BAB 2

795 Kata
Bab 2: Kelahiran Rhea .... Dalam dua minggu, Bella Ward mengajukan proposal terlarang, sebuah permintaan yang membuat atasannya terkejut, pengangkatan identitas total, termasuk perubahan fisik radikal. Misi sudah mati. Sekarang, Permainan Dimulai *** BELLA WARD tidak pernah takut pada rasa sakit fisik. Sebagai agen federal yang telah melalui pelatihan keras dan misi berisiko tinggi, tubuhnya adalah alat yang terlatih. Namun, rasa sakit dari transformasi ini berbeda—ini adalah rasa sakit karena penghapusan identitas. Dia duduk di depan cermin, tiga bulan setelah proposalnya disetujui secara ragu-ragu oleh pimpinan tertingginya. Operasi wajah dan perubahan kecil pada bentuk tubuhnya berjalan sukses, mengubah wajah yang dulunya keras dan fokus menjadi "Rhea", lebih lembut, tetapi dengan tulang pipi yang lebih tinggi dan tatapan mata yang entah bagaimana menjadi lebih intens. Rambut cokelat gelapnya yang sederhana diganti dengan untaian hitam pekat yang dibiarkan jatuh bergelombang, menantang gravitasi dan norma. "Kau terlihat berbeda," kata Dr. Sharma, ahli bedah plastiknya yang juga rekanan tepercaya FBI, sambil menyesuaikan pencahayaan di ruangan itu. "Bukan hanya hasil operasi, tapi... caramu membawakan diri." "Bella sudah mati," jawab Bella, suaranya tenang, nyaris asing di telinganya sendiri. "Yang ada hanya Rhea." Rhea, nama kode baru yang ia pilih, terasa seperti gaun malam yang mahal—indah, tetapi berbahaya dan bisa menjerat. Untuk bisa bertahan di lingkaran sosial Kaelen Thorne, Rhea tidak hanya perlu wajah baru; ia butuh aura. Bella menghabiskan bulan-bulan berikutnya dalam pelatihan intensif yang aneh bagi seorang agen rahasia: catwalk, etiket sosial elit, dan—yang paling penting—seni menutupi insting predatornya di balik senyum paling menawan. Instruktur terkejut dengan kecepatan belajarnya. Bella tidak sedang berakting; ia menjadi Rhea. Rhea tidak takut. Rhea tidak terkejut. Rhea adalah wanita yang terlahir dengan hak istimewa, terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya, dan yang paling penting, Rhea memiliki ambisi tanpa batas. Ambisi itulah yang akan menuntunnya ke pelukan Thorne. "Kau harus membuatnya percaya kau adalah pengejar," bisik mentor catwalk-nya, seorang veteran industri yang sinis. "Mereka semua adalah pemain. Pria seperti Thorne, mereka tidak tertarik pada wanita yang sudah ditaklukkan. Mereka tertarik pada permainan." Setiap langkah, setiap lirikan, setiap sentuhan kini adalah bagian dari pertunjukan yang dirancang untuk memancing Kaelen Thorne keluar dari persembunyiannya. *** Di malam hari, Rhea kembali menjadi Bella, menggali setiap berkas tentang Kaelen Thorne. Nama Resmi: Kaelen Zayne Thorne. Usia: 35 tahun. Aset: Perusahaan investasi Thorne Global, kepemilikan saham mayoritas di berbagai klub malam mewah, dan label rekaman independen ShadowVerse. Catatan: Bersih secara hukum. Setiap kasus yang pernah mendekatinya selalu hilang tanpa jejak, atau saksi tiba-tiba bungkam. Bella memperhatikan Elea di setiap rekaman dan foto yang berhasil ia retas. Elea kini menjadi wajah label ShadowVerse. Ia selalu ada di samping Thorne, tertawa dan tampak bahagia. Pengkhianatan Elea adalah luka yang terus terbuka, mengingatkan Bella bahwa pesona Thorne bisa menembus benteng paling tebal, bahkan benteng seorang agen yang terlatih. Aku tidak akan jatuh. Aku adalah Hunter., janji Bella pada dirinya sendiri. *** Malam ini adalah malamnya. Acara amal eksklusif yang diselenggarakan oleh salah satu mitra Thorne, di sebuah penthouse yang menjulang di atas kota. Ini adalah kesempatan emas pertama untuk memperkenalkan Rhea pada Kaelen Thorne. Bella mengenakan gaun sutra hitam backless yang memeluk lekuk tubuh barunya dengan sempurna. Di balik tampilan sensual itu, ia telah menanamkan alat rekam paling canggih, dan ia sudah menyiapkan alibi serta rute pelarian yang detail. Saat dia melangkah keluar dari lift menuju gemerlap pesta, ia tidak lagi merasa seperti Bella, agen yang dibalut kelelahan misi. Ia adalah Rhea—mahakarya operasi plastik dan obsesi pribadi. Pandangan matanya langsung tertuju pada tengah ruangan, di mana kerumunan manusia mewah berkumpul di sekitar sumber kekuasaan. Di sana, di antara kilauan kristal dan dentingan sampanye, berdirilah Kaelen Thorne. Dia sedang berbicara dengan seorang senator tua, tetapi matanya yang dingin tiba-tiba berhenti. Pandangannya tidak terfokus pada gaun Rhea, atau rambutnya. Mata Thorne seolah menembus permukaan, langsung melihat api di dalam dirinya. Senyum licik, lambat, dan mematikan itu muncul lagi. Senyum yang membuat Elea menyerahkan dirinya. Senyum yang membuat semua orang merasa spesial dan takut pada saat yang bersamaan. Thorne melepaskan diri dari senator itu, dan tanpa tergesa-gesa, berjalan ke arah Rhea. Rhea merasakan jantungnya berdebar kencang, bukan karena rasa takut—tetapi karena antisipasi. Permainan ini sekarang dimainkan di lapangan yang ia ciptakan sendiri. "Selamat datang di tempat yang seharusnya," bisik Kaelen Thorne, suaranya seperti beludru gelap dan hangat, saat ia akhirnya berdiri di hadapan Rhea. Matanya tidak beralih. "Siapa kau, malaikat berbahaya?" Rhea membalas tatapan itu, senyumnya seanggun dan sedingin pisau bermata dua. "Aku Rhea," jawabnya, suaranya dipelankan menjadi bisikan menggoda yang dijaga ketat. "Dan aku di sini untuk mendapatkan sesuatu yang kumau." Kaelen tertawa kecil, suara beratnya menciptakan getaran halus yang terasa nyata di udara. "Semua orang di sini menginginkan sesuatu, Rhea." Kaelen maju selangkah, mengurangi jarak. "Pertanyaannya, apa yang kau miliki, yang layak dipertaruhkan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN