... Kaelen menganggup perlahan, jemarinya membelai permata safir hitam di ceruk leher Rhea, sebuah liontin yang kini bukan lagi hiasan, melainkan jantung kristal yang menahan janji kehancuran. “Sempurna,” bisiknya, suaranya mengandung gemerisik batu dan karat. “Kita sambut kedatangan mereka dengan simfoni yang pantas.” Rhea menghampirinya, mencuri napas dari bibir Kaelen; sebuah ciuman yang adalah perpaduan pahit antara bilah pisau yang diasah dan nyala api abadi—testamen empat tahun cinta yang tak pernah beranjak dari tepi jurang. “Pesta pemakaman kita yang terakhir, sebelum kita benar-benar menjadi debu?” tanyanya, suaranya bergetar di celah bibir Kaelen. Ada kilau main-main di sana, namun matanya yang sehijau zamrud beku memancarkan kesungguhan yang dingin. Kaelen mengangkatnya deng

