Enam minggu kemudian. “Sudah, bee?” tanyaku begitu ia dan terapis yang bolak-balik ke kediaman kami selama enam minggu terakhir meninggalkan ruang latihan. “Sudah.” “Terakhir nih, Neng Zia,” ujar Kang Hilal, sang terapis. “Sudah oke banget belum, Kang?” “Sudah, inshaaAllah. Kontrol ke dr. Erlan kapan?” “Minggu depan, Kang.” Suamiku yang menjawab. “Mudah-mudahan ngga tersisa penyakit apa pun ya, Dokter Hujan?” “Aamiin,” tanggapku dan Rain serentak. “Ya sudah, abdi balik nyak?” “Ka mana, Kang?” tanya Rain lagi. “Pulang atuh.” “Hatur nuhun ya Kang?” “Sami-sami.” Masih pukul delapan pagi saat aku menatap penunjuk waktu di ruang tengah. Sementara kedua tanganku sibuk merapihkan beberapa dokumen cetak dan jurnal kerja di atas meja. Terapi fisik suamiku memang dimulai sejak sehabis