bc

Misi Dalam Jangkauan Tuan Mafia

book_age18+
91
IKUTI
1K
BACA
dark
HE
badboy
mafia
serious
mystery
city
like
intro-logo
Uraian

Bayangkan seorang agent wanita yang cantik dan cerdas, yang ditugaskan untuk menyamar sebagai model, supaya bisa masuk ke dalam bagian dari organisasi mafia yang berbahaya. Dia harus berhadapan dengan anggota mafia yang brutal dan tidak kenal ampun, sambil mencoba untuk mengumpulkan informasi dan mencapai tujuan misinya.Tapi, apa yang terjadi ketika dia jatuh cinta dengan salah satu anggota mafia yang tampan dan karismatik? Apakah dia akan memilih untuk tetap setia pada tugasnya, atau akan dia mengikuti hatinya dan mengambil risiko untuk cinta?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
PROLOG : “Kau gemetar,” katanya pelan, mengambil gelas dari tangan Rhea. “Takut?” Rhea menelan ludah. “Hanya dingin.” Kaelen menatap gelas itu, lalu tersenyum tipis senyum yang membuat bulu kuduk Rhea berdiri. “Salut,” bisiknya. “Kau berani mencoba trik yang sama dua kali dalam seminggu.” Ia mengangkat gelas itu ke bibirnya… lalu menuang isinya ke wastafel dalam satu gerakan cepat. “Sayang sekali,” lanjutnya, suaranya rendah dan berbahaya. “Aku sudah mengganti semua alkohol di rumah ini sejak kau berhasil membuat Vargas jadi boneka hidup. Sistem filtrasi darahku juga sudah dibersihkan dari obat penenang jenis apapun. Kebiasaan buruk seorang paranoid.” Rhea mundur selangkah, punggungnya menabrak counter marmer dingin. Kaelen mendekat, tangannya menjebak Rhea di antara lengan-lengannya. “Kau pikir aku tidak tahu?” bisiknya tepat di depan bibir Rhea. “Kau pikir aku tidak melihat remote kecil di laci kamar mandi? Boneka silikon dengan wajahmu? Kau sangat… kreatif.” Rhea mencoba mendorong dadanya. “Lepaskan aku.” “Tidak malam ini.” Dalam satu gerakan kilat, Kaelen mengangkat tubuh Rhea ke counter, merobek kaus tidur tipis yang ia pakai hingga sobek di tengah. dua bulatan kenyal terbuka, ujungnya langsung mengeras karena udara dingin dan adrenalin. “Kaelen—stop—” ... Bab 1: Sinyal Terputus BELLA WARD menyentuh panel di telinganya, jari telunjuknya menekan mic kecil yang tersembunyi rapi di lipatan rambut cokelatnya yang diikat ketat. Suara statis dari headset adalah satu-satunya respons yang ia dapatkan. “Elea, lapor. Ulangi, Elea, lapor.” Nada suaranya di antara bisikan yang frustrasi dan perintah dingin. Sudah tiga minggu sejak sinyal terakhir dari Elea Seraph, penyanyi yang awalnya mereka selamatkan dari keterpurukan, kemudian direkrut untuk menyusup ke sarang elang, jaringan Kaelen Thorne. Bella duduk di balik kemudi mobilnya yang terparkir dua blok dari distrik hiburan termewah di kota. Di depannya, neon-neon mewah berkilauan seperti jebakan lalat yang indah. Klub malam The Black Swan adalah jantung kekaisaran Thorne—tempat para bintang baru lahir, dan bintang lama mati. Elea seharusnya mengirimkan burst data setiap 48 jam. Tugasnya mudah, dekatkan diri, kumpulkan bukti, dan tetap di luar jangkauan pribadi Kaelen Thorne. Bella mencondongkan tubuh, matanya yang tajam menatap foto profil Elea di ponselnya—senyum polos, mata yang penuh harapan. Gadis itu ingin ketenaran, dan Thorne memberikannya. Sebuah Porsche Panamera hitam legam meluncur perlahan melewati pintu masuk The Black Swan. Jantung Bella menegang. Mobil itu sudah ia kenal. Bukan milik Elea, tapi sering terlihat di sekitar Thorne. Saat mobil itu berhenti, pintu belakang terbuka. Seorang pria bersetelan mahal—siluet yang terlalu sempurna untuk ukuran mafia biasa keluar. Pria itu adalah Kaelen Thorne. Ia tinggi, atletis, dengan aura berbahaya yang memancar bahkan dari jarak puluhan meter. Wajahnya yang simetris dan rahang tegasnya adalah cetakan dewa-dewa yang jahat, dirancang untuk memikat dan menghancurkan. Kaelen menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya saat ia menanggapi sapaan sang penjaga pintu. Senyum itu, di mata Bella, terasa seperti janji yang mematikan. Kemudian, ia melihat sosok yang keluar dari kursi penumpang depan, yang seharusnya diisi oleh pengawal. Itu adalah Elea. Elea tampak lebih dari sekadar bintang. Gaunnya berkilauan, tawa kecilnya terdengar merdu meskipun teredam jarak. Ia menggandeng lengan Kaelen Thorne dengan kemesraan yang mengejutkan. Tidak ada ketakutan di matanya—hanya kepuasan. Bella mengepalkan tangan di setir. Ini bukan sekadar penyamaran yang terbongkar. Ini pengkhianatan. Elea tidak hanya berdekatan dengan target, ia memuja targetnya. Ia telah menjadi bagian dari permainan itu. Bella memejamkan mata, mematikan komunikasi di telinganya. Dingin menjalari punggungnya, menggantikan semua frustrasi. Misinya hancur, dan Elea sudah hangus. Elea telah memilih sisi King-nya. "Sial," desis Bella, menatap pasangan itu memasuki klub, menghilang di balik pintu kaca hitam. "Kau telah menjual dirimu, Elea." Namun, sebelum pintu otomatis tertutup sepenuhnya, Bella masih sempat melihat sekilas apa yang terjadi di foyer klub yang remang—cahaya lampu kristal memantul di gaun Elea seperti serpihan berlian cair. Kaelen menarik Elea ke sudut gelap di antara dua pilar marmer hitam, jauh dari pandangan penjaga. Satu tangannya langsung melingkari pinggang ramping Elea, menekannya keras ke dadanya hingga gaun satin itu meringkuk di antara tubuh mereka. Jari-jarinya yang lain naik ke belakang leher Elea, menahan kepalanya agar tak bisa mundur—bukan karena Elea ingin mundur. Elea malah mengangkat dagu, menawarkan lehernya dengan penuh kerinduan. Napasnya tersengal saat bibir Kaelen turun ke sana, bukan ciuman lembut—gigitannya pelan tapi tegas, meninggalkan jejak merah yang akan ia sembunyikan dengan rambutnya nanti. Tangan Kaelen yang di pinggang turun lebih rendah, merenggut kain gaun ke atas beberapa senti, jari-jarinya menyusup ke bawah kain tipis itu, menggenggam kulit paha bagian dalam Elea dengan kepemilikan yang tak perlu diucapkan. “King…” desah Elea, suaranya pecah di antara erangan kecil, jari-jarinya mencengkeram kerah jas Kaelen seolah takut terlepas. Kaelen menggeram pelan di telinganya, suara serak yang hanya miliknya malam ini. “Kau milikku malam ini. Setiap inci. Dan kau tahu aku tidak pernah berbagi.” Ia menekan pinggulnya ke depan, membiarkan Elea merasakan betapa keras keinginannya—bukti nyata bahwa ratu yang ia pilih bukan lagi sekadar pion. Elea menggigit bibir bawahnya sendiri, mata berkaca-kaca karena gairah yang sudah tak bisa lagi ia sembunyikan dari siapa pun, termasuk dari lensa tersembunyi yang mungkin sedang mengintai. Lalu pintu kaca hitam itu akhirnya tertutup total, menyembunyikan sisanya. Bella mengepalkan tangan di setir. Ini bukan sekadar penyamaran yang terbongkar. Ini pengkhianatan. Namun, kemarahan dan kekecewaan Bella dengan cepat berubah menjadi obsesi yang baru, sebuah tujuan yang lebih brutal. Bella menyalakan mesin mobilnya. Ia melihat pantulan dirinya di kaca spion—wajahnya serius, nyaris kaku. Ia tahu, dengan wajah dan identitasnya saat ini, ia tidak akan pernah bisa menembus dinding pertahanan Thorne. Thorne adalah raja. Raja hanya tertarik pada ratu, atau setidaknya, pada lawan yang pantas. "Baiklah, Kaelen Thorne," bisikan Bella terdengar seperti sumpah, matanya menyala dengan tekad dingin. "Kau suka bermain? Kita akan lihat bagaimana reaksimu saat aku mengirimkan lawan yang kau inginkan. Bukan sebagai agen, tapi sebagai jebakan yang kau cari."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Desahan Sang Biduan

read
55.2K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.1K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.5K
bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
3.0K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
6.4K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.0K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
8.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook