Sinta meminjam ponsel Rama dengan alasan sederhana. “Aku mau ngecek nomor kurir yang tadi nelepon, takutnya penting,” ucapnya santai, seolah tak ada maksud lain di balik sorot matanya. Rama, yang tengah sibuk membereskan beberapa buku, hanya mengangguk tanpa curiga lalu menyerahkan ponselnya. Begitu layar menyala di genggamannya, jantung Sinta berdegup lebih cepat. Notifikasi pesan berderet di bagian atas layar. Sekilas, ia sudah bisa menebak dari nama pengirimnya. Beberapa di antaranya adalah teman lama Rama, dan satu yang paling membuat dadanya menghangat oleh cemas—grup geng motor yang dulu selalu menyita waktu dan hidup Rama. Sinta menelan ludah. Tangannya sedikit bergetar saat membuka aplikasi pesan. Benar saja, beberapa chat masuk, sebagian bernada ajakan berkumpul, sebagian lagi m

