Patah yang Tidak Seharusnya

1157 Kata
Waktu seakan berhenti. Hans terpaku. Tatapannya kosong, membentur dinding yang baru saja runtuh di antara mereka. Raut wajahnya berubah kaget, tidak percaya, terluka, dan takut … semua bercampur menjadi satu. “Vivian ….” Hans berbisik, seakan nama itu terasa berat di lidahnya. “…jangan bilang hal seperti itu.” Vivian menunduk, menggigit bibirnya agar tidak menangis. “Tapi itu yang aku rasakan.” Hans mengembuskan napas panjang, menggenggam kepalanya sendiri seperti seseorang yang baru saja melihat jurang terbuka di bawah kakinya. “Om … nggak boleh dengar hal seperti itu dari kamu,” katanya lirih, suaranya retak. “Kita … nggak bisa seperti itu.” Vivian mengangkat wajahnya lagi, air mata sudah menggenang di pelupuk mata. “Kenapa … nggak boleh, Om?” Suaranya pecah. “Apa perasaanku salah? Kenapa Om bertingkah seperti aku baru melakukan dosa besar?” Hans memejamkan mata, seolah pertanyaan itu menamparnya keras. Ia mengembuskan napas panjang, menahan sesuatu di dalam dadanya. Namun, ketika membuka mata, sorotnya berubah, tajam, penuh tekanan, hampir seperti memaksa dirinya sendiri untuk tegas. “Vivian, sadar!” bentaknya tiba-tiba. Vivian tersentak, langkahnya mundur setengah. Air mata langsung jatuh. Hans melanjutkan, suaranya meninggi, tapi terdengar gemetar, “Kamu masih muda! Kamu keponakanku! Kamu … kamu nggak tahu apa yang kamu katakan!” “Tapi aku tahu apa yang aku rasa,” bisik Vivian, suaranya patah. “Berhenti!” Hans memotongnya keras. Raut wajahnya seperti orang yang sedang terbakar dari dalam antara marah, takut, dan hancur bersamaan. “Jangan pernah bilang hal seperti itu lagi. Jangan ulangi itu. Kita … nggak akan bicara soal ini lagi.” Vivian menatapnya dengan mata basah, dadanya terasa seperti remuk. “Kenapa Om marah … kalau Om nggak peduli?” Suaranya lirih. Hans tidak menjawab. Rahangnya mengeras, matanya menghindar karena jawaban sebenarnya akan menghancurkan semuanya. Ia hanya memalingkan wajah, lalu berjalan cepat menjauh tanpa menoleh lagi. Langkahnya berat, tapi tegas. Vivian berdiri mematung, tubuhnya gemetar. Dan ketika Hans menghilang di balik belokan koridor, air mata Vivian akhirnya pecah tak tertahan, jatuh deras seperti hujan. Ia merasakan hatinya robek … bukan karena penolakan, tapi karena Hans membentaknya seolah perasaannya adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan. *** Vivian menelan sisa isaknya, memaksa dirinya duduk kembali di meja kerja. Dadanya masih terasa sesak, tapi ia menunduk dan mulai mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk, seolah apa yang baru saja terjadi tidak membuatnya nyaris roboh. Rina mendatanginya beberapa menit kemudian dengan setumpuk berkas di tangan. “Vivian, tolong fotokopi semua ini. Dua rangkap. Sekarang.” Vivian mengangguk tanpa suara. “Dan sekalian rapikan arsip di rak belakang. Itu seharusnya kerja OB, tapi dia lagi nggak ada. Kamu kerjain dulu, ya.” Tidak ada protes. Tidak ada keluhan. Tidak ada kekesalan. Hanya sebuah “Iya, Bu,” yang nyaris tak terdengar. Vivian berjalan menuju mesin fotokopi, membawa tumpukan dokumen itu setengah menutupi wajahnya. Ia memasukkan lembar demi lembar ke mesin, menekan tombol, mendengar dengungan mesin yang bekerja … lalu berhenti. Mesinnya macet. Vivian mencoba lagi. Menekan tombol. Membuka penutup. Menutup lagi. Menarik kertas yang tersangkut. Menyalakan ulang. Ternyata mesinnya tidak bergerak juga. Napasnya mulai berat. Ia menekan tombol lebih keras, tapi masih tidak ada respon. “Please … jangan sekarang …,” gumamnya parau. Namun, mesin tetap mati. Vivian mengepalkan tangannya, menahan sesuatu yang sejak pagi ia tekan agar tidak pecah. Ia mencoba menendang mesin itu pelan, hanya untuk melampiaskan frustrasi kecil. Akan tetapi, tendangan itu berubah menjadi kedua, ketiga, keempat, bahkan dengan suara yang semakin keras. “Kenapa sih! Kenapa kamu juga ikut nggak mau jalan!” teriaknya, suaranya pecah. Seluruh staf di ruangan langsung menoleh. Suara mesin ditendang dan dokumen yang terjatuh ke lantai membuat semua orang terdiam. Beberapa orang berdiri, tidak percaya melihat Vivian, si anak magang yang biasanya pendiam mengamuk seperti itu. Rina buru-buru menghampiri. “Vivian! Hei, stop! Kamu ngapain?” Vivian berhenti bukan karena sadar, tapi karena napasnya sudah ngos-ngosan. Kakinya masih gemetar. Dan ketika ia menatap mesin itu, air matanya jatuh begitu saja. “Aku cuma … cuma pengen ini selesai …,” bisiknya dengan suara bergetar. “Kenapa semuanya harus salah … semuanya.” “Vivian, kalau kamu nggak sanggup, bilang! Jangan malah nyalahin mesin, kalau rusak gima—” “Maaf,” potong Vivian cepat, suaranya bergetar. “Aku … aku harus keluar sebentar.” Ia membungkuk mengambil tasnya, tangannya gemetar, lalu melangkah cepat melewati semua orang yang hanya bisa memandanginya dengan tatapan bingung dan kasihan. Tidak ada yang berani menahan. Langkah Vivian cepat, nyaris berlari. Begitu keluar dari ruangan, air matanya langsung melimpah seperti bendungan jebol. Vivian berlari keluar gedung tanpa menoleh lagi. Begitu melihat taksi kosong yang baru saja berhenti menurunkan penumpang, ia langsung mengangkat tangan. Vivian membuka pintu taksi dengan tangan gemetar lalu masuk, menutupnya cepat seolah takut seseorang akan mengejarnya. Taksi itu melaju, meninggalkan gedung bank dan semua rasa sesak yang menumpuk di dalamnya. Vivian menunduk, memeluk tasnya, berusaha meredam isak yang terus keluar tanpa bisa ia kendalikan. Di dalam bank, Hans baru saja keluar dari ruangannya ketika ia melihat Vivian terburu-buru keluar ruangan. Tatapannya langsung mengeras, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang sangat salah. Ia mempercepat langkah, menghampiri meja tempat Rina berdiri dengan wajah gelisah. “Rina,” panggil Hans tegas. “Apa yang terjadi? Kenapa Vivian lari seperti itu?” Rina tersentak, lalu menunduk. “Pak … maaf, saya juga kaget. Tadi saya hanya menyuruh dia memfotokopi dokumen. Tapi mesinnya rusak, dan … dia marah. Menendang mesin itu berkali-kali. Semua orang melihat.” Hans mematung. “Vivian … menendang mesin fotokopi?” ulangnya, seolah sulit mempercayai. Rina mengangguk cepat. “Iya, Pak. Lalu dia langsung keluar begitu saja.” Hans mengusap wajahnya, tampak frustrasi. Ada kekhawatiran … tapi juga rasa bersalah yang tidak ia akui. “Baik,” ucapnya akhirnya dengan nada datar. “Beritahu bagian teknis untuk perbaiki mesinnya. Tolong bereskan semua kekacauan itu.” Rina mengangguk cepat. “Iya, Pak.” Hans menatap pintu keluar. Ada sesuatu di dadanya yang terasa menegang, perang antara kewajiban, batas, dan perasaan yang tidak seharusnya ada. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Vivian?” *** Vivian meminta sopir berhenti di depan perpustakaan kota. Di tangga masuk, ia melihat Rachel berdiri sambil memegang dua cup minuman hangat. Teman itu melambaikan tangan ketika melihat Vivian … tetapi senyumnya memudar begitu melihat wajah Vivian yang sembab. “Vivian?” panggil Rachel pelan. Vivian tidak bisa menjawab. Begitu jarak mereka cukup dekat, ia langsung jatuh ke dalam pelukan Rachel tanpa suara peringatan membuat dua cup di tangan Rachel jatuh begitu saja. Tubuh Vivian bergetar hebat, tangannya mencengkeram punggung Rachel seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri. “Hey … hey … apa yang terjadi?” Rachel membalas pelukan itu, mengusap punggung Vivian lembut. “Vivian, kamu bikin aku kaget. Kamu kenapa? Ada yang nyakitin kamu?” Namun, Vivian tidak bisa menjelaskan apa pun. Isaknya pecah, tersendat, lalu meluncur tanpa bisa dihentikan. Rachel menarik napas panjang, memeluk lebih erat. “Oke … nggak apa-apa. Nangis aja dulu. Aku di sini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN