Talita tersenyum, semakin dekat hingga nyaris menyentuh bahunya. "Aku tahu kamu nggak takut. Tapi kamu peduli. Itu masalahmu. Kamu masih peduli pada reputasimu, pada keluargamu, bahkan... pada Lyora." Ia menyebut nama itu dengan sengaja, seperti memanaskan bara api yang tersisa di hati Fabian. Tatapan Fabian menggelap. "Jangan bawa-bawa dia lagi." Talita memiringkan kepala. "Kau yang membawanya, Fab. Di setiap gerak gerikmu, di setiap kata makianmu, aku bisa lihat... kamu belum selesai dengannya. Tapi sayangnya, dia sudah selesai denganmu." Talita lalu memutar tubuhnya, melangkah kembali ke sofa dengan anggun. Ia tahu kapan harus berhenti menekan. Ia tahu kapan harus menggoda dan kapan harus menarik diri, seperti permainan tarik-ulur yang ia kuasai betul. Ini bukan sekadar tentang balas