“Bee, ayo!” Aku membangunkannya, dengan kesal. Perkaranya, makeup-ku tak sebagus sebelumnya. Ya kan yang sebelumnya, hasil karya MUA. Yang sekarang, hasil karyaku sendiri yang tak ahli merias wajah. Rain duduk di tepian ranjang, mengacak-acak surainya. Kedua matanya belum terbuka. “Bee …” rengekku lagi. “Iya, sayang,” balasnya lembut. Ada-ada saja sih ngajak main siang bolong, mana di tengah-tengah acara! “Pengen menghilang rasanya,” lirihku kemudian. “Kenapa?” “Kamu pikir coba kenapa?” “Ngga tau.” Cepat sekali ia menjawab. Malas berpikir sepertinya. Aku menghela napas, keras. “Buruan sana pakai baju.” “Kamu marah?” “Belum.” “Kok bisa?” “Kalau kamu ngga juga ganti baju, aku marah! Di grup sudah rame tuh, kita ngga pepotoan jadinya sama manten,” sambatku dengan acting menangis