Bukan sekadar hitungan waktu—kesabaran keduanya benar-benar diuji. Mila tak juga hamil. Awalnya mereka masih bisa tersenyum, saling menguatkan dengan kalimat-kalimat sederhana. Mungkin belum waktunya. Damar selalu berkata begitu, sembari menggenggam tangan istrinya erat-erat. Ia menolak keras saat Mila mengusulkan pemeriksaan. Baginya, kebahagiaan tidak seharusnya digantungkan pada hadir atau tidaknya seorang anak. “Kita baik-baik saja, Mil,” ucap Damar berulang kali. “Aku sudah bahagia sama kamu.” Dan memang, rumah tangga mereka berjalan dengan hangat. Damar adalah suami yang perhatian. Tak pernah lupa mengirim pesan di sela kesibukan, selalu pulang membawa cerita kecil dari kantor, dan masih setia menyiapkan teh hangat untuk Mila setiap malam. Mereka tertawa bersama, berlibur sesekal

