Begin

1114 Kata
Lucy membuka berkas-berkasnya di dalam mobil dan mendapatkan satu buah map yang ia cari dari tadi. Wanita cantik itu melangkahkan heels hitamnya dengan anggun di atas keramik gedung mewah, menuju ruangan sang penanam saham terbesar sekaligus direktur utama yang ada di perusahaan itu. Tok... Tok... Tok... Wanita itu menunggu dengan aura anggun yang terpancar kuat, detik selanjutnya pintu terbuka yang dibukakan oleh tangan kanan si pemilik saham terbesar sepertinya mereka sedang berbicara berdua. Tangan kanannya langsung mempersilahkan dan pamit. Lucy melangkahkan kakinya dengan anggun dan duduk posisi yang tegap juga santai. Wanita itu memberikan pena serta sebuah map padanya. "Sesuai dengan apa yang Mr. Stone ucapkan bahwa anda menyetujui kerja sama," Lucy berbasa-basi seperti pekerjaan pada umumnya, "anda dapat menandatanganinya di sini." Hans tidak langsung menandatanganinya meskipun ratusan pekerjaan menumpuk di mejanya ia menimbang-nimbang dan membacanya dengan seksama, ia sangat hati-hati juga teliti. Setelah selesai menandatanganinya tatapan dingin itu kini beralih pada sosok wanita cantik yang ada di hadapannya. "Segera tentukan rapat rutin, kau bisa diskusikan dengan Ken karena aku akan pergi ke Italia." Lucy menunjukkan ekspresi terkejutnya, "Benarkah? Suatu kebetulan sekali, saya akan pergi ke Roma besok lusa." Hans hanya mengacuhkannya kembali fokus pada lembaran penting di depannya, "Kau mengikuti pesta ulang tahun Alfio Orlando?" Lucy mengangguk pelan dengan senyum anggunnya, "Saya tidak menyangka anda akan hadir ke sana." Pria itu kembali menaruh dokumen yang ia pegang dan menatap lawan bicaranya, "Aku tidak bilang begitu," "Lalu?" "Urusan bisnis," jawab Hans memberikan surat kontrak itu pada Lucy. Lucy terlihat sedikit bingung bercampur sedikit kesal namun ia memaksakan senyum dewasa menghiasi wajahnya, ia mengambil berkas itu dan permisi bersama tangan kanannya. Ken menatap kepergian wanita itu dan langsung duduk di hadapan Hans. "Ada yang salah dengannya," ucap Ken melipat kedua tangannya di depan d**a. "Benar-benar mencurigakan." Hans menajamkan pengelihatannya, "Segera cari tahu lebih banyak tentangnya." Ken mengangguk dan mengambil beberapa berkas dari ruangannya untuk diberikan pada tuannya, berkas yang diperintahkan Hans padanya untuk mencari tahu informasi tentang wanita itu. Hans langsung membukanya tanpa basa-basi. Anak yang tinggal di penampungan anak yatim kemudian diasuh oleh Gracella Ghustavno? "Cari tahu tentang Gracella Ghustavno." Perintah Hans meletakkan berkas itu di dalam lacinya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ken mengangguk dan segera pergi untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Di lain sisi, Lucy melangkah ke mobil dengan perasaan dongkol, di dalamnya ada Leon tepat di pengemudi menatapnya dengan penuh tanda tanya. Mengapa wanita itu marah? Apa rencananya gagal? "Ada ap-" belum sempat Leon selesai dengan ucapannya, Lucy sudah menyambarnya. "Bagaimana bisa Malvin mendapatkan informasi yang salah?! Cepat ke tempat Malvin!" Leon hanya menggelengkan kepalanya heran dan melaju. Lima menit di tengah perjalanan membuat wanita itu terus mengomel tidak jelas sementara Leon dibuat pusing karenanya hingga konsentrasi Leon teralih, nyaris seorang gadis ditabrak oleh mereka. "Astaga, Leon!" Pekik Lucy. Leon segera keluar dari mobilnya dan menghampiri gadis yang tengah memegangi kakinya yang berdarah, meringis kesakitan. "Maaf, apa kau baik-baik saja?" Tanya Leon kemudian menatap kaki gadis itu, "Akan kuantar ke rumah sakit." Leon segera menggendongnya dengan bridal, meletakkannya pada bagian kursi penumpang belakang. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Lucy. "Maafkan kami!" "Bukan kami, tapi kau." Ucap Leon menyetir dengan tatapan masih santai ke jalan. "Apa?! Aku?!" Lucy menatap Leon dengan kesal. "Kau mamaki-maki sedari tadi itu membuatku kehilangan konsentrasi." Kesal Leon dengan nada yang sedikit tinggi. "Jadi itu salahku?!" Tanya Lucy tak kalah nyaring. "Tentu saja!" "Itu salahmu karena tidak konsentrasi! Atau mungkin kau tidak terlalu bisa mengendarai mobil?!" Lucy memutar kedua bola matanya. Leon menatapnya dengan tajam, "Apa kau bilang? Aku yang mengajarimu cara mengendarai mobil!" "Ya! Cara mengajarmu pun payah!" "Apa?!" "Cukup!" Teriak gadis itu, "Bisa kalian tenang? Tidak bisakah kalian baca situasi?" Keduanya terdiam, Lucy melipat kedua tangannya di depan d**a sementara Leon kembali fokus menyetir. ★ Hans menatap tiap lembaran yang ada di hadapannya, kembali mengusap wajahnya dan mengambil ponsel di mana terdapat foto Wanita Asia tersenyum manis bersamanya. Sudut bibirnya sedikit naik, merindukan saat-saat berharga yang mereka habiskan untuk bersama. Entah apa yang dipikirkannya saat itu membuatnya tidak mengetahui ketukan pintu di ruangannya. Setelah ia sadar dari lamunannya, ia pun mempersilahkan Ken masuk dengan berkas-berkas yang terdapat di tangan Ken. Gracella Ghustavno seorang Godmother (mafia) yang tertangkap tiga tahun lalu dan dihukum mati. Anak angkatnya yang bernama Lizy Ghustavno dinyatakan hilang dan kembali sebagai seorang wanita yang sukses? Itulah yang dapat Hans simpulkan dari berkas tebal yang ada di tangannya, kini tangannya beralih pada berkas bertulis Lizy Ghustavno. Lizy Ghustavno seorang wanita Amerika-Malaysia, dibuang saat berusia dua minggu tepat di panti asuhan. Setelah usianya menginjak delapan tahun ia diasuh bersama kedua temannya di panti bernama, Bella dan Angela yang kini sudah tiada? Hans menatap Ken, "Kau boleh pergi." ★ Lucy menghela napasnya lega sebab gadis yang mereka tabrak tidak terluka parah hanya luka ringan saja sementara Leon acuh, tidak peduli. Wanita itu menggeram kesal, ia menendang kaki sahabatnya yang segera menatapnya dengan mata yang tajam. "Maafkan kami, apa kau perlu sesuatu?" Tawar Lucy yang sedikit gelisah, ia memang ingin pergi menemui Malvin sekarang juga. Gadis itu menggeleng sambil tersenyum. "Tidak ada, terima kasih sudah mengantarku." Lucy ikut tersenyum anggun, ia memberikan kartu namanya. "Kau bisa menghubungiku jika butuh bantuan," wanita itu melangkah menuju pintu keluar meski tatapannya masih pada gadis itu, "Maaf, tapi kami harus pergi, bye!" Leon mengekor di belakang Lucy sementara gadis itu melongo kemudian tersenyum tipis menatap kartu nama yang ada di tangannya. Lizy Ghustavno... Kini Lucy yang menyetir, ia sebal sebab Leon menjadi badmood entah kenapa mereka menjadi sensitif pada hal-hal kecil. Leon mengutak-atik ponselnya tanpa melirik Lucy sekalipun begitu juga Lucy, ia sibuk menyetir sambil berdebat dengan pikiran yang menghantuinya. Beberapa menit berlalu, sampailah mereka di sebuah bangunan rumah mewah yang ditempati oleh Malvin. Tanpa menunggu persetujuan dari Malvin, pelayan yang ada langsung membukakan pintu untuk wanita cantik semampai itu. Namun, dengan buruknya wanita cantik itu malah berjalan kesal memasuki rumah dan mendobrak pintu. Tatapannya terkejut melihat Tiffany mengobrol bersama Malvin, kini wanita itu langsung pergi. Lucy kembali menatap Malvin. "Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Lucy. Malvin menatap jendela. "Wawancara untukmu." Lucy duduk. "Apa yang ia rencanakan?" Malvin menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Mereka akan segera bertunangan." Lucy mengetuk kepalanya di dalam pikirannya, ia baru teringat apa tujuannya kemari. Wanita itu memukul meja. "Hans tidak ke acara ulang tahun Alfio Orlando!" Kesal Lucy, rencana selanjutnya bisa gagal. "Lalu?" Tanya Malvin bingung. "Dia ada urusan bisnis!" Lucy kembali menyenderkan punggungnya di senderan kursi. Malvin melepas kacamatanya, melapnya, dan kembali memakainya untuk menjernihkan kacamata serta pikirannya. Malvin sedikit berpikir. "Memang ada perasaan yang ganjal jika ia pergi ke acara tidak penting, ia hanya datang saat benar-benar penting. Akan kuselidiki lagi." "Berkerjalah dengan benar!" Omel Lucy sebelum benar-benar keluar dari ruangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN