Pengganti Mempelai Wanita
Pagi itu, kediaman keluarga Cavendish bukan lagi rumah bangsawan yang megah dan berwibawa, melainkan medan kepanikan.
Suara langkah para pelayan bergema di sepanjang lorong, bercampur dengan teriakan panik dan denting kaca yang tak sengaja terjatuh.
“Cari dia sampai ketemu! Tutup gerbang sekarang juga!” suara Mark Cavendish membelah udara pagi, menggema hingga ke taman belakang.
Alexa duduk di ruang tamu dengan mata sembab. Riasan di wajahnya telah luntur, meninggalkan guratan hitam di bawah mata yang membuatnya tampak seperti bayangan dirinya sendiri. Jemarinya menggenggam sapu tangan lusuh, namun air matanya terus jatuh tanpa henti.
Claire Cavendish, putri sulung mereka, menghilang beberapa jam sebelum pernikahan yang seharusnya menyelamatkan nama keluarga.
Seorang pelayan muda berlari tergesa masuk ke ruang tamu, wajahnya pucat pasi. “Nyonya… saya menemukan surat di kamar Nona Claire.”
Alexa segera merebut amplop putih itu. Tangannya bergetar saat membukanya, dan tubuhnya kian gemetar setelah membaca isinya.
Maafkan aku, Ayah dan Ibu… Aku tidak bisa menikahi pria yang cacat seperti Troy. Biarkan aku menentukan hidupku sendiri.
Suara amplop yang diremas keras terdengar seperti letupan kecil di antara keheningan. Mark merebut surat itu, membacanya cepat, lalu menghancurkannya di genggamannya.
“Anak bodoh!” desisnya penuh amarah.
Alexa terisak lebih keras. “Apa yang harus kita lakukan, Mark? Semua orang sudah di gereja! Wartawan, keluarga Kingsley, rekan bisnis... semua menunggu. Kalau pernikahan ini gagal...”
“Diam, Alexa!” potong Mark, nadanya keras tapi goyah. “Aku tahu apa risikonya.”
Pria itu memejamkan mata sejenak, napasnya tersengal karena tekanan. Ini bukan sekadar pernikahan, ini penyelamatan terakhir bagi kehormatan keluarga mereka yang nyaris bangkrut.
Di tengah kekacauan itu, langkah ringan terdengar menuruni tangga.
Daisy Cavendish muncul dalam balutan gaun tidur putih. Rambutnya masih terurai lembut, wajahnya polos tanpa riasan.
“Ada apa, Ayah?” tanyanya pelan. Pandangannya berganti dari ayah ke ibunya yang tampak berantakan.
Alexa segera menghampiri dan menggenggam tangan putrinya. “Claire… dia kabur.”
Daisy terdiam sejenak, keningnya berkerut. “Kabur?” suaranya nyaris tak terdengar. “Tapi kenapa?”
“Kami tidak tahu!” Mark menatapnya dengan mata merah. “Yang kami tahu, upacara harus tetap berlangsung. Kita tidak punya pilihan, Daisy.”
Sebelum Daisy sempat memahami maksudnya, Mark menambahkan dengan suara yang berat tapi penuh tekanan, “gantikan Claire.”
Jantung Daisy seperti berhenti berdetak.
“Ayah… tidak.” Ia menggeleng cepat, melangkah mundur. “Aku tidak bisa.”
“Kau harus bisa,” potong Alexa dengan suara serak. “Troy Kingsley sudah menunggu di altar. Kalau pernikahan ini batal, semuanya berakhir. Bisnis, nama baik, semuanya!”
“Aku masih kuliah, Ibu... Aku bahkan belum...”
“Cukup, Daisy!” bentak Mark hingga membuat seluruh ruangan terdiam. Suaranya menggema keras, menusuk udara.
Alexa menunduk. Daisy membeku di tempat, air matanya mulai menggenang.
Mark menarik napas panjang lalu berseru ke arah pintu. “Pelayan!”
Dua wanita segera masuk dengan wajah cemas.
“Persiapkan dia,” perintah Mark. “Sekarang!!”
“Ayah, tolong...” suara Daisy pecah. “Aku tidak mencintai Troy. Dia bahkan tidak akan mau menikah denganku.”
“Ini bukan soal cinta,” jawab Mark datar. “Troy tidak peduli siapa yang datang. Yang dia butuh hanyalah pernikahan ini selesai.”
Air mata Daisy jatuh perlahan, tapi Mark tidak menatapnya lagi. Ia hanya berdiri tegap, seperti patung yang kehilangan hati.
Dua pelayan itu membimbing Daisy pergi ke kamar Claire.
Gaun putih yang seharusnya milik kakaknya kini tergantung di depan cermin. Kilau sutranya memantul di cahaya pagi yang redup.
Saat gaun itu disematkan ke tubuhnya, Daisy hanya menatap pantulan dirinya sendiri. Bahunya sedikit tenggelam di balik kain yang kebesaran.
Di dalam cermin, dia tak lagi mengenali siapa dirinya.
Perlahan, air matanya menetes ke gaun itu, satu-satunya tanda bahwa gadis itu masih punya hati.
--
Mobil sedan hitam milik keluarga Cavendish meluncur di jalanan kota London yang diselimuti kabut tipis. Gerimis turun perlahan, menetes di kaca jendela seperti jejak air mata yang tak bisa dibendung.
Lampu-lampu kota memantul di permukaannya, berpendar temaram seiring deru mesin yang mengantar seseorang menuju takdir yang tak ia pilih sendiri.
Di kursi belakang, Daisy duduk di antara kedua orang tuanya. Tubuhnya kaku. Kepalanya tertunduk, jemarinya menggenggam erat buket bunga putih yang mulai kehilangan bentuk karena tekanan tangannya sendiri.
Ia tak pernah merasa sekecil ini, seperti boneka yang digiring ke panggung pertunjukan, tanpa tahu perannya akan berakhir bahagia atau tragis.
“Daisy, tersenyumlah,” suara Alexa terdengar lembut namun tegas. “Sebentar lagi kita sampai. Semua mata akan tertuju padamu. Jangan mengacaukan rencana kita hanya karena air mata.”
Daisy mengangkat wajahnya perlahan. Dalam tatapan ibunya, tak ada kasih, hanya ambisi dan ketakutan kehilangan gengsi.
Ia mencoba membuka bibirnya, tapi yang keluar hanya bisikan lemah, “Aku akan berusaha, Ibu.”
Mark, yang duduk di sisi kanan, menatap sekilas lewat pantulan kaca depan. “Berusaha?” ujarnya dengan nada tak sabar. “Tidak ada kata berusaha, Daisy. Kau harus melakukannya.”
Hening menyelimuti mobil. Hanya suara hujan yang menepuk atap, seperti detik jam yang menghitung mundur kebebasan gadis itu.
Daisy menunduk kembali, napasnya bergetar. Bagaimana bisa mereka memintanya tersenyum di hari ketika seluruh hidupnya dicuri?
Mobil berhenti perlahan di depan Gereja St. Bellgrave, bangunan tua dengan dinding batu kelabu dan menara menjulang yang diselimuti kabut pagi.
Deretan mobil tamu memenuhi halaman. Bunga putih menghiasi setiap sudut pintu masuk, namun aroma mawar dan lili yang biasanya menenangkan kini justru membuat perut Daisy mual.
Begitu pintu mobil terbuka, suara riuh seketika mereda. Semua kepala menoleh. Tatapan-tatapan itu menusuk. Heran, berbisik, mencurigai.
Daisy turun dengan langkah goyah, gaun pengantin panjangnya terseret sedikit di tanah basah. Ia bisa merasakan pandangan orang-orang menelusuri setiap langkahnya, menguliti keberadaannya.
Ia tak butuh mendengar bisikan mereka untuk tahu. Mereka menyadari bahwa gadis yang datang bukan Claire Cavendish.
Di dalam gereja, cahaya lembut dari kaca patri memantul di lantai marmer, membentuk warna biru dan merah yang menari di dinding batu.
Di ujung lorong, Troy Kingsley menunggu.
Pria itu tampak seperti lukisan yang terlalu hidup. Wajah tampan dengan garis tegas, rambut hitam tersisir rapi, dan mata biru dingin yang menatap lurus ke arah Daisy.
Ia duduk tegap di kursi roda hitam, tangan kanannya bersandar di sandaran lengan, rahangnya mengeras saat menyadari wanita yang melangkah ke arahnya bukanlah Claire.
Tak ada emosi di wajahnya. Tak ada keterkejutan, hanya tatapan tajam yang membuat Daisy ingin bersembunyi di balik tirai sutra.
Sementara itu, kedua orang tua Troy saling berpandangan. Sang ibu menunduk, berusaha menutupi keterkejutannya, sementara ayahnya menghela napas berat tanpa sepatah kata.
Pendeta di depan altar pun tampak kebingungan, namun tidak ada yang berani menghentikan jalannya upacara yang telah dipersiapkan berbulan-bulan.
Musik organ gereja mengalun pelan, lembut tapi suram, seperti doa yang tak diucapkan.
Daisy menggandeng lengan ayahnya, melangkah pelan di antara tatapan ratusan pasang mata. Setiap langkah terasa seperti beban seribu batu yang tak bisa mundur, tak bisa berhenti.
Di bawah langit London yang kelabu, di antara bunga dan doa yang palsu, Daisy Cavendish tahu, ini bukan awal dari kebahagiaan.
Ini awal dari hidup yang bukan miliknya.