakkan begitu saja di samping bantal. Ia menatap kosong ke depan, membiarkan pikirannya berisik sendiri tanpa ia beri jalan keluar. Pertanyaan-pertanyaan itu tetap ada—tentang foto itu, tentang seberapa jauh hubungan Rafa dan Sofia dulu, tentang apa yang sebenarnya ia lewatkan selama ini. Tapi Kaima memilih diam. Bukan karena tidak ingin tahu. Tapi karena… ia merasa tidak punya hak. “Cuma pacar…” gumamnya pelan. Ia tersenyum kecil, tapi pahit. “Bahkan awalnya juga bukan pacar beneran…” Kalimat itu menggantung di udara kamar yang sunyi. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sejak tadi tidak beraturan. Ia ingat bagaimana semua ini dimul

