Sepulang dari rumah Ibu Rindiani, Kalandra menyadari satu hal yaitu Marsha lebih banyak diam. Bukan diam yang dingin, bukan pula diam yang menolak lebih seperti laut yang tiba-tiba tenang setelah riak panjang. Kalandra membiarkannya. Ia menyetir tanpa banyak bicara, sesekali melirik ke samping, memastikan Marsha baik-baik saja. Namun perempuan itu hanya menatap ke depan, tangannya terlipat di pangkuan, pikirannya entah berlayar ke mana. Begitu mobil berhenti di parkiran, Marsha bahkan turun lebih dulu. Langkahnya cepat, seolah ingin mendahului jarak. “Kenapa itu bocah?” Kalandra terkekeh pelan, mengambil beberapa kantong berisi makanan dan jamu yang diberikan Ibunya, lalu menyusul naik ke penthouse. Ia menyusun semuanya rapi ke dalam kulkas, kebiasaan yang nyaris mekanis sampai matanya

