First Step

1341 Kata
Lucy berdiri di depan seorang lelaki yang memegang sebuah tas hitam dengan ribuan dollar di dalamnya, sementara Lucy memegang sebuah tas terdapat dua kg opium di dalamnya. Mereka menukar kedua tas itu dan memeriksa barang-barang mereka asli setelah itu segera berbalik meninggalkan tempat. Lucy terkejut saat tiba-tiba anak buahnya melindunginya dari arah belakang segera ia berbalik, pria yang transaksi dengannya mengeluarkan pistol, membidik dirinya. Lucy mengambil pistolnya dan membidik balik, baku tembak terjadi tidak cukup lama. Lawan berhasil dijatuhkan hanya dalam dua puluh menit. Lucy kembali ke rumahnya secepat kilat untuk bersiap-siap pergi ke Roma besok. Drrt... drrt... Ponselnya berbunyi, menampilkan nama Malvin di layarnya. "Hallo?" "..." "Hans pergi ke Verona? Untuk apa?" "..." Lucy mendecak, ia mematikan sambungan sepihak. Wanita itu mengepak barang pribadinya ke dalam koper, saat itu juga terdengar suara ketukan pintu. Lucy tahu benar itu pasti Jimmy. "Masuk," "Nona, semua sudah siap." Jimmy berucap sambil menunduk hormat pada nonanya sementara Lucy tidak menatapnya dan mengisyaratkan untuk segera pergi. Lucy melangkah ke ruangan di mana tempat yang diklaimnya sebagai kamar kedua anaknya. Senyumnya mengembang melihat kedua anak kembarnya tertidur pulas, Lucy menggendongnya untuk membawanya ke atas queen size kamarnya. Wanita itu benar-benar merindukan tidur dengan putra-putrinya. Sedangkan bagaimana dengan Hans? Bagaimana perasaannya jika tahu bahwa istri dan anaknya menghindarinya? Entah seberapa menderita dirinya. Lucy mengelus-elus kedua pucuk kepala anaknya sembari mengulum senyum bahagia, begitu tampan dan cantik lekukan wajah mereka terwarisi dari dirinya bersama suaminya. Namun, senyumnya hilang tanpa meninggalkan jejak, senyum itu musnah akibat sebuah pikiran buruk tentang suaminya. Setelah cukup lama berdebat dengan pikirannya sendiri, ia terlelap dalam kesunyian dan ketenangan suasana malam. Suara grusak-grusuk mengganggu Lucy dari tidur, sedikit demi sedikit cahaya memaksa masuk dari kelopak matanya, akhirnya ia menyerah untuk membuka mata. Menatap pemandangan pagi yang sangat menenangkan hati, di mana kedua anaknya memeluk dirinya sambil bermain-main dengan jubah tidurnya. "Morning sweet hearts!" Sapa Lucy dengan penuh kasih sayang sembari mencium kedua anaknya bergantian. Setelah ketiganya bermain cukup lama, akhirnya Lucy memanggil Sherly untuk membersihkan kedua anaknya. Lucy masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh tubuhnya hingga selesai, ia keluar hanya mengenakan baju handuk yang rambutnya dibiarkan menetes ke lantai. Di sana sudah ada Jimmy membuatkan kopi panas dan membawakan bajunya. Wanita itu mengambil cangkir berisi cairan berwarna gelap untuk menenggaknya. "Jadwalku?" Tanya Lucy duduk di atas queen size-nya. Jimmy memberikan sebuah lembaran yang tertera jadwalnya. Lucy kembali memberikannya pada Jimmy dan mengodekannya untuk segera keluar. Wanita itu memakai bajunya dan sarapan bersama anak buah alias keluarganya. Ya, beginilah kehidupannya yang baru. Mafia yang menjunjung tinggi solidaritas. Di sisi lain, Malvin mengacak-acak kamarnya, ia kesal sebab rencananya gagal. Lucy sama sekali tidak mencintainya, ini tidak ada perubahan untuknya yang berbeda adalah wanita itu membenci Hans. Apa mungkin aku harus membuatnya semakin membenci Hans? Malvin mengepalkan tangannya, ia berpikir keras apa yang akan ia lakukan setelah ini, ia tidak terima jika ia kalah untuk yang kesekian kalinya. Malvin terus berpikir sambil memukul dinding tak bersalah sebagai pelampiasan emosinya yang tak redup-redup. Otak cerdasnya mendapatkan sebuah ide licik yang membuatnya menyeringai tipis. "Kita mulai dengan perlahan-lahan." Gumamnya kemudian memukul dinding untuk yang terakhir kali. Kini kakinya melangkah ke arah pintu utama untuk mengendarai mobil mewahnya menuju sebuah toko bunga. Matanya menjelajah tatapannya beralih pada bunga Lily of The Valley yang indah, ia memesan bunga itu yang dicampur dengan bunga Lisianthus dan Hydrangea. Gadis itu mengangguk dan segera membuatkan bucket bunga yang sangat cantik dengan wajahnya yang berkilau, seperti ia sangat mencintai bunga itu. Tatapan Malvin jatuh pada kakinya yang terbalut. "Ada apa dengan kakimu?" Tanya Malvin. Meskipun ia tidak pernah basa-basi tapi kali ini ia seperti sedikit peduli dengan kaki mulus seperti manekin itu. Gadis itu menggeleng dengan senyuman manisnya. "Saat aku pergi ke sini, seseorang menabrakku." Malvin melihat nametag yang tertulis di sana, Claire Hunt. "Wajahmu terlihat berkilau saat menatap bunga itu?" Claire terkekeh pelan, "Aku sangat menyukai bunga dan bunga yang tuan pesan bernama Lily of The Valley, tahukah tuan jika bunga ini memiliki nama lain Our Lady's Tears? Dan tahukah tuan jika bunga ini berbahaya dan beracun?" Malvin mengkerutkan keningnya, "Apa?!" "Tenang, saya telah mengamankannya." Senyum Claire dan memberikan bucket bunga manis itu pada Malvin. Malvin langsung mengambilnya dan membayarnya, entah kenapa perkataan gadis itu membuatnya gelisah. Kata racun itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Sampainya ia di kediaman Lizy Ghustavno alias Lucy, wanita itu tengah mengepak tasnya ke dalam mobil. Malvin tersenyum dengan tampannya dan memberikan bunga itu pada Lucy, wanita itu tidak meliriknya ia sibuk menelepon dan berjalan mondar-mandir. Malvin memutar kedua bola matanya dan menaruh bucket bunga itu di dalam mobil Lucy. Setelah selesai dengan telepon itu, ia beralih dengan ketus. "Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Lucy malas. "Aku hanya ingin mengucapkan 'hati-hati di jalan' itu saja." Lucy memutar kedua bola matanya dan masuk ke dalam mobil, saat itu juga Jimmy datang dan mengemudikan mobil sekali lagi Malvin berdecak kesal. Apapun usahanya hanya dianggap angin oleh wanita itu. Perasaan wanita itu benar-benar dingin, dialah yang membuatnya menjadi seperti ini. Dialah yang merusak kehidupan wanita itu, ia sadar itu. Tapi, ia tidak akan pernah menyerah dan menyesalinya karena menurutnya manusia memang pada umumnya akan membuat kesalahan. Meski manusia sering kali berbuat kesalahan bedanya dengan orang jahat adalah orang jahat melakukannya dengan sengaja dan tidak peduli.Malvin menghela napasnya gusar, ia segera pergi ke kantornya. ★ Hans menatap indahnya pemandangan dunia dari kaca pesawat tapi tatapannya masih datar seperti biasa. Jika aku menemukanmu, Lucy, aku akan mengajakmu berkeliling dunia... Ken memberikan berkas berisi tentang pencarian Lucy pekan ini, Hans membukanya dan berkas itu masih sama, tidak ada artinya, tidak ada tanda-tanda. Ia hampir menyerah empat bulan lalu tapi dirinya selalu menyemangati dan berusaha berpikir optimis. "Tentang Nona Ghustavno, ia baru saja berangkat menuju Roma." "Kita lihat apa yang akan dilakukannya." Pria itu menajamkan tatapannya. Beberapa saat setelahnya, mereka sampai di salah satu hotel Verona. Hans melepas jasnya asal, mengambil handuk, beberapa pakaiannya dan kembali keluar kamar hotel. "Kau mau ke mana? Kamar mandinya di sini." Tanya Ken heran. Pria itu tidak menjawabnya melangkah tanpa mempedulikan sahabatnya yang bingung, Ken tidak percaya pada pikirannya sendiri, ia menduga Hans akan mandi di kolam renang yang banyak orangnya? Ken berusaha menepis pikiran itu jauh-jauh, mustahil Hans melakukan itu. Jika mereka berenangpun mereka akan memilih tempat yang VIP. Hans menekan tombol lift menuju kolam renang sembari memainkan ponselnya. Ting! Lift terbuka, ia kembali memasukan ponselnya ke dalam celana tapi sebelum itu ia tidak lupa untuk menaruhnya ke dalam sebuah pocket terlebih dahulu. Hans melempar tasnya, melepas kemeja serta celana bahan, dan segera menceburkan diri ke dalam kolam, berenang dengan indahnya membuat semua pasang mata beralih padanya. Pemilik hotel itu pun tidak percaya bahwa Hans yang salah satu orang terkaya di dunia berada di hotelnya. Tanpa mempedulikan bisikan-bisikan orang, ia terus berenang hingga tatapannya beralih pada seseorang yang dikenalinya. "Mr. Hans Stone!" Panggilnya dengan suara anggun serta senyuman manis yang ia punya. Hans menatapnya dengan tatapan dingin seperti biasa, wanita itu duduk di tepi kolam memasukan kakinya ke dalam kolam dengan lancang, ia tahu benar kakinya bersampingan dengan Hans. "Ada keperluan apa ke Verona?" Tanyanya dengan senyum formal. "Bukankah aku yang seharusnya bertanya padamu?" Ucap Hans kembali berenang. Lucy tersenyum, "Aku dengar dari Frank bahwa kau kemari tapi alasanku sebenarnya adalah aku ingin menjalani kerja sama dengan pemilik hotel ini, apa kau juga begitu?" "Kau punya hubungan apa dengannya?" Tanya Hans duduk di samping wanita itu. Lucy berdiri dengan pakaiannya yang masih rapi sepertinya sehabis ia sampai di bandara ia langsung kemari, "Tidak ada, aku hanya bilang padanya kalau aku ingin membicarakan kontrak kerja sama." Wanita itu tersenyum. "Pukul 08.00PM di kamar 106." Wanita itu melenggang dengan anggun menuju kamarnya, Hans menyeringai tipis, mengambil handuknya dan mengganti pakaiannya setelah itu ke kamarnya. Ken dibuat terperangah olehnya, pria itu terkaget-kaget melihat sahabatnya melakukan hal yang tidak pernah mereka berdua lakukan sebelumnya. "K-kau-" Ken tergagap dan belum sempat menyelesaikan perkataannya tapi sudah dipotong. "Pukul 08.00PM di kamar 106." Ken terlihat bingung, "Tapi pada jam 07.00PM kita-" "Cancel, wanita itu di sini." Disertai seringai khas Hans membuat atmosfer menjadi sesak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN