“Om Hans?” gumamnya hampir tanpa suara.
Laki-laki itu berdiri dengan buket bunga putih di tangan, wajahnya tegang dan matanya menatap ke arah salah satu pintu kamar, pintu dengan nomor yang sama seperti di ponsel Deliana.
Hans mengangkat tangannya, siap mengetuk pintu kamar hotel itu. Vivian tersentak, sebuah naluri kuat membuatnya berlari tanpa pikir panjang.
“Om!” serunya panik.
Hans menoleh, terkejut melihat Vivian muncul dari arah lift. “Vivian? Kamu ngapain di—”
Vivian langsung meraih tangannya, menggenggam erat seolah hendak menariknya menjauh.
“Om nggak boleh ada di sini,” ucapnya terburu, napasnya memburu. “Aku… aku nggak mau om tersakiti. Tolong, kita pergi dari sini.”
Hans mengerutkan dahi, bingung. “Vivian, tenang dulu. Bicara pelan-pelan. Kenapa kamu ada di sini? Ada apa sebenarnya?”
Vivian membuka mulutnya, tapi kata-katanya tercekat. Bagaimana ia harus menjelaskan pesan-pesan itu? Foto kunci hotel? Transferan besar?
Namun sebelum ia sempat menjawab, pintu kamar terbuka.
Deliana berdiri di sana, mengenakan gaun santai namun elegan, rambut masih sedikit basah seolah baru selesai merapikan diri. Alisnya terangkat tinggi, jelas terkejut melihat keberadaan Vivian.
“Vivian? Kamu ngapain di sini?” tanyanya, tatapan cepatnya mengarah pada Hans. “Apa Hans yang bawa kamu ke sini?”
Hans menggeleng cepat. “Nggak. Aku bahkan baru lihat dia.”
Vivian berdiri membeku, matanya berpindah-pindah antara Hans dan Deliana. Tidak ada wajah bersalah. Tidak ada panik. Semuanya… tampak normal. Seolah tidak pernah ada pesan cinta atau rencana malam bersama.
“A-aku… aku melihat pesan itu… dan…” Vivian menggigit bibirnya, kata-katanya buyar.
Deliana tiba-tiba tertawa kecil. “Astaga, kamu baca pesan di ponselku? Vivian, kamu salah paham.”
Vivian mengerutkan kening, bingung.
Hans masuk lebih dulu ke kamar, dan Vivian bisa melihat isi ruangan yang berisi meja bundar dengan dekorasi bunga dan lilin, wine premium, dan makanan yang sudah ditata rapi. Seperti candle light dinner privat yang romantis.
“Om kamu mengubah lokasinya,” jelas Deliana santai sambil merapikan rambut. “Bukan di restoran, tapi di kamar hotel. Lebih privat dan nggak berisik.”
Vivian merasa kepalanya memanas. Jadi… itu semua salah paham? Transferan? Foto kunci? Ucapan cinta?
Hans mendesah sambil tersenyum kecil. “Lain kali kunci ponselmu, Delia.”
“Ya ya,” jawab Deliana sambil menepuk bahu Vivian. “Kamu kelihatan shock banget. Mau gabung? Kamu bisa jadi saksi pesta ulang tahun pernikahan kami yang ke-10.”
Hans mengangguk. “Itu ide bagus. Ayo, Vivian. Sekalian makan. Kamu pasti belum makan, kan?”
“Nggak… aku—”
Namun tangan Deliana sudah lebih cepat, menariknya masuk melewati ambang pintu kamar mewah itu. Vivian, dengan wajah merah dan hati campur aduk antara malu, lega, dan… bodoh, tidak sempat menolak.
***
Hari Senin tiba, namun bagi Vivian, seluruh tubuhnya masih merasakan malu yang belum hilang sejak Sabtu malam. Setiap kali ia mengingat wajah Hans dan Deliana saat ia menerobos kamar hotel itu dengan keyakinan bahwa ia menyelamatkan pernikahan mereka Vivian ingin menguap dari muka bumi saja.
Di bank, ia duduk di mejanya sambil menunduk, pura-pura sibuk dengan dokumen yang sebenarnya tidak perlu.
“Bodoh… aku benar-benar bodoh,” batinnya berkali-kali mencaci diri sendiri. Apalagi setelah ia tahu Hans dan Deliana tidak pulang sampai Minggu sore. Mereka terlihat begitu bahagia. Sementara Vivian… hanya jadi penonton salah paham.
Saat ia berjalan ke pantry untuk mengambil air, takdir malah mempermainkannya.
Di ujung koridor, Hans muncul dari pintu ruangannya.
Vivian tersentak.
Hans juga tampak kaget melihatnya. “Vivian?”
Refleks, Vivian berbalik, berpura-pura melihat sesuatu di arah lain. “Ah, aku… aku harus ke—”
“Vivian?” panggil Hans lagi, langkahnya makin mendekat.
Vivian makin panik. “Enggak! Aku nggak siap ketemu!” Ia hampir berlari, namun Hans sudah lebih dulu menyentuh lengannya dengan lembut.
“Hei… kenapa kamu kabur setiap lihat Om?” tanyanya bingung, mata hangatnya menatap lekat.
Vivian menutup wajahnya dengan satu tangan, pipinya panas. “Aku… malu, Om…”
“Malu?” Hans mengernyit, makin bingung. “Karena apa?”
Vivian menggigit bibirnya, tidak berani menatap. “Karena kejadian di hotel itu… Aku pikir… aku kira… dan ternyata aku salah paham besar.”
Hans yang semula terlihat bingung, perlahan menurunkan tangannya dari lengan Vivian. Ekspresinya berubah. Ada bayangan lelah di matanya, sesuatu yang belum pernah Vivian lihat sebelumnya.
“Vivian… Apa kamu tahu sesuatu?”
Vivian langsung mengangkat kepala, jantungnya terempas. “Maksud Om apa?”
Tatapan Hans menelusuri wajah keponakannya itu. Ada ketegangan samar yang membuat suasana tiba-tiba terasa dingin.
“Kemarin,” lanjut Hans perlahan, “waktu kamu datang ke hotel… kamu bukan sekadar salah paham, kan?”
Vivian tercekat di tempatnya.
Ia tak menyangka Hans bisa membaca itu.
“A–aku…” Vivian menelan ludah, bibirnya gemetar. “Aku cuma… khawatir. Dan… iya, mungkin aku lihat sesuatu yang nggak seharusnya kulihat. Tapi aku—”
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Hans menghela napas panjang.
“Vivian… kalau kamu memang melihat sesuatu… sebaiknya kamu tetap bersikap nggak tahu apa-apa.”
Vivian membeku di tempat.
“Om…” suaranya tercekat. “Kenapa? Kenapa Om bilang begitu?”
Hans tersenyum kecil senyum yang dipaksakan, yang sangat berbeda dari senyum hangat biasanya.
“Karena ... itu yang terjadi.” Ia menatap jauh, seolah sedang melindungi seseorang.
“Nggak semua hal perlu kamu pahami sekarang,” sambung Hans lembut. “Kadang lebih aman kalau kamu pura-pura nggak melihat apa pun.”
Jantung Vivian terasa jatuh ke perutnya.
Ia ingin berteriak bahwa ia tahu Deliana berselingkuh. Bahwa ia melihat segalanya. Bahwa ia ingin melindungi Hans meski pria itu jelas-jelas tidak ingin melihat kebenaran.
Tapi Hans menatapnya lagi, kali ini dengan lirih yang memohon. “Om cuma minta satu hal… jangan bicara apa pun pada siapa pun. Termasuk pada Deliana.”
Vivian merasa dadanya perih, bukan karena rahasia itu… tapi karena Hans memilih untuk buta. Tapi Vivian tidak bisa menahan dirinya lagi. Kata-kata Hans terasa seperti pisau yang menekan pelan tapi dalam, membuatnya sulit bernapas.
“Aku harus berpura-pura nggak tahu kenapa?” Vivian bersuara serak, matanya memerah. “Kenapa Om harus bersikap biasa aja kalau Om tahu sesuatu? Tante Deliana… dia nggak pantas dapat cinta Om yang sebesar ini.”
Hans tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip luka daripada kebahagiaan. Lalu ia mengangkat tangannya dan mengacak rambut Vivian lembut.
“Kau terlalu peduli padaku,” ucapnya pelan. “Om sangat berterima kasih… sungguh. Tapi masalah ini biarkan orang dewasa yang urus. Kamu fokus kuliah, kerja yang baik. Nggak usah mikirin apa pun tentang Om.”
Ia berbalik, berniat melangkah pergi.
Namun baru dua langkah, suara Vivian memanggilnya gemetar, hampir seperti menangis.
“Om…”
Hans berhenti.
“Kalau… aku bukan cuma peduli?” napasnya tersendat. “Bagaimana kalau aku mau Om pisah dengan Tante Deliana?”
Hans menoleh perlahan, gerakannya kaku, seolah takut mendengar lanjutan kalimat itu.
“Kenapa?” tanyanya bingung.
Vivian menatapnya, suaranya pecah. “Karena aku… menyukai Om.”