Kerinduan

2124 Kata

Memang hari-hari Marsha tidak benar-benar ia jalani sendiri. Ke mana pun ia pergi, selalu ada setidaknya satu orang yang memastikan ia sampai dan pulang dengan aman. Ibu Rindiani nyaris tidak pernah lupa mengingatkan, dengan nada lembut namun tak bisa dibantah, agar Marsha selalu diantar sopir. Bahkan ke café dan kantor redaksi tempat Marsha merasa paling aman itu tetap berlaku, harus diantar pagi, dijemput sore. “Mbak, tuh di lobi udah ada sopir biasa yang jemput Mbak,” ucap Raffi sambil mengangkat dagu ke arah pintu kaca, ketika sore merambat masuk ke ruang redaksi. “Pulang sana, kan tugasnya udah beres. Marsha mengangguk, merapikan tasnya. “Iya. Makasih ya, Raff.” Sebelum benar-benar pulang, ia mencari Septi. “Si septi dimana, Raff?” “Coba cari dibelakang deh, Mbak, tadi dia jalan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN