Cari Hiburan

1221 Kata
Lampu-lampu gantung berwarna emas memantulkan cahaya hangat ketika Rachel dan Vivian melangkah masuk ke rumah besar yang sudah disulap menjadi pesta malam yang meriah. Gaun yang baru mereka beli beberapa jam lalu membuat keduanya tampak berbeda. Musik elektronik berdentum pelan, cukup keras untuk membuat lantai bergetar ringan, sementara orang-orang bergerombol sambil membawa gelas cocktail beraneka warna. Bau harum lilac dan citrus dari diffuser menyebar di udara, bercampur dengan aroma manis kue ulang tahun yang belum dipotong. Vivian menatap ke sekeliling dengan takjub. “Rachel … katanya ini pesta kecil? Kenapa meriah seperti ini?” bisiknya sambil memegang ujung gaunnya, agak kikuk melihat betapa glamornya suasana. Rachel mengangkat kedua tangan kecilnya dan menggeleng cepat. “Aku juga nggak tahu. Seharusnya cuma beberapa orang. Mungkin … agak membesar, ya?” Vivian mengerjap, melihat DJ mini di sudut ruangan. “Agak?” Rachel terkekeh dan tanpa ragu meraih tangan Vivian, menyeretnya melewati kerumunan sampai mereka berhenti di depan seorang perempuan berambut pendek warna cokelat tua. Wanita itu langsung memekik senang. “Rachel! Kamu datang!” serunya. “Oh, Anita!” Rachel ikut memekik. “Kamu bilang pesta kecil. Ini … bukan kecil.” Anita, yang rupanya salah satu teman ekstrakurikuler panjat tebing bersama Rachel, langsung menangkupkan kedua tangannya dan memasang wajah bersalah. “Maaf banget! Aku lupa bilang, teman-teman satu fakultasku dengar soal pestanya dan … ya, mereka bilang mau ikut. Tahu-tahu sudah sebanyak ini.” Rachel menepuk dahinya sambil tertawa. “Kamu ini, ya.” Anita kemudian memperhatikan Vivian. “Oh! Ini siapa?” Rachel menoleh. “Ini Vivian, satu jurusan denganku. Vivian, ini Anita. Dia yang suka memaksaku panjat tebing tiap Jumat sore.” Anita tertawa. “Karena Rachel paling jago! Kamu juga suka panjat tebing?” tanyanya pada Vivian. Vivian menggeleng cepat. “Aku … naik tangga saja kadang ngos-ngosan.” Mereka semua tertawa bersamaan, suara tawa ringan yang memecah sesak yang sejak tadi masih menempel di d**a Vivian. Untuk pertama kalinya hari itu, Vivian merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. “Pokoknya malam ini kalian harus bersenang-senang,” ujar Anita sambil menarik dua gelas minuman dari meja panjang. “Ini cocktail buah. Nggak terlalu kuat. Anggap saja penyambutan.” Rachel menerima satu gelas, begitu pula Vivian meski Vivian memegangnya dengan hati-hati, takut menumpahkan. Kerumunan mulai bergerak ke tengah ruangan saat musik berganti menjadi sesuatu yang lebih up-beat. Lampu-lampu kecil berkelap-kelip seolah mengajak semua orang untuk melebur dalam keriangan. Rachel menepuk bahu Vivian. “Ayo. Setidaknya kita coba menikmati malam ini. Kamu butuh ini, Vivian.” Vivian mengangguk. Bibirnya sedikit melengkung, hati yang tadi berat kini mulai terasa lebih ringan. “Terima kasih, Rachel.” Mereka berdua berjalan ke tengah pesta, melebur di antara tawa, musik, dan kerlip lampu. Untuk sesaat Vivian membiarkan dunia di luar menghilang. Waktu berlalu begitu saja, di sudut halaman belakang yang diterangi lampu-lampu taman, Vivian berdiri sendirian di dekat pinggir kolam. Suara pesta di dalam rumah terdengar samar, digantikan hembusan angin malam yang lembut. Ia memegang gelas cocktail buahnya sambil menatap langit, bintang-bintang bertaburan indah, seolah sedang menghiburnya. Ia tidak sadar bahwa sejak beberapa menit lalu, seorang pria memperhatikannya dari kejauhan. Sebastian, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, teman satu fakultas Anita, sekaligus cowok yang terkenal tampan dan digilai banyak perempuan di kampus berdiri bersandar di pagar kayu, memperhatikan Vivian dengan rasa penasaran yang semakin besar. Rambut hitamnya disisir rapi, kemeja hitam slim fit yang ia kenakan membuatnya terlihat semakin mencolok dibanding para tamu lain. “Aku belum pernah lihat dia,” gumamnya pelan, menatap Vivian yang tampak begitu tenang meski sendirian. Setelah mempertimbangkan sebentar, Sebastian akhirnya berjalan mendekat. Langkahnya ringan, tapi percaya diri. Vivian baru menyadarinya saat bayangannya terpantul di permukaan kolam. “Boleh duduk di sini?” tanya Sebastian sambil memberi isyarat ke kursi kosong di sebelahnya. Vivian menoleh cepat, sedikit terkejut melihat pria setampan itu berdiri satu langkah darinya. “Oh … tentu. Silakan.” Sebastian duduk, menyandarkan tubuhnya santai. “Aku Sebastian. Temannya Anita. Kamu temannya Rachel, kan?” Vivian tersenyum singkat. “Iya. Aku Vivian.” “Vivian,” ulang Sebastian pelan, seolah sedang mencicipi nama itu. “Nama yang cantik.” Vivian menunduk, pipinya memerah sedikit. “Terima kasih.” Sebastian memperhatikan arah pandangan Vivian yang kembali terangkat ke langit. “Kamu lihat apa? Bintangnya?” Vivian menarik napas pelan. “Iya. Aku cuma … sedang teringat orang tuaku.” Sebastian tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. “Orang tuamu ada di langit? Kok, kamu lihat ke sana?” Vivian langsung terdiam. Senyumnya perlahan memudar. Ia menatap bintang-bintang itu lebih lama dari sebelumnya. “Mungkin,” jawabnya pelan. “Karena mereka sudah meninggal … waktu aku berusia sepuluh tahun.” Sebastian hampir tersedak udara sendiri. “Oh. Astaga. Vivian, maaf … aku nggak bermaksud—” Vivian menggeleng cepat sebelum ia sempat melanjutkan. “Nggak apa-apa. Aku yang salah … harusnya aku nggak bercerita begitu saja ke orang yang baru kukenal.” “Bukan begitu,” ujar Sebastian lembut. “Kamu hanya jujur. Dan aku … canggung sekali jadinya.” Vivian menatapnya, kemudian terkekeh kecil. “Kamu nggak terlihat canggung. Kamu terlihat seperti pemain drama romantis yang sedang meminta maaf.” Sebastian ikut tertawa, suaranya hangat. “Kalau itu membuat kamu tersenyum, aku nggak keberatan terlihat seperti itu.” Hening sejenak. Angin malam menggerakkan rambut Vivian, membuatnya tampak lembut dan rapuh sekaligus. Sebastian memperhatikannya, kali ini lebih lama, ada sesuatu pada Vivian, sesuatu yang tidak dibuat-buat. Sederhana, tetapi menarik. Beda dari banyak perempuan yang biasanya berusaha mati-matian mendapatkan perhatiannya. “Aku senang bisa kenal kamu, Vivian,” katanya pelan. Vivian menatapnya, tersenyum tipis. “Aku juga.” Tiba-tiba, getaran halus terdengar dari tas kecil Vivian. Ia buru-buru merogoh ponselnya dan melihat nama yang muncul di layar. Hans. Wajahnya langsung menegang. Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol end call. Layar kembali gelap, seolah tidak pernah ada panggilan masuk. Sebastian yang duduk di sebelahnya mengerutkan dahi. “Kenapa nggak diangkat?” Vivian tersenyum hambar. “Nggak papa. Orang nggak penting.” Sebastian menaikkan alis, jelas tidak percaya. “Orang nggak penting nggak bakal nelpon jam segini. Dia pasti anggap kamu penting.” Vivian memalingkan wajah, menatap air kolam yang bergoyang pelan. “Kalau dia anggap aku penting … dia nggak akan bikin aku ngerasa sekacau ini.” Sebastian menunduk sedikit, mencoba menangkap ekspresi Vivian. “Kamu kelihatan marah … dan sedih.” Vivian mengembuskan napas panjang. “Bukan cuma marah atau sedih. Aku … nggak percaya. Orang itu begitu dibutakan cinta sampai nggak bisa lihat apa yang ada di depan matanya.” “Cinta bisa begitu,” gumam Sebastian. “Tapi tetap saja, ada batasnya.” Vivian menatapnya, matanya berkilat pilu. “Menurut kamu … apa cinta memang bisa membutakan seseorang total? Sampai dia tahu diselingkuhi, tapi tetap milih diam? Tetap bertahan? Apa itu bukan … bodoh namanya?” Sebastian terdiam. Ia memandang Vivian dengan lebih hati-hati, ada luka yang lebih dalam dari yang ia duga. “Menurut aku,” jawab Sebastian perlahan, “itu bukan bodoh … tapi menyedihkan. Orang yang terlalu cinta kadang rela nyakitin dirinya sendiri.” Vivian tersenyum getir, lebih seperti retakan. “Iya … itu dia. Dia rela nyakitin dirinya sendiri … dan aku cuma bisa lihat tanpa bisa ngapa-ngapain.” Sebastian menatapnya lama, lalu berkata lembut, “Kamu kelihatan peduli sekali sama dia.” Vivian menelan ludah, pundaknya melemah. “Aku berharap … aku bisa nggak peduliin dia.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN