Pipi yang Panas

2024 Kata

“Banyak banget, Ma,” ucap Marsha sambil melirik dua keranjang anyam di meja dapur, yang satu berlapis kain putih, satunya lagi kain biru tua. Tangannya masih memegang tablet, layar artikelnya menyala dengan paragraf yang belum ia tutup sejak tiba dari redaksi sore tadi. Maisa tidak menoleh. Ia sibuk merapikan kertas minyak, menyelipkan toples kecil berisi kue kering ke sela-sela keranjang. “Sudah lama Mama nggak kirim camilan rumah,” jawabnya pelan. Suaranya lembut, tapi di ujung kalimat ada tarikan napas yang pendek. “Mama rindu melakukan ini. dan sekarang ketambahan sama mertua kamu, akhirnya Mama bisa salurkan hobby. Uhuk! Uhuk!” “Kalau capek jangan dipaksain.” “Mama gak capek kok. Uhuk! Uhuk!” Marsha mendesah. Ia meletakkan tablet ke sofa ruang keluarga, berdiri di ambang dapur. “M

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN