Untuk Bumi Pertiwi

2577 Kata

Napas Marsha tidak teratur. Ia duduk tegak di sofa ruang keluarga yang tertutup rapat, jendela-jendela telah ditarik tirainya. Hujan sore mengetuk kaca pelan, ritmis, seperti hitungan waktu yang menekan. Di seberangnya, Ayah mertuanya duduk dengan kedua telapak tangan saling mengunci, punggungnya lurus, wajahnya tenang dengan cara yang membuat d**a Marsha makin sesak. “Ayah….” Ibu Rindiani masuk membawa nampan kecil. Secangkir teh hangat ia sodorkan ke tangan Marsha. “Minum dulu, Nak,” ucapnya lembut. Marsha menggeleng. Rahangnya mengeras. “Ayah,” katanya, suara bergetar tapi tajam. “Jelaskan apa yang dimaksud Gabriel. Kenapa Mas Kalandra ada di rumah tahanan? Apa yang terjadi? Pengadilan militer? Apa yang dia lakukan, Ayah?” “Kalandra,” ucapnya perlahan, memilih diksi dengan hati-hat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN