Bab 5. Damar 5

1817 Kata

Momen menegangkan itu akhirnya tiba. Langit pagi di tepi pantai terlihat sendu, meski matahari perlahan menanjak dari balik cakrawala. Angin laut berhembus pelan, membawa aroma asin yang menenangkan—namun tidak bagi Mila. Tangannya terasa dingin sejak mereka turun dari mobil, sementara jari-jarinya terus menggenggam tas kecil di pangkuannya. Damar melirik istrinya sekilas. “Kamu kenapa dari tadi diam?” tanyanya lembut sambil meraih tangan Mila. Mila menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Cuma… deg-degan.” Damar mengusap punggung tangan Mila dengan ibu jarinya, memberi kekuatan tanpa perlu banyak kata. Mereka berjalan menyusuri pasir yang masih basah sisa ombak semalam. Di kejauhan, tampak bangunan sederhana yang menjadi tempat penampungan sementara anak-anak panti.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN