079:RAIN-KE-HUJAN-AN

1744 Kata

“Hati-hati, A,” ujar Papi. Gue bergerak perlahan, duduk di kursi lesehan tepat di samping Zia. Mas Rio masih membantu supaya gue ngga ujug-ujug terjerembab. Istri gue langsung mengusap kening ini, menyingkirkan keringat yang muncul sebagai hasil kerja keras gue berjalan dari kamar ke deck. “Satu sampai lima saat narik napas?” “Tiga, Pi.” “Mau lepas oksigen?” “Jangan dulu, Pi.” Papi mengangguk, Mas Rio beringsut dan duduk di samping Teteh. Gue yang minta kami dinner di sini, bosan banget soalnya dari siang tadi ngga keluar-keluar kamar. Teh hangat dan zuppa soup sudah terhidang untuk kami masing-masing, sementara main dish rapih tersaji di tengah meja. “Papito syakit lagi, Ayah,” ujar Razka. “Kacian ya?” “Iya. Razka ngga minta gendong Papito kan?” balas Mas Rio. “Ngga.” “Asky ngg

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN