Berbagi dengan Sahabat

1215 Kata
Vivian mengusap wajahnya dengan tisu terakhir yang diberikan Rachel. Napasnya mulai lebih teratur meski matanya masih sembab dan merah. Mereka duduk di pojok perpustakaan yang paling sepi, tapi ketenangan tempat itu malah membuat suara hati Vivian semakin terdengar jelas. Rachel menatapnya lama, sebelum akhirnya bertanya pelan, “Vivian … kamu udah gila, ya? Kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu ke om kamu sendiri?” Vivian langsung menunduk dalam. “Aku nggak sengaja,” bisiknya. “Rasanya … sesak banget di d**a. Aku cuma … ngomong tanpa mikir.” Rachel memejamkan mata beberapa detik, seperti mencoba memahami betapa rumitnya masalah sahabatnya ini. “Tapi itu … om kamu. Kamu sadar kan, kamu baru saja mengubah seluruh hidupmu dalam satu kalimat?” Vivian mengangguk pelan, bahunya merosot. “Aku tahu ….” Suaranya bergetar. “Tapi waktu itu aku cuma mikir kalau aku nggak ngomong … aku bakal meledak.” “Dan sekarang gimana?” tanya Rachel, suaranya lebih lembut, tapi tetap serius. “Kamu tinggal serumah dengan dia. Kerja di bank dia. Hampir 24 jam, kamu bakal ketemu Om Hans. Kamu mau gimana? pura-pura lupa? pura-pura nggak pernah ngomong kayak gitu?” Vivian menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku … nggak tahu, Rachel. Aku bahkan nggak berani lihat wajahnya sekarang.” “Ya ampun, Vivian ….” Rachel menggeleng pelan, lalu bersandar ke kursi. “Ini semua jadi drama Korea paling ekstrem yang pernah aku dengar. Bahkan penulis naskah pun bakal mikir dua kali.” Vivian nyaris tertawa, tapi yang keluar malah helaan napas berat. Helaan yang terlalu keras hingga beberapa mahasiswa di rak terdekat menolehkan kepala dengan tatapan terganggu. Rachel langsung memaksakan senyum pada mereka sambil membisik keras, “Sorry … temenku lagi patah hati tingkat dewa.” Beberapa orang kembali membaca, tapi Vivian hanya semakin menunduk malu. Rachel lalu berdiri dan meraih tasnya. “Oke … kita pergi dari sini.” Vivian menatapnya bingung. “Ke mana?” “Restoran,” jawab Rachel mantap. “Aku lapar banget, dan kamu butuh makan biar bisa mikir. Dan tempat ini terlalu sunyi buat orang dengan masalah sebesar kamu.” Vivian ragu bangkit. “Tapi … aku malu banget, Rachel. Tadi aku nangis keras banget ….” “Justru itu,” Rachel menarik tangannya. “Ayo. Kamu butuh tempat yang rame biar nggak tenggelam sama pikiran sendiri. Lagi pula ….” Ia menatap Vivian dari atas sampai bawah. “Kamu kelihatan kayak habis patah hati, dihajar realita, dan dicampur stres tugas kuliah. Kita butuh makanan manis.” Vivian mengusap hidungnya yang memerah. “Aku … kayaknya nggak punya mood makan.” Rachel mencubit pipinya pelan. “Makanya aku bilang pindah tempat. Kamu nggak akan sembuh kalau cuma duduk di sini dan mikir soal Om Hans.” Vivian terdiam. Nama itu masih menusuk, tapi ia mengikuti langkah Rachel perlahan menuju pintu keluar perpustakaan. *** Aroma rempah dan kuah pedas memenuhi udara di restoran China kecil itu. Lampion merah menggantung rendah, memberikan cahaya hangat yang menenangkan. Vivian dan Rachel duduk di meja dekat jendela, masing-masing memegang sumpit dengan wajah yang sudah memerah bahkan sebelum ramen pedas mereka habis. “Rachel … kau benar-benar gila,” ujar Vivian sambil terbatuk kecil, matanya berair karena pedas. “Kenapa kita mesen level paling ekstrem? Ini bibirku kayak kebakar.” Rachel ikut terbatuk, tapi tetap tertawa di antara rasa pedas yang menyengat. “Karena, Vivian, mie pedas adalah obat dari semua jenis patah hati. Mau patah hati karena cowok, karena nilai kuliah, atau karena … Om sendiri.” Kalimat terakhir membuat Rachel memicingkan mata penuh makna. Vivian mencelupkan sumpit ke dalam mangkuknya lagi, meski wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. “Jangan sebut-sebut itu dulu, Rachel … Aku lagi mau lupa sebentar.” Rachel meniup mie di sumpitnya sebelum memasukkannya ke mulut. “Justru itu. Mie pedas ini akan membakar semua rasa galau di otakmu. Percaya, deh. Nanti yang kamu ingat cuma: pedas … pedas … dan lebih pedas.” Vivian tertawa di antara air mata pedasnya. “Kau tahu, aku benci kalau kau benar.” Rachel menunjuknya dengan sumpit. “Aku selalu benar. Apalagi soal kamu, Vivian.” Vivian menatap mangkuknya lagi, bibirnya bergetar sebentar sebelum akhirnya berkata, “Terima kasih, Rachel … Kalau bukan karena kamu, aku mungkin masih nangis di perpustakaan.” Rachel tersenyum lembut. “Nah, itu dia. Lihat? Setidaknya kamu sudah bisa ketawa sekarang.” Vivian mengusap sudut matanya. “Walaupun karena pedas.” “Kombinasi yang bagus,” sela Rachel cepat. “Nangis karena pedas itu jauh lebih sehat daripada nangis karena Om sendiri yang nggak boleh kamu suka.” Vivian menghembuskan napas panjang. “Aku tahu. Aku tahu itu salah. Tapi tadi pagi … waktu dia marah, kayak … seluruh dunia runtuh, Rachel.” Rachel memiringkan kepalanya, menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh simpati. “Vivian, kamu manusia. Kamu punya hati. Hati itu kadang bego. Yang penting sekarang adalah gimana kamu bisa hidup normal lagi tanpa kelihatan kayak mau pingsan setiap lihat Om Hans.” Vivian memonyongkan bibirnya yang kini merah karena pedas. “Aku nggak tahu bisa atau nggak.” “Bisa.” Rachel menelan suapan pedasnya lagi, batuk, lalu menepuk d**a. “Mulai dari hari ini, kamu fokus kerja. Kalau perlu, jangan lihat wajah Om kamu langsung. Liat bayangannya di kaca aja.” Vivian tertawa sampai bahunya naik-turun. “Astaga, Rachel ….” “Tuh, kan?” Rachel tersenyum puas. “Kamu sudah mulai balik lagi jadi Vivian yang aku kenal.” Vivian menggenggam sumpitnya, menatap sahabatnya dengan mata yang lebih tenang. “Serius … terima kasih.” Rachel kemudian menyodorkan tisu. “Sama-sama. Tapi sebelum kamu makin mellow … habisin tuh, ramen. Kita bayar pedas, kita makan pedas.” Vivian mendesah, tapi akhirnya mengangguk. “Oke … demi hati yang sedikit lebih waras.” Telepon Rachel tiba-tiba berdering, suaranya memecah tawa keduanya. Rachel melihat layar, menjawab singkat, lalu setelah beberapa detik ia mengangguk dan menutup teleponnya. Vivian mengerjapkan mata. “Kenapa? Ada apa?” Rachel menaruh ponselnya di meja dan tersenyum lebar. “Vivian … kamu mau pulang sekarang?” Vivian langsung menggeleng cepat, wajahnya menunjukkan penolakan yang sangat jelas. “Nggak mungkin. Aku belum siap ketemu Om Hans … atau Tante Deliana.” Rachel mencondongkan badan, menatap sahabatnya penuh pengertian. “Kalau begitu … pas banget. Baru aja temanku telepon, dia ulang tahun hari ini. Ada pesta kecil di rumahnya.” Vivian berkedip. “Pesta?” “Iya,” jelas Rachel. “Kita bisa kabur dari semua kekacauan hari ini.” Vivian menggigit bibir bawahnya, bimbang. “Tapi … apa aku pantas datang? Aku lagi kacau banget, Rachel.” Rachel langsung memutar mata dramatis. “Vivian, justru itu alasannya! Kamu butuh udara segar. Butuh suasana baru. Butuh ngeliat dunia yang lebih besar dari perasaanmu sendiri.” Vivian menatap mangkuk ramen yang sudah hampir habis, merasakan sisa pedas di bibirnya, lalu mengembuskan napas panjang. Mungkin benar. Mungkin malam ini ia perlu berhenti menjadi gadis yang terus menangisi seseorang yang tidak akan pernah menjadi miliknya. “Ayo!” Rachel berdiri sambil menarik tasnya. “Kita berpesta. Kita tertawa. Kita hidup. Setidaknya untuk malam ini.” Vivian akhirnya tersenyum kecil, mengangguk pelan. “Oke, Rachel. Ayo kita pergi.” Rachel menggenggam tangan Vivian dan mengangkatnya dari kursi. “Good. Karena malam ini … kamu bukan Vivian yang patah hati. Kamu Vivian yang baru.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN